Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 76


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Selesai sudah operasi Mutiara dan Muklis, berjalan dengan lancar, selama satu jam berlangsung.


Sang Dokter bedah beserta Dokter umum yang membantunya, juga para Suster nampak keluar ruangan dengan raut wajah sedikit bersedih.


Mutiara dan Mukhlis dibawa keruang ICU, untuk perawatan pasca operasi yang baru saja mereka jalani.


Dengan terseok-seok kedua keluarga Mutiara dan Mukhlis, menghampiri sang Dokter dengan penuh tanda tanya.


"Bagaimana, Dokter? Apakah operasi anak kami berjalan dengan lancar?" Tanya Mami Safira penasaran yang dianggukkan oleh Dahlan, Angga dan juga Amara.


"Iya, Dokter. Apakah Mukhlis anak kami akan segera sadar? Mukhlis anak kami operasinya berhasil, bukan?" Tanya sang Ayah dari Mukhlis yang dianggukkan oleh sang istri.


"Sebelumnya saya mohon maaf kepada Ibu dan Bapak sekalian, bahwasannya operasi bedah yang saya lakukan kepada mereka adalah berjalan dengan lancar. Namun, ada sesuatu yang terjadi kepada mereka berdua."


"Sesuatu terjadi? Apa maksudnya,, Dokter?" Tanya Safira cemas.


"Iya, Dokter. Apa maksudnya,? Saya tidak begitu faham dan mengerti." Tanya Ibunya Mukhlis khawatir.


"Kondisi kedua pasien mengalami penurunan fungsi organ tubuh, hingga harus dilarikan ke ruang ICU. Jadi, keduanya harus melakukan perawatan disana untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan, bisa jadi setahun atau lebih. Keduanya mengalami koma, saya mohon maaf atas kondisi tersebut."


"A-apa? A-apakah Dokter tidak salah bicara? Mungkin saja Dokter salah diagnosa, coba tolong chek lagi kondisinya, Dok!" Lirih Safira ambruk dipelukkan suaminya Dahlan, karena shock dengan berita yang baru saja didengarnya.


"Mih.. Mamih." Panggil Angga dan Dahlan bergantian dengan menepuk-nepuk pipi dan pundaknya.


Namun, tidak ada reaksi dari Safira dari apa yang dilakukan oleh suami dan anaknya.


"Pih, sepertinya Mami pingsan deh. Angga mau cari minyak angin dulu ya, Pih. Biar Mami lekas bangun dari pingsannya." Ujar Angga meninggalkan mereka ke apotik untuk mencari minyak angin tersebut.


"Tunggu, Mas. Saya ada minyak angin kok, tunggu sebentar saya akan ambilkan." Ucap Suster yang mendengar ucapan Angga.


"Baiklah, Suster. Terima kasih sebelumnya."


Sementara Suster mengambil minyak angin, Safira dibaringkan di ranjang IGD disamping Andi yang masih belum sadarkan diri. Mungkin saja efek bius dan obat, yang digunakan Dokter tadi saat menjahit lukanya.


"Ini, minyak anginnya Mas. Jangan lupa kasih minum air putih, setelah siuman." Ucap Suster itu ramah.


"Baik, Sus. Terima kasih." Ucap Angga ramah dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas." Ucap Suster itu seraya membalas senyuman Angga.


Angga dan Amara dengan telaten menunggu Safira siuman, dengan memberikan minyak angin ke hidung Safira untuk merangsang indra penciumannya.


*******


Sedangkan Papi Dahlan masih membahas masalah Mutiara dengan Dokter, yang sedang mengalami koma di ICU. Papi Dahlan pasrah dengan apa yang baru saja dia dengar, tentang fungsi otak Mutiara yang mengalami geger otak akibat benturan dashboard mobil yang cukup keras.


Air mata Dahlan sudah tidak terbendung lagi, saat harus menerima kenyataan bahwa menantu kesayangannya itu harus mengalami koma di ICU untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Ya Allah, kenapa musibah ini harus dialami oleh menantuku yang begitu baik dan sabar, apa mungkin ini ujian buat kami semua, ya Allah. Hikkz.. hikkz.. hikkz.."


Begitu juga dengan keluarga Mukhlis harus berpasrah dan sabar, merekapun risau dengan semua biaya perawatan ICU yang tidak sedikit jumlahnya setiap harinya.


