Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 46


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Andi dan Mutiara membalikkan tubuh mereka saat mendengar nama Andi dipanggil.


Dengan tersenyum ramah, gadis itupun langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Hallo.. kak Andi! Apa kak Andi masih ingat dengan aku?" Tanya gadis itu dengan wajah ceria.


Andi menatap kearah istrinya, dia melihat istrinya hanya mengulum senyum. Kemudian Andipun membalas sapaan gadis itu dan menjawab pertanyaannya.


"Iya, Amara Anastasya... aku masih ingat!" Seru Andi dingin.


"Ooh.. ternyata Kak Andi masih ingat sama aku. Syukurlah kalau begitu, aku senang bisa bertemu dengan kak Andi lagi. Sejak aku telpon kak Andi, kenapa sudah tidak masuk kerja lagi? Tiba-tiba saja, Om Dahlan yang menggantikan kak Andi!" Ujar Amara kecewa.


"Papiku sudah sembuh dan pulang dari rumah sakit waktu itu, jadi aku hanya menggantikan Papi Dahlan saja." Ujar Andi.


"Pantas saja kak Andi tidak pernah muncul di kantor. Tapi, kenapa nomor ponsel kak Andi tidak bisa aku hubungi?" Tanya Amara kepo.


"Ooh.. itu, ponsel aku rusak saat itu." Dusta Andi menutupinya, padahal nomor Amara saat itu dia blokir. Andi tidak ingin Amara mengganggu kehidupannya yang sedang runyam dengan masalah hati istri dan adiknya yang masih gamang saat itu.


Sontak saja Mutiara menatap suaminya penuh tanda tanya, dengan mengerutkan keningnya. Pasalnya selama ini, ponsel suaminya baik-baik saja.


"Oh.. begitu yah kak! Kakak kenapa ada disini?" Tanya Amara penasaran.


"Aku mengajar di kampus ini." Ucapnya tegas.


"Waah.. kebetulan sekali dong kak Andi. Aku juga mau kuliah disini, berarti kita akan sering ketemu dong. Secara aku muridnya dan kak Andi Dosennya di kampus ini." Ujarnya senang.


"Ooh.. kamu mau kuliah disini? Bukankah kamu tinggal di Singapura? Kenapa bisa tinggal disini?" Tanya Andi merasa aneh.


"Aku mau tinggal di Indonesia, semenjak aku datang dan bekerja sama dengan Perusahaan Om Dahlan, Papinya kak Andi. Dadieku sudah memberi aku izin tinggal dan melanjutkan study di sini." Ujar Amara.


"Ooh.." Hanya itu yang Andi ucapkan.


"Hai.. kamu cantik sekali! Ini siapa kak Andi?" Sapa Amara ramah.


"Ohh.. ini perkenalkan istriku namanya Mutiara Pandini dan istriku juga mau mendaftar menjadi mahasiswa disini." Jelas Andi merasa bahagia memperkenalkan istrinya kepada gadis bocil agresif nan genit.


"What? Istri! Kapan kak Andi menikah? Memangnya, saat pertama aku bertemu kak Andi sudah menikah? Setahu aku, kak Andi masih single." Tanya Amara shock.


Mutiara hanya tersenyum canggung, saat namanya dikenalkan sebagai istrinya Dosen Andi.


"SUDAH! Pertama kita bertemu, aku sudah menikah dengan istri cantikku ini. Tapi, resepsinya nanti menyusul, tunggu saja undangannya nanti, yah." Ujar Andi sengaja mempertegas statusnya yang sudah menikah.

__ADS_1


Amara bergeming, dirinya hampir tidak percaya saat mendengar ucapan Andi.


Tangan Mutiara terulur untuk berjabat tangan dengan Amara, namun Amara sepertinya melamun. Andi yang melihat hal itu, langsung merespon dan membuyarkan lamunan Amara.


"Hei.. klik.. apa kamu melamun?" Tanya Andi menjentikkan jarinya didepan wajah Amara yang terlihat melamun dan sedikit pucat.


"Eeh.. engga! I.. iya." Sahut Amara gugup. Lalu Amara meraih tangan Mutiara yang hendak berjabat tangan.


"Perkenalkan nama aku Mutiara Pandini, senang bisa berkenalan dengan kamu." Ucap Mutiara ramah.


"A.. aku juga senang berkenalan dengan kamu, nama aku Amara Anastasya." Sahut Amara juga ramah namun sedikit canggung.


"Haii.. kak Andi dan kakak ipar." Sapa Angga, saat melihat mereka sedang berbicara dengan Amara.


