Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 57


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Angga dan Papi Dahlan menghampiri Betrand yang masih meringis menahan sakit diseluruh wajah dan tubuhnya.


Angga yang sudah menghajarnya habis-habisan dan babak belur, saat mereka berkelahi tadi.


Angga yang jago taekwondo, dengan mudahnya menghajar Betrand yang memang sudah memulainya terlebih dahulu.


"Betrand.." Panggil Angga dengan lirih memanggilnya kembali.


"Kenapa? Kamu puas 'kan sudah menghajarku habis-habisan kayak gini, hah..?" Tanya Betrand dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa.


"BETRAND.. ! Apa kamu masih tidak punya malu, hah?" Teriak Gionino emosi saat menyebut nama anaknya.


Sontak saja, Betrand tersenyum miris, mendengar Papanya lebih membela anak orang lain, ketimbang dirinya.


"Pah.. apa Papa tidak melihat wajahku lebih parah dibanding wajah dia. Dia terus menyerangku, sedangkan aku kewalahan dengan serangannya." Protes Betrand menunjuk wajah Angga, tidak terima dengan sikap Papanya yang selalu menyalahkannya.


"Semua ini karena kamu! Andai kamu tidak memulainya lebih dahulu dan memancing keributan, perkelahian itu tidak akan pernah terjadi." Ujar Papa Gionino benar adanya.


"Ck.. memangnya salah Pah, jika aku hanya ingin berkenalan dengan gadis itu? Aku menyukai gadis itu dan ingin mendekatinya. Terus aku salah, gitu Pah?" Jelas Betrand dengan seribu alasan.


"Kamu memang selalu bermasalah dengan wanita. Setiap kali Papa mendengar masalah, pasti selalu wanita dan wanita saja yang kamu ributkan. Apa tidak ada lagi, permasalahan yang lebih baik selain wanita dihidupmu, Betrand?"


Papi Dahlan dan Anggapun hanya bisa terdiam, saat mendengar pertengkaran Betrand dan Tuan Gionino.


"Sudahlah Pah, meskipun aku benar, Papa pasti akan selalu menyalahkan aku. Dimata Papa, orang lain itu jauh lebih penting dan berharga, dibandingkan dengan diriku. Apa lagi aku yang sekarang sedang diposisi bersalah." Ungkapnya penuh penekanan.


"Plaak..!" Satu tamparan yang diterima oleh Betrand dari sang Papa. Gionino begitu marah, saat mendengar penuturan Betrand yang menjatuhkan harga dirinya didepan Dahlan dan anaknya, pikirnya.


Betrand mendesis dan tangannya terulur menyentuh pipinya yang sudah ditampar oleh Gionino.


"Lakukan lagi Pah.. tampar lagi aku.. andai Papa puas, aku rela, Pah!" Seru Betrand dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"DIAM.. !" Teriak Gionino kesal saat Betrand terus saja memancing amarahnya.

__ADS_1


"Ck.. apa Papa malu dengan mereka? Malu karena mempunyai anak sepertiku! Jangan salahkan aku yang seperti ini, karena semua ini adalah didikan Papa. Lebih baik aku ikut Mama saja, dari pada harus tinggal dengan Papa dan membuat malu Papa." Ujarnya dengan menunjuk Papi Dahlan, Angga, Mr Ramon dan Amara.


"CUKUP BETRAND... HENTIKAN UCAPANMU..!" Teriak Gionino semakin geram dengan segala ucapan Betrand yang menyakitkan.


"Sabar Tuan Gionino, redakan emosimu. Betrand adalah anak kamu satu-satunya, tidak baik memarahi anak yang sudah besar seperti Betrand." Ujar Papi Dahlan meredakan amarah Gionino yang sudah memuncak.


Tuan Gionino seketika duduk bersimpuh dan menunduk kebawah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dahlanpun memeluk Gionono untuk menguatkan hatinya, yang mungkin saja sakit atas perkataan putra satu-satunya itu.


"Tuan Gionino.. redakan amarahmu dan turunkan egomu." Ucap Papi Dahlan dengan menepuk-nepuk punggung Gionino pelan.


"Betrand.. lebih baik kamu ikut aku sekarang." Ajak Angga menarik lengan Betrand keluar pos security tersebut.


Amara dan Mr. Ramon hanya memperhatikan pertengkaran mereka, karena mereka tidak ingin mencampuri urusan Ayah dan anak itu. Namun, kini Amara hendak menyusul Angga dan Betrand, yang sudah keluar dari pos Security tersebut.


"Dad.. aku mau menyusul mereka keluar, boleh atau tidak?" Tanya Amara hati-hati.


"Lebih baik kita tetap disini, kamu jangan mendekati mereka dahulu. Bukankah semua kejadian ini, gara-gara kamu juga yang terlibat, bukan?"


"Justru itu Dad, aku takut mereka nantinya berkelahi lagi."


"Tapi.. Dad, aku khawatir sama kak Angga."


"Aish.. apa anak gadis Dadie sedang menyukai seorang pria saat ini, heum..?"


"Ck.. apa sih Dad! Boleh atau tidak nih, aku ikuti mereka?"


"Boleh, tapi harus sama Dadie."


"Iya sudah, kalau begitu Dad, ayo."


Amara dan Mr. Ramonpun akhirnya mengikuti mereka diam-diam. Mereka bersembunyi dari tempat yang tidak begitu jauh dari tempat Angga dan Betrand berada.


"Lepasin tangan aku, Ga!" Kesal Betrand saat mereka sudah berada jauh dari pos security tersebut.


Angga melepaskan cekalan tangannya dari tangan Betrand. Anggapun langsung memeluk Betrand dengan spontan. Seketika saja, Betrand bergeming dengan apa yang sudah dilakukan Angga kepadanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian Angga mengurai pelukkannya dari tubuh Betrand, diapun mengambil napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. "Huuuh.."


"Maaf ya Trand, aku tidak bermaksud membuat kamu babak belur seperti sekarang ini. Aku tahu kamu hanya ingin berkenalan dengan Amara dan hanya menggodanya saja. Tapi, aku tidak suka dengan sifat flayboymu, yang selalu menganggap gadis itu mainan bagimu."


"Cih.. katamu dia itu pacarmu! Kenapa sekarang kamu bilang gadis itu, hah..? Berarti benarkan gadis itu bukan pacarmu? Kamu hanya mengaku-ngaku saja, biar aku tidak bisa berkenalan dengannya dan tidak bisa mendekatinya, begitu bukan?"


"Aku menyukainya, jadi aku tidak suka gadis yang aku sukai kamu ganggu seperti itu."


"Waah.. waah.. waah.. ternyata kamu baru menyukainya, bukan pacarnya. Bagus.. bagus.. bagus.. ! Berarti aku masih ada kesempatan untuk mendapatkannya dong, kita bisa bersaing secara sehat." Betrand berucap dengan bertepuk tangan, lalu tersenyum menyeringai.


Amara membulatkan matanya seketika dan menutup mulutnya dengan tangannya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Angga.


"Apa? Dia menyukaiku? Kak Angga yang ketus selama ini, menyukaiku! Padahal aku tidak pernah terbersit sama sekali, untuk berpikir kak Angga menyukaiku. Apa kak Angga sedang bersandiwara, hanya untuk meredakan emosi pria itu? Atau dia memang benar menyukaiku?" Tanyanya gamang dalam hati Amara.


Sedangkan Mr. Ramon hanya tersenyum kecil, saat mendengar seorang anak muda yang begitu tenang, menyatakan perasaan sukanya kepada anak gadis semata wayangnya itu, dihadapan pria yang sudah menggoda anaknya tadi.


"Sepertinya nak Angga sungguh-sungguh menyukai Amara anak gadisku, hal ini akan aku bicarakan besok dengan Dahlan." Mr Ramon bergumam pelan dengan tersenyum bahagia.


Angga menatap jengah kepada Betrand, dirinya yang tadinya sudah meminta maaf dan ingin berbaikan, seketika saja menahan kesal didadanya. Angga tidak terima dengan Betrand, yang sudah terang-terangan mengajak bersaing untuk mendapatkan hati Amara.


"Ck.. memangnya Amara seperti gadis-gadis yang sering kamu pacari dan kamu permainkan selama ini? Aku tidak sudi bersaing denganmu, untuk mendapatkan cinta Amara. Biarkan Amara yang akan memilih pria yang dia sukai, kita tidak boleh memaksakannya. Kamu faham bukan maksudku?"


"Angga.. Angga.. Angga, pantas saja selama ini kamu jomblo terus. Kamu pengecut, tidak punya nyali dan payah dalam urusan wanita."


"Apa? Apa kamu bilang, hah..? Siapa yang pengecut? Siapa yang tidak punya nyali? Coba sekali lagi kamu katakan!" Tanya Angga mulai tersulut emosi, hingga Anggapun spontan mengangkat kerah baju Betrand dengan kedua tangannya, lalu menyorot matanya tajam.


Amara dan Mr. Ramonpun seketika langsung berlari kearah mereka dan menghentikan pertengkaran mereka.


"Berhenti..!" Teriak Amara kearah mereka berdua.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2