"Dokter, bagaimana saya akan bayar biaya perawatan anak saya di ruang ICU? Sedangkan biaya operasi saja, Tuan Dahlan yang berbaik hati membantu biayanya." Ujar sang Ayah dari pasien yang bernama Mukhlis tersebut.


Dokterpun nampak menimbang-nimbang pertanyaan dari keluarga Mukhlis, sungguh dirinya begitu iba dengan keluarga Mukhlis, yang mungkin saja beban ekonominya yang hanya pas-pasan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.


"Kami akan beri keringanan biaya untuk anak anda, saudara Mukhlis. Apakah anak anda memiliki kartu kesehatan seperti jamsostek atau jamkesmas dan yang lainnya?"


"Anak kami hanya seorang supir yang bekerja disebuah Pabrik, Dokter. Apa mungkin dia memiliki jaminan kartu yang baru saja Dokter sebutkan?" Tanya sang Ayah dari Mukhlis tersebut, begitu penasaran.


"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan coba tanyakan kepada pihak pimpinan diPabrik tempat anak saya bekerja. Terima kasih, Dokter." Ujar pria paru baya itu lega, menggenggam jemari sang istri.


Dirinya merasa bersyukur, masih ada harapan untuk anaknya dalam mengatasi biaya pengobatan Mukhlis yang sedang di ICU.


"Sama-sama, Bapak yang sabar dan yakin pasti ada solusinya." Ucap Dokter itu tersenyum miris harus melihat keluarga pasien yang begitu kesulitan menghadapi biaya rumah sakit yang cukup mahal.


Sang Dokterpun tidak bisa berbuat banyak, semua biaya adalah sudah ketentuan dari pihak rumah sakit. Seandainya saja dia bisa membantu meringankan beban keluarga Mukhlis, itupun uang dari kantong pribadinya sendiri.


"Saya akan membantu biaya anak Bapak, seandainya anak Bapak tidak mendapat jaminan kesehatan dari Pabrik tempat anak Bapak bekerja." Ujar Tuan Dahlan menimpali obrolan mereka.


"Masya Allah, apa Tuan benar-benar manusia atau malaikat? Mengapa Tuan begitu baik kepada kami?" Tanya Pria itu, lalu diangguki oleh sang istri yang terlihat begitu berbinar, saat mendengar perkataan Tuan Dahlan.


"Saya hanya manusia biasa, Pak. Tapi, saya berusaha tidak akan membiarkan, melihat orang seperti kalian yang sedang merasakan kesulitan." Ujar Dahlan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Terima kasih, Tuan. Saya akan mencoba bertanya ketempat Pabrik anak saya bekerja, jika bisa Alhamdulilah tapi jika tidak bisa, saya baru akan menghubungi Tuan."


"Baiklah, Pak! Semoga kita bisa sama-sama melewati semua cobaan ini bersama-sama."

__ADS_1


"Iya, Tuan. Hikkz.. hikkz.. hikkz.." Pria itupun langsung memeluk Tuan Dahlan dengan haru dan menangis sejadi-jadinya.


*******


"Mih.. Mamih!" Lirih Angga saat melihat Safira mulai membuka matanya.


"Tante sudah siuman?" Tanya Amara ikut bersuara.


"Eeem... ada dimana Mami, sayang?"


"Kita sedang ada diruang IGD, Mih."


"Aawh... pusing!" Pekik Safira merasakan sakit dikepalanya.


"Minum ini dulu, Mih. Agar pusing Mami cepat hilang." Ucap Angga menyodorkan segelas air putih ketangan Safira.


"Terima kasih, sayang." Safirapun lantas menghabiskan segelas air putih itu dengan perlahan.


"Iya, Mih."


Setelah Safira merasakan lebih baik, rasa pusingnya berangsur-angsur menghilang. Diapun mulai menyadari keberadaan Andi sang anak sulung yang sedang berbaring disamping ranjang lainnya.


"A-andi sayang! Apa itu kakakmu, sayang?"


"Iya, Mih."


"Lalu, dimana istrinya?"


"Kakak ipar sedang berada diruangan lain." Angga tidak sanggup mengatakan yang sejujurnya.


"Bagaimana dengan kakak iparmu? Apakah operasinya berjalan lancar? Apakah semua yang dikatakan Dokter tadi, adalah sebuah kesalahan?"


Angga dan Amara hanya menggelengkan kepalanya pelan, air matanya sudah meluncur bebas dikedua pipi mereka. Seakan tidak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya sudah terjadi.


"Hikzz.. hikkzz.. hikzz.."


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2