"Hai juga.. dik Angga." Sahut Mutiara dan Andi bersamaan.


Amara yang mendengar Angga memanggil Andi kakak dan Mutiara kakak ipar, seketika saja dia langsung menebak-nebaknya.


"Kak Andi, apakah ini adiknya kak Andi?" Tanya Amara sok akrab.


"Iya.. ini adik aku namanya Angga Permana." Sahut Andi.


"Ooh.. salam kenal kak Angga Permana, namaku Amara Anastasya." Ucap Amara mengajak berkenalan, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Eem.. kakak ipar tumben ikut ke kampus? Mau daftar kuliah, bukan?"Tanya Angga kepo.


"Iya.. dik." Sahut Mutiara singkat dan cepat.


"Kamu mau ambil jurusan apa Mutiara?" Tanya Amara ingin pendekatan.


"Pasti kedokteran 'kan kakak ipar?" Tebak Angga yang sudah tahu dari Ibu Lanjar.


"Iya dik, kenapa tebakkannya bisa pas banget sama jawbannya yah?" Tanya Mutiara heran.


"Kedokteran? Aku juga mau ambil jurusan itu, Mutiara." Timpal Amara ditengan obrolan mereka.


"Ooh.. bagus dong, siapa tahu saja kita bisa satu kelas. Kemungkinannya sangat besar, jika satu jurusan." Ucap Mutiara.


"Iya sudah, nanti Angga yang akan menatar kalian sebelum menjadi mahasiswa kedokteran yang sesungguhnya. Perkenalkan saya juga calon Dokter muda yang baik hati dan tidak sombong. He.. he.. he.." Ujar Angga bangga seraya terkekeh.


"Siap.. kakak kelas! He.. he.. he.." Ucap Mutiara dan Amara bergantian seraya terkekeh.


Andi yang hanya menonton dan mendengarkan obrolan mereka, hanya bisa mengulum senyum. Andi percaya kepada adiknya Angga, dirinya sudah membuang rasa cinta untuk istrinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita keruang pendaftaran." Ajak Andi seraya mengapit pinggang istrinya mesra.


Mutiara hanya mengangguk kecil, lalu mengikuti kemana suaminya melangkah.


Sedangkan Angga mempersilahkan Amara untuk berjalan lebih dahulu, seraya menggoyangkan tangan kanannya kedepan, dengan membungkukkan badannya sedikit. "Ladies first..." Ucapnya sopan, dengan senyuman menawan.


"Thanks, kak Angga." Ucap Amara tersanjung dengan sikap baik Angga yang tidak seperti kakanya Andi yang dingin dan ketus pikirnya.


Sampai di depan ruangan pendaftaran mahasiswa baru, Angga meninggalkan mereka bertiga disana.


"Kak Andi dan kakak ipar, Angga tinggal dulu yah. By.. by Amara sampai ketemu lagi." Pamit Angga melambaikan tangannya.


"Okay, dik." Sahut Andi dan Mutiara bersamaan.


"Iya.. kak Angga." Sahut Amara tersenyum mengembang.


Kemudian mereka masuk ke ruang pendaftaran mahasiswa baru, bersama istrinya dan juga Amara. Keduanya diminta Andi agar duduk menunggu di bangku depan pintu, untuk bergiliran mendaftar.


"Permisi Pak Arjuna, saya ingin mendaftar menjadi calon mahasiswa untuk istri saya yang bernama Mutiara Pandini." Ujar Andi memperkenalkan Mutiara sebagai istrinya.


"Apa? Istri Pak Dosen? Kapan Pak Dosen menikah? Terus, diantara dua gadis cantik ini, yang mana istri Pak Dosen?" Tanya Pak Arjuna bingung, saat melihat kedua gadis yang sedang duduk bersampingan, sama-sama cantik dan menarik.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Autor : Eehemm... ketemu bocil lagi tuh! Bergabung deh dua bocil.🀭🀣


Andi : Otor ngapain sih, pake segala si bocil Amara kuliah ditempat yang sama dengan tempat aku mengajar? 🀧😭


Autor : Lah Amaranya yang mau kuliah disitu, kenapa Otor yang disalahin Mas Andi?🀭🀣


Andi : Ya iyalah Otor yang salah! 'Kan Otor bisa tempatin si Amara kuliah ditempat yang lain, hueh..!πŸ€§πŸ™ƒπŸ‘Ώ


Autor : Kalau begitu maunya Mas Andi, ya engga seru lah! Bagaimana sih Mas Andi ini? Mendingan saya πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ kabur saja deh. 🀣🀣


Andi : Cape deh!😑🀧


...β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2