Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 38


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Siang ini Andi dan Mutiara keluar kamar mereka, seusai menangis berdua dengan penuh haru biru. Namun, terlebih dahulu mereka mencuci muka agar tidak kentara habis menangis didepan orang tua mereka.


Andi dan Mutiara sudah merasa lapar sekalih, mungkin efek dari habis lama menangis. Jadi, tenaga mereka terkuras habis.


Mbo Yuyun, meghampiri mereka yang sedang berjalan ke meja makan berdua.


"Siang Aden dan Nona, kalian mau makan apa? Nanti Mbo Yuyun buatkan."


"Makanan yang tadi pagi Mbo masak saja, masih ada bukan?" Tanya Andi ramah.


"Masih Den, tapi sudah dingin. Tunggu Mbo hangatkan dulu yah Den, Non, palingan sepuluh menitan." Ucap Mbo Yuyun, lalu bergegas kedapur.


"Iya Mbo, kami tunggu, terima kasih." Ucap Andi, lalu menarik bangku untuk istrinya duduk.


"Ayo duduk, sayang." Ucap Andi mempersilahkan istrinya untuk duduk.


"Mas.. enggak usah kayak gini. Malu iich kalau ada yang lihat. Kita bersikap biasa saja, Mas."


"Tidak apa-apa sayang, kalau suamimu sudah cinta sama wanita yang paling disayangi, pasti seperti ini. Kamu jangan kaget nanti, kalau saya sudah benar-benar bucin sama kamu. Jangankan pria yang mendekati kamu, lalat saja yang menempel sama kamu akan habis ditangan saya. He.. he.. he.." Ujar Andi terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Aiish.. lebay, iya kali hanya lalat saja kamu sampai segitunya, Mas." Decak Mutiara menggelengkan kepalanya heran.


"Bercanda sayang, kalau soal lalat. Tapi, kalau soal pria lain tidak ada kata bercanda yah!" Seru Andi memberikan penekanan.


"Iya.. iya.. walaupun adik kamu, Mas?" Tanya Mutiara dengan candaan.


"Huem.. awas saja sampai itu terjadi!" Ancam Andi tidak main-main.


"Hi.. hi.. hi.. bercanda kali Mas, serius amat." Mutiara tertawa kecil, melihat suaminya yang cemburuan. Sedangkan suaminya sudah merasa resah dengan ucapan istrinya.


"Eeehemm... permisi Nona, Aden, ini makanannya sudah Mbo hangatkan. Silahkan dinikmati." Mbo Yuyun berdehem melihat suami istri yang berdebat mesra.


"Iya Mbo.. terima kasih yah." Ucap Andi dan Mutiara bersamaan.


"Iya Den, Non. Mbo senang melihat kalian yang seperti ini, akur dan mesra." Ucap Mbo Yuyun tersenyum bahagia, lalu meninggalkan mereka berdua.


"He.. he.. he.." Andi dan Mutiara terkekeh mendengar ucapan ARTnya itu.


"Sayang makan sepiring berdua yah, kalau masih kurang nanti kita tinggal tambah." Tawar Andi saat dirinya mengambil piring kosong.


"Hueem.. apa engga malu Mas? Kita sedang dirumah Mami loh! Nanti saja di Apartement, kalau mau makan sepiring berdua." Ujar Mutiara merasa tidak enak.

__ADS_1


"Engga apa, sayang. Mami dan Papi itu orangnya enak, malah kesenangan mereka kalau kita itu mesra kayak gini. Cup." Ujar Andi tersenyum seraya menjawil dagu istrinya gemas, lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Aissh.. Mas Andi, nackal iich..." Decak Mutiara mengerucutkan bibirnya sebal.


"He.. he.. he.. ayo kita makan, suamimu ini sudah sangat lapar." Ucap Andi terkekeh.


"Iya Mas." Ucap Mutiara kemudian mengisi piring kosong tadi dengan nasi dan lauk juga sayurnya cukup banyak.


"Segini kira-kira cukup engga, Mas?" Tanya Mutiara menyodorkan piringnya, yang sudah terisi penuh.


"Cukup, sayang." Ucap Andi mengangguk kecil.


Mutiarapun mengambil sendok dan garpu untuk menyuapi suaminya. Akhirnya Mutiara dan Andi saling suap menyuapi dengan saling bergantian, layaknya pengantin baru.


Mami Safira yang melihat mereka begitu mesra saat makan sepiring berdua, bibirnyapun seakan gatal kalau tidak menggodanya.


"Cieeh... mesranya! Kalian baru makan sekarang, sayang? So sweet banget sepiring berdua." Tanya Mami Safira yang melihat mereka begitu mesra.


"Eeh.. Mami, ayo ikut makan." Tawar Andi dan Mutiara bersamaan.


"Engga sayang, Mami sudah kenyang. Sekarang makan yang banyak yah, jangan sampai kalian sakit. Selama tinggal di Apartemet, kalian bagaimana rasanya, makan dan tinggal berdua jauh dari Mami dan Papi?" Tanya Mami Safira perhatian.


"Lebih asik dan mandiri dong Mih, iya 'kan sayang?" Ujar Andi menanggapi, sedangkan istrinya tersenyum ramah.


"Syukurlah.. berarti bisa cepat dapat cucu untuk Mami dong?" Tanya Mami Safira mengulum senyum.


"I.. iya Mih, tapi Mutiara 'kan mau kuliah dulu Mih." Ucap Mutiara gugup.


"Iya juga yah sayang, tapi 'kan masih bisa kuliah meski sudah hamil. Kalau saat melahirkan, nanti kamu bisa cuti kuliah sementara. Jika sudah dirasa kuat, bisa lanjut kuliah lagi." Ujar Mami Safira.


"He.. he.. iya Mih." Ucap Mutiara terkekeh.


"Iya sudah lanjutkan makan siang kalian, Mami jadi lupa mau bikin jus jeruk. Apa kalian mau dibuatkan jus jeruk juga?" Tanya Mami Safira bangkit dari tempat duduknya.


"Boleh Mih, kayaknya enak yang segar-segar." Ucap Andi.


"Okay, menantu Mami juga mau 'kan?" Tanya Mami Safira menawarkan.


"Engga usah Mih, terima kasih." Ucap Mutiara menolak karena merasa tidak enak.


"Iya sudah, Mami kedapur yah." Ucap Mami Safira meninggalkan mereka.


"Sayang.. kamu tidak menyukai jus jeruk, bukan? Padahal segar loh, siang-siang gini minum jus jeruk." Tanya Andi heran.

__ADS_1


"Saya suka Mas, tapi malu kalau sampai Mami yang buatin." Ucap Mutiara polos.


"He.. he.. he.. ternyata istriku masih malu saja. Iya sudah, nanti Mas Andi yang bikinin jus jeruk buat kamu yah, sayang." Kekeh Andi saat tahu istrinya teryata masih malu saja sama Mami Safira.


"Jangan Mas, nanti saja saya bikin sendiri kalau mau." Ucap Mutiara menolak.


"Iya sudah kalau itu yang kamu mau, sayang." Ucap Andi pada akhirnya.


Andi dan Mutiara menyudahi makan siangnya, kemudian Mutiara membereskan sisa makanannya dengan rapih dan membawa piring kotornya, untuk dicuci di wastafel.


Saat Mutiara sedang mencuci piring kotornya, tiba-tiba saja Andi mendekatinya dari belakang.


"Sayang.." Bisik Andi lirih, ditelinga Mutiara dengan melingkarkan lengannya di pinggang rampingnya. Lalu menyangga dagunya di bahu kanan istrinya itu dengan bergelayut manja.


"Aiish.. malu Mas, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Decak Mutiara merasa risih dengan tingkah suaminya yang manja.


"Biarin saja, orang kita sudah suami istri ini, sayang." Ucap Andi kekeh dengan posisi posesifnya.


"T.. tapi Mas, tetap saja ini dirumah Papi dan Mami, terus ada Ibu juga." Ucap Mutiara gugup, jari tangannya berusaha melepaskan lengan suaminya. Namun, tidak berhasil. Andi malah semakin mengeratkan pelukkannya.


"Biarkan sebentar saja, sayang. Suamimu ingin menebus hari-hari kamu saat itu, saat dimana yang membuatmu kesal kepada suami kamu ini." Ucap Andi lirih dengan posisi ternyaman menurutnya.


Mutiarapun seketika membeku saat mendengar kata-kata suaminya, lalu tangannya terulur untuk menyentuh wajah suaminya yang masih menempel dibahunya manja.


"Eehemm.. bucin sih bucin.. tapi lihat tempat juga dooong.. !"


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Autor : Cie.. cie... yang lagi bucin.πŸ€£πŸ€£πŸ™ˆ


Andi : Iya dong Tor. Pasti Otor ngiri tuh.πŸ€­πŸ€­πŸ’ƒ


Autor : Idih.. ngapain juga ngiri sama kebucinan kamu, engga level.. !πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ€§


Andi : Aiish.. suka pura-pura gitu sih Tor.🀣🀣


Autor : Aah.. Mas Andi, kenapa jadi ledekin saya, hueh..! πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈKaboor saja lah.


Andi : Tuh 'kan bisanya kaboor..!🀣🀣


...β™₯️β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...


__ADS_2