Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 42


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Sekembalinya Andi kerumahnya, diapun berjalan tergesah-gesah menuju kamarnya untuk memberikan pembalut itu secepatnya.


Dia tidak habis pikir demi istrinya yang sangat dia cintai kini, tengah malam mencari pembalut untuknya.


"Tok.. tok.. s.. ayang b.. bukain pintunya, saya sudah bawa pembalutnya nih." Ujar Andi dengan suara terengah-engah.


"Iya Mas, sebentar." Sahut Mutiara, lalu membukakan pintu kamar mandinya pelan.


"Jeglek." Bunyi pintu kamar mandi terbuka.


"Maaf yah sayang, nunggunya kelamaan. Ini pembalutnya sayang, lalu ini celana dalaman kamu." Ujar Andi memberikan sekantong plastik pembalut berwarna putih dan satu celana dalaman milik istrinya.


"Iya engga apa-apa Mas, tapi... ini engga salah? Ini terlalu banyak! Saya hanya butuh satu bungkus saja, cukup untuk seminggu." Tutur Mutiara mengernyitkan keningnya heran, melihat pembalut sebanyak itu.


"He.. he.. he.. habis saya bingung sayang, engga tahu jenis pembalut yang kamu pakai." Andi terkekeh melihat wajah istrinya yang kaget.


"Iya sudah Mas, saya ambil yang ini saja. Sisanya tolong simpan di lemari, buat stok saja." Ujar Mutiara, lalu menutup kembali pintu kamar mandinya.


"Okay."


Andipun berlalu, menyimpan pembalut tersebut di dalam lemari. Dia membuka sarungnya, ternyata adik kecilnya sudah tertidur.


"Syukurlah.. ! Akhirnya kamu tertidur juga adik kecilku. Kasihan kamu, gagal lagi.. gagal lagi, he.. he.. he..." Andi bergumam pelan merutuki nasib adik kecilnya yang sudah berhasrat, lalu terkekeh sendiri.


Mutiara baru saja selesai dari kamar mandi, dia langsung berjalan dengan menahan tawa.


"Kalau mau ketawa-ketawa saja, engga usah ditahan." Kata Andi yang melihat istrinya mendekat, namun seperti ingin menertawakannya.


"He.. he.. he.. maaf yah Mas. Mungkin belum direstui Mas, Mas harus tahan satu minggu dari sekarang yah."


"Apa? Satu minggu? Apa engga bisa lebih cepat, sayang?" Tanya Andi bernegosiasi.


"Engga dong Mas, itu masa haid saya yang paling tercepat. Bahkan Saya pernah hampir sepuluh hari, masa haidnya." Ujar Mutiara tersenyum manis.


"Aiish.. apa wanita itu harus begitu merepotkan? Apa saat kamu mengalami haid itu terasa sakit? Memangnya kalau haid itu, tidak boleh berhubungan?" Keluh Andi bertanya seputar haid.


"Tidak repot Mas. Ada sebagian wanita yang merasakan sakit dibagian perutnya, ada juga yang tidak sama sekali. Masalah berhubungan suami istri, jelas tidak boleh. Wanita yang sedang haid itu, dia mengalami yang namanya pembuangan sel telur yang membusuk, lalu keluarlah cairan merah yang berupa darah kotor, itulah yang dinamakan haid. Kalau menurut kesehatan, tidak boleh berhubungan suami istri kalau sedang ada tamu bulanan." Jelas Mutiara panjang lebar.


"Ooh.. jadi seperti itu! He.. he.. saya sungguh bodoh, tidak mengerti persoalan wanita." Ujar Andi terkekeh.

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.. wajar Mas.. namanya juga laki-laki." Tawa Mutiara pecah, melihat suaminya mengakui dirinya bodoh.


"Apa kamu engga pegal, berdiri disitu terus?Apa Kamu tidak mengantuk, sayang?" Tanya Andi, lalu menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.


"Aah.." Desis Mutiara, saat bokongnya tepat duduk diatas kedua paha suaminya.


"Sayang.. jangan menggodaku dengan suara sexymu, adik kecilku nanti menjerit." Bisik Andi tepat ditengkuk Mutiara, yang tiba-tiba tubuhnya merem ang dan berdesir.


"Ck.. ck.. ck.." Mutiara tertawa kecil.


"Jangan tertawa seperti itu sayang, kalau nanti tidak bisa bertanggung jawab dengan adik kecilku ini, hueh..!" Bisik Andi menahan hasratnya lalu mengelitiki pinggang istrinya.


"Ha.. ha.. ha.. ampun Mas.. ampun, geli Mas.. iya saya engga tertawa lagi." Tawa Mutiara merasa geli saat pinggangnya diklitiki.


"He.. he.. he.. istriku mengemaskan sekaligus meresahkan." Kekeh Andi merasa bucin dengan istrinya.


"Iya Mas.. tidur saja, nanti kesiangan. Lihat jam sudah pukul satu pagi." Ujar Mutiara, lalu turun dari pangkuan suaminya.


"Tunggu sebentar, sayang." Bisik Andi lirih, menghirup wangi tubuh istrinya, lalu mencium tengkuk istrinya dengan lembut. Meninggalkan jejak sayang disana, lalu membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya.


"Kenapa? Masih belum puas yah? Maafin saya yah, Mas." Tanya Mutiara dengan tersenyum smirk.


"Ck.. ck.. ck.." Mutiara tertawa kecil.


"Ada cara lain sayang, tanpa harus masuk di lubang intimu." Bisik Andi kembali dengan wajah memerah dan napas kian memburu.


"Ueem.. cara apa itu, Mas?" Tanya Mutiara sedikit takut.


"Kamu pegang saja adik kecilku yang sudah menantang ini." Ujar Andi menarik tangan istrinya, lalu membiarkan istrinya menyentuh miliknya.


"Ck.. ck.. ck.. Mas kenapa keras sekali milikmu ini?" Tanya Mutiara tertawa kecil, dirinya merasa aneh saat menyentuh adik kecil suaminya, yang terhalang bahan kain celananya.


"Iya.. sayang adik kecilku ini sudah siap membobol gawangnya, namun gawangnya sedang tidak bisa." Ucap Andi dengan membuka perlahan celana tidurnya yang berbahan kain itu. Dia menyisakan celana segitiganya saja yang sudah nampak menonjol.


"Mau apa Mas? Kenapa Mas buka celananya?" Tanya Mutiara heran lalu mengerutkan keningnya.


"Mau tunjukin sama kamu dong, sayang. Memangnya kamu tidak penasaran, kepingin liat adik kecilku ini?" Tanya Andi gemas, lalu menjawil dagu istrinya.


Sontak saja Mutiara menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Dia belum siap melihat adik kecil suaminya, yang seumur-umur baru kali ini dia mengalaminya.


"Jangan ditutup matanya, nanti engga bisa lihat dan merasakan betapa perkasanya adik kecilku, he.. he.. he..." Ucap Andi menyentuh kedua tangan istrinya yang sedang menutup matanya. Diapun terkekeh melihat istrinya yang sangat meresahkan.

__ADS_1


"Memangnya tidak apa-apa, Mas? Nanti cara masuknya bagaimana? Saya 'kan sedang datang bulan, Mas?" Tanya Mutiara gamang, menurunkan tangannya yang sudah menutupi matanya.


"Pegang saja dulu, sayang. Setelah kamu pegang nanti saya kasih tahu caranya." Ucap Andi yang sudah tidak tahan ingin disentuh oleh istrinya.


"E.. enggak ach Mas, saya takut." Ucap Mutiara gugup.


"Ha.. ha... ha.. kenapa takut? Saya 'kan suami kamu, sayang." Kata Andi lalu menarik tengkuk istrinya dengan perlahan dan lembut.


"Mmppt.." Andi mencium bibir mungil istrinya yang menggodanya terus sedari tadi. Mutiarapun terlena dengan ciuman panas suaminya.


Bibir Andi turun kebawah, menciumi leher istrinya dengan gigitan-gigitan kecil dan meninggalkan jejak kemerahan disana. Tangannyapun tidak diam terus meremas buah dada istrinya dengan gemas.


Perlahan, Andi mulai membuka bahan kain yang masih tersisa ditubuhnya. Diapun mengarahkan tangan Mutiara untuk menyentuh adik kecilnya yang sudah menantang kokoh.


Mutiara mulai merasakan kerasnya adik kecil suaminya, diapun menggenggamnya erat, lalu memaju-mundurkan tangannya didalam genggaman adik kecil suaminya.


"Aach.. terus sayang, istriku memang pintar." Suara lenguhan dan erang an keluar dari bibir Andi, diapun memuji istrinya yang cukup lihai membuat dirinya menikmati sentuhannya.


Selanjutnya terserah anda yah ema.. bapak.. dan kakak.. !


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Autor : Waah.. Mas Andi bisa banget cari jalan supaya adik kecilnya tidak menjerit.🀭🀣


Andi : Iya donk Tor.. ! Pintar 'kan aku?πŸ’ƒπŸ€£


Autor : Aissh.. engga sabaran disuruh nunggu seminggu saja.🀭🀧


Andi : Biarin.. kalau ada cara lain kenapa engga, hueeh..?πŸ€£πŸ€£πŸ’ƒ


Autor : Malas ach kalau berdebat sama suami yang sudah bucin akut... πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ kaboor.


Andi : Ha.. ha... ha.. bilang saja kalau iri boss..! πŸ€£πŸ€£πŸ’ƒπŸ’ƒ


...β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2