Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 73


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mutiara dan Amara baru saja keluar dari kelasnya, mereka menunggu Angga dan Andi diperpustakaan, karena Angga yang masih ada dikelas.


Angga yang sedang merapihkan dan membersihkan seluruh kelas bersama Aldi, selaku penanggung jawab kelasnya.


Banyak sisa kertas origami yang masih berserakkan jatuh dibawah lantai dan sedikit merepotkan mereka dengan menyapu lantai kelas.


"Aku ga habis pikir loh, Ga. Si Kelik lama-lama bikin geram, rasanya aku pingin nyumpel mulutnya yang tajam itu." Ujar Aldi saat menyerok sampah kedalam serokkan yang dipegangnya.


"Iya.. Al, kamu ternyata engga suka juga sama si Kelik ya. Dasar tuh anak, lama-lama bikin kesal dan jengkel." Ujar Angga menanggapi ucapan Aldi.


"Iya, mentang-mentang cucu yang punya kampus ini, gayanya selangit. Lagipula emang gadis didunia ini cuma Mutiara, sampai-sampai ga bisa moveon dan cinta gila." Selorohnya mengemukakan unek-uneknya.


"Ha.. ha.. ha.. kamu kenapa si Al? Kenapa kamu yang jadi sewot sama si Kelik itu?"


"Ya engga kenapa-kenapa juga, Ga."


"Kayaknya lagi ingat sama si Diana, sang mantan ya? Benar 'kan?" Ledek Angga tersenyum miring dan menaik turunkan alisnya.


"Hiss.. aku sudah bilang, aku itu sudah moveon dari Diana. Aku sedang menyukai seorang gadis, tapi aku tidak mungkin bisa memilikinya."


"Apa? Kamu sedang menyukai siapa? Kenapa dari kemarin kamu bilang sedang menyukai seseorang? Tapi kamu tidak mau menyebutkan namanya?"


"Rahasia.. ! Aku tidak mau menyakiti sahabatku sendiri, apa lagi hanya karena urusan seorang wanita."


"Sahabat? Maksud kamu sahabat itu aku, heum?"


"Ha.. ha.. ha.. percaya diri sekali kamu, Ga? Memangnya sahabat aku hanya kamu, heum?"


"Ha.. ha.. ha.. kalo dikampus ini 'kan cuma aku. Tapi, kalau di luar kampus, aku engga tahu sahabatmu siapa."


"Ha.. ha.. ha.. ya sudah engga usah dibahas. Kalau sudah saatnya ketemu yang cocok, nanti juga akan bertemu."


"Iya, Al. Buktinya aku, setiap bertemu dengan Amara selalu bertengkar dan tidak pernah mood. Tapi, jika tidak ketemu dia, aku selalu terbayang wajah dan tingkahnya yang selalu menyebalkan. Siapa sangka ternyata aku menyukainya, lalu diapun membalasnya."


"Oh.. ternyata awal pertemuan kalian benci jadi cinta gitu ya."


"Bisa dibilang kayak gitu sih."


"Baguslah, jadi engga ada ribut-ributan dan benci-bencian kayak Tom and Jerry ya, he.. he.. he.."


"Ha.. ha.. ha.. iya, Al."


"BTW bagaimana caranya kalian bisa jadian, secara tiap kali bertemu bertengkar?"


"Kamu tahu si Betrand, bukan?"


"Betrand? Ya tahulah, si play boy Kampus yang terkenal."


"Gara-gara dia godain Amara di acara resepsi pernikahan Kak Andi dan kakak ipar, aku jadi terlibat baku hantam dengan dia. Semenjak itulah aku jadian sama Amara, pas di taman permainan pasar malam."


"Woow.. jadi kamu sebagai Super Hironya Amara, malam itu? Terus jadian disana?"


"Huem.." Angga bergumam dan tersenyum, kala teringat saat pertama kali berciuman dengan Amara satu bulan yang lalu.


"Hiiis.. dia senyum-senyum sendiri, pasti lagi bayangin sesuatu ya? Ayo, ngaku!"


"Ha.. ha.. ha.. iya lagi bayangin ciuman sama pacarku, puas lo!"

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.. sudah bisa ditebak! Tapi, baru jadian kalian langsung ciuman?"


"Huem.."


"Hebat juga kamu, Ga! Aku saja butuh waktu lama, untuk bisa ciuman sama Diana dulu."


"Aku juga ga tahu Al, tiba-tiba saja pingin melakukan itu, mungkin karena suasana dan tempatnya yang romantis."


"Ha.. ha.. ha.. bilang saja, hasrat yang sudah lama terpendam.


"Ha.. ha.. ha.. sudah ach, kamu mah suka mancing-mancing!"


"Ha.. ha.. ha.. jadi benar dong!"


"Ha.. ha.. ha.." Keduanya tertawa bersama.


*******


Dilain tempat, tepatnya di Perpustakaan.


Mutiara dan Amara masih menikmati bacaan yang mereka sukai.


Mutiara yang suka membaca kisah sejarah, sedangkan Amara yang menyukai bacaan kisah percintaan.


"Hei.. serius banget bacanya!" Tegur Amara yang melihat wajah Mutiara begitu fokus saat membaca.


"Iya, bagus soalnya."


"Ooh.. kamu suka sejarah Romawi ya, Mutiara?"


"Iya, dari aku masih di SMP. Aku suka sekali baca sejarah mereka, menurutku itu penuh dengan tantangan."


"Aku juga suka romans, tapi bikin terhanyut dan terbawa perasaan yang ujung-ujungkan aku senyum-senyum sendiri dan kadang tahu-tahu nangis pas ada cerita sedihnya."


