
Jerricco berdiri menikmati sensasi dingin dari air yang keluarkan dari shower, membasahi tubuhnya polosnya. Entah mengapa saat merasakan sesuatu penghalang, di tubuh Damara, sekelebat bayangan tentang Mira hinggap di kepalanya.
Flashback
Langit mulai mengelap, wanita bernama Mira sedang asik dengan peralatan melukisnya. Satu tangannya memegang palet dengan berbagai warna yang menghiasi palet tampak indah.
Mira tengah fokus melajukan kuas yang di pegangnya untