Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 83


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Asyafa, Alya dan Damar baru saja tiba diruangan Andi dirawat. Mereka membawakan parsel buah dan makanan untuk menjenguk Andi dirumah sakit.


Ibu Lanjar dan Mami Safira dengan ramah menyambut kedatangan mereka yang merupakan sahabat Andi.


"Nak Asyafa, nak Alya dan nak Damar, kalian apa khabar? Tante senang, kalian masih ingat dan perduli dengan anak Tante." Ujar Safira riang, lalu memeluk mereka dengan sayang. Sedangkan Lanjar hanya tersenyum dan menerima uluran tangan untuk dicium oleh Asyafa, Alya dan Damar.


"Alhamdulliah baik, Tante Safira." Sahut Asyafa yang kemudian diikuti oleh Alya dan Damar.


"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, silahkan kalian ngobrol-ngobrol dulu." Ucap Safira meninggalkan mereka, dengan menggandeng lengan besannya.


"Ayo, Jeng Lanjar." Ajak Safira meninggalkan ruangan Andi.


"Iya, Jeng Safira." Sahut Lanjar mengikuti besannya. Sebenarnya, Lanjar masih shock jika melihat kondisi anaknya Mutiara yang masih terbujur kaku diruang ICU. Tapi, mau bagaimana lagi, yang namanya musibah sudah terjadi, kitapun tidak bisa menghindari lagi.


"Baik, Tante Safira! Terima kasih." Sahut Asyafa dengan mengangguk pelan. Kemudian diikuti oleh Alya dan Damar.


"Hi.. Ndi, Pak Dasen sahabat kita." Sapa Asyafa dan Alya bergantian, sedangkan Damar hanya bertos ria dengan tersenyum.


"Hi.. juga! Silahkan duduk! Kalian tahu dari siapa, jika aku sedang dirawat disini? Aku jadi terharu."


"Dari suamiku, Ndi." Sahut Asyafa jujur, kemudian duduk dikursi samping ranjang. Alya dan Damarpun duduk dibangku sebelah kiri ranjang Andi.


"Ooh.. iya, adikku pasti sudah bicara dengan Rayhan. Terima kasih ya, kalian sudah mau jenguk aku kesini."


"Hiss.. udah kayak sama siapa saja, loe!" Decak Alya mendengus sebal.


"Iya.. nih, Pak Dosen gayaknya pake segala bilang terima kasih. Ini aku taruh diatas nakas saja ya, Ndi." Ujar Asyafa menimpali lalu menaruh parsel yang ada ditangannya. Kemudian Mithapun ikut menaruh parselnya juga di atas nakas.


"He.. he.. he.. aku 'kan bingung mau ngomong apa lagi. Yang jelas aku sangat bahagia dengan kalian yang sudah datang menghiburku, ditengah kegalauan hatiku." Sahut Andi terkekeh dengan ucapan dua sahabat yang dulu pernah mengisi hatinya yang begitu dia sangat cintai, namun takdir berkata lain.

__ADS_1


"Iya, Ndi! Sabar ya, semua ini adalah ujian cintamu. Bagaimana kamu akan bertahan dengan kondisi kamu, untuk setia menjaga istri kamu yang masih koma. Semoga saja, didalam doa-doa orang yang mencintai dan menyayangi istri kamu, ada yang dikabulkan oleh Allah." Tutur Asyafa bijak.


"Aamiin, Sya. Terima kasih, doanya." Ucap Andi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Sama-sama, Ndi." Sahut Asyafa tersenyum sedih. Dirinya juga tidak akan sanggup membayangkan, jika berada diposisi Andi yang seperti ini.


"Aku juga turut berdoa, untuk kesembuhan istri kamu, Ndi. Aku jadi teringat dengan Damar suamiku dulu, saat jatuh koma akibat ditabrak oleh pencopet itu. Benar begitu 'kan, hubby? " Ujar Alya menatap kearah Damar, lalu mengeratkan genggaman jemari tangannya yang saling bertautan.


"Iya.. honey, aku pernah koma juga, ya. Tapi, sempat hilang ingatan dan akhirnya sembuh berkat kamu juga, honey." Ujar Damar ikut menanggapi, lalu mencium kening Alya didepan Asyafa dan Andi.


Sontak saja pipi Alya bersemu merah, tak kuasa menahan malu didepan dua sahabatnya yang tersenyum melihatnya. Sedangkan Damar hanya terkekeh, semakin gemas kepada istrinya yang masih saja malu, padahal sudah punya anak.


"Ooh.. iya, benar Al. Suami kamu juga pernah koma dan terbangun namun hilang ingatan. Semoga saja, istriku juga akan segera bangun dari komanya, tapi tidak hilang ingatan seperti Damar." Harap Andi dari dalam hatinya, yang begitu takut jika istrinya bangun tidak mengingatnya, malah mengingat Kelik sang mantan pacarnya.


"Ha.. ha.. ha.. iya, mudah-mudahan ya, Ndi. Tetap tidak mau kisah Damar terulang ya, Ndi. Jangan sampai istri kamu hilang ingatan dong, kamu harus yakin dan percaya bahwa istri kamu akan bangun dari komanya dan kembali sehat seperti sedia kala, tanpa harus hilang ingatan." Tutur Alya tertawa, melihat ekspresi Andi yang khawatir.


"He.. he.. he.. iya Al. Aku tidak mau kisah kamu dan Damar terulang olehku." Andi terkekeh takkala Alya dengan gamblang bisa menebak isi hatinya yang sedang dipikirkan saat ini.


"Tapi 'kan mereka akhirmya bersatu dan bahagia sampai detik ini, Ndi!" Seru Asyafa menanggapi.


"Tetap saja, aku tidak mau, Sya." Ucap Andi menolak dengan apa yang dikatakan Asyafa.


"He.. he.. he.. iya, Ndi. Aku yakin kisah kamu berbeda dengan istri kamu." Ucap Asyafa terkekeh.


"Aamiin.." Sahut Andi, kemudian diamini oleh mereka kembali.


Merekapun akhirnya melepas rindu membahas masa-masa kuliah dan Andipun sedikit terhibur, melupakan sejenak rasa sedihnya mengingat kondisi sang istri yang sedang koma saat ini.


*******


Rahyan bersama Fathur dan Dosen yang lainnya sudah sampai didepan pintu kamar rawat VIP milik Andi kini, dengan bergantian masuk untuk menemui Andi didalam ruangan rawatnya.

__ADS_1


Suster jaga, hanya mengizinkan beberapa orang saja yang masuk kedalam ruangan pasien. Dengan itu, mereka bergantian masuk dengan waktu yang tidak terlalu lama.


Asyafa, Alya dan Damarpun berpamaitan untuk keluar kamar pasien, karena ada teman-teman sesama Dosen yang akan ikut menjenguknya pula. Termasuk Rayhan, suaminya Asyafa.


"Cinta, kamu tunggu disini dulu, aku mau jenguk Andi sebentar." Ujar Rayhan saat Asyafa baru saja mencium punggung tangannya, saat mereka baru saja bertemu.


"Iya, sayang." Sahut Asyafa kemudian duduk bersama Alya dan Damar diruang tunggu depan ruangan kamar Andi.


Rayhan dan Fathur juga satu teman lainnya masuk kedalam kamar untuk menjenguk Andi. Setelah lima belas menit kemudian Dosen yang lainnya bergantian menjenguknya.


Rayhanpun berpamitan kepada teman sesama Dosen, untuk segera pulang terlebih dahulu. "Aku pulang duluan ya, kawan. Kasihan istri dan teman-temanku sudah menunggu lama." Ujar Rayhan. Sedangkan Asyafa, Alya dan Damar hanya tersenyum ramah dan mengangguk pelan.


"Okey, bro!" Sahut Fathur dan yang lainnya.


Rayhan, Asyafa dan Alya juga Damar, merekapun pergi meninggalkan kamar rawat dan rumah sakit tersebut menuju rumah baru Alya dan Damar.


*******


Setelah para Dosen yang menjenguk sudah pulang semua, kini saatnya Angga dan juga adik-adik satu kelas dengan Mutiara menjenguk Andi.


Seperti biasanya, mereka bergantian untuk masuk kedalam ruangan VIV pasien, demi menjaga fasilitas kesehatan yang dirawat dengan sipenjenguk.


Setelah beberapa orang keluar masuk bergantian, dengan melihat Mutiara didalam ruang ICU, dari luar kamar berdinding kaca. Hati Kelik bagaikan tersayat-sayat, terluka namun tidak berdarah, perih dan sesak didada. Seakan air mata tiada hentinya, mengalir deras dipipi tampannya.


"Semua ini gara-gara aku, Cah ayu! Maafkan aku, Cah ayu, hiks.. hikks.. hikks.." Tubuh Kelik merosot duduk bersimpuh kedasar lantai, takkala melihat secara langsung kondisi wanita yang masih sangat dia cintai itu.


"KELIK..!" Teriak Nabila, saat melihat pria yang disukainya itu menangis dan terduduk dilantai.


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2