"Hi.. hi.. hi.. itulah yang hebatnya kisah romans, ga ada matinya sampai kapanpun. Dunia tanpa cinta ibarat makanan tanpa bumbu, hambar rasanya."


"Betul banget katamu, Amara!" Ucap Mutiara mengacungkan ibu jari tangannya kepada Amara.


"He.. he . he.." Amara terkekeh melihat cara Mutiara memuji dirinya.


"Ngomong-ngomong, kemana kak Angga dan kak Andi ya, Mutiara? Kenapa mereka belum juga menjemput kita disini?" Tanya Amara resah.


"Iya, ya. Padahal sudah jam tigaan loh ini." Sahut Mutiara, seraya melirik jam tangan yang melingkar indah ditangannya.


"Coba kamu telpon dulu deh, kak Andinya." Usul Amara.


"Takut ganggu, tadi 'kan sudah aku kirim pesan pada Mas Andi, kalau kita ada di Perpustakaan."


"Ooh.. ya sudah kita tunggu saja, kalau begitu."


Tidak berapa lama, Anggapun datang menemui Amara dan Mutiara diperpustakaan, dengan wajah berseri karena tugasnya sudah selesai.


"Hii.. sayang, kalian mau pulang atau masih mau disini?" Sapa Angga saat tiba dihadapan Amara dan Mutiara.


"Hi.. kak Angga." Sapa balik Amara dengan berdiri menutup bukunya dan menghampiri Angga.


"Hi.. dik Angga, tapi Mas Andi belum datang." Balas sapa Mutiara dengan tersenyum kecil.


"Iya, kakak ipar. Apa kita tunggu disini atau di taman?" Tanya Angga memberikan pilihan.

__ADS_1


"Ditaman boleh juga, nanti aku kirim pesan unruk Mas Andi agar langsung temuin kita ditaman saja."


"Okey, ayo kita langsung kesana saja, kakak ipar." Selorohnya langsung berjalan keluar perpustakaan bersama Amara kekasihnya.


"Okey, aku mau pinjam buku ini dulu, biar bisa aku baca dirumah." Ujar Mutiara, membiarkan Angga dan Amara pergi terlebih dahulu.


"Iya sudah, kita duluan ya Mutiara." Pamit Amara.


"Iya, nanti aku menyusul." Sahut Mutiara.


Selesai Mutiara menyerahkan buku kepada petugas Perpustakaan, diapun diizinkan selama satu minggu untuk meminjam buku tersebut baru boleh mengembalikannya.


Disaat dia baru saja keluar dari ruang Perpustakaan, tanpa disangka ada seseorang yang berdiri memunggungi dirinya, yang sepertinya dia sangat begitu mengenalnya.


Bentuk tubuhnya, tinggi badannya dan wangi parfumnya, tidak mungkin mudah dia lupakan.


"Kelik..!" Lirih Mutiara memanggil namanya.


Seketika saja, Kelik langsung berbalik badan demi melihat wajah wanita yang masih sangat dia cintai itu.


"Kamu masih mengenaliku, Cah ayu? Kamu masih bisa mengenali wangi parfumku, bukan? Berarti kamu masih ada perasaan kepadaku, bukan? Meski hanya sedikit."


"Tidak.. Kelik! Kamu jangan mengharapkan aku lagi. Apa kamu masih belum bisa menerima kenyataan ini? Tolong berhenti mencintaiku, aku mohon."


Mutiara berusaha bersikap tegar menghadapi Kelik yang masih keras kepala, air matanya sudah menggenang dipelupuk matanya yang segera ingin tumpah dari tempatnya.


"Apa boleh aku berbicara berdua saja denganmu, Cah ayu?"


"Untuk apa?"


"Untuk terakhir kalinya, saat aku ingin melepaskanmu."


"Disini saja, sudah tidak begitu ramai orang."


Kelikpun mengedarkan pandangannya disekitar penjuru dirinya dan Mutiara berada, memang nampak sepi. Diapun akhirnya mengungkapkan keinginannya.


"Aku ingin memeluk kamu, untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar melepaskanmu, Cah ayu." Pinta Kelik dengan begitu mengiba.


"Tapi, aku sudah menikah, Kelik. Aku tidak ingin menyakiti suamiku, jika sampai dia tahu, bagaimana jadinya?"


"Please, Cah ayu! Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya."


Dengan berat hati, akhirnya Mutiarapun mengangguk pelan demi memenuhi keinginan Kelik sang mantan pacar untuk terakhir kalinya.


Kelik tanpa berucap langsumg mendekati tubuh Mutiara, lalu memeluk tubuh Mutiara dengan begitu erat dan sayang, air matanya seketika mekuncur bebas dikedua pipi mereka. Mereka menangis dalam pelukkan yang sudah lama tidak mereka rasakan. "Hikkzz.. hikkz.. hikkzz.."


Sedangkan dari kejauhan, Andi sedang menyaksikan istri dan sang mantan yang sedang berpelukkan didepan ruangan Perpustakaan.


Rupanya Andi baru saja hendak menghampiri Mutiara ke Perpustakaan, karena dirinya belum membaca pesan dari Mutiara untuk menjemputnya di taman.


"Prok.. prok.. prok.. bagus.. bagus.. bagus.." Andi bertepuk tangan sambil berjalan menghampiri Mutiara dan Kelik yang sedang berpelukkan. Dengan tersenyum miring dan mata yang sudah berkaca-kaca, Andi berdiri didepan mereka.


Sontak saja keduanya langsung mengurai pelukkannya, saat melihat dan mendengar kata-kata Andi yang sudah berada dihadapannya.


"Mas Andi." Lirih Mutiara, merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan saat ini.


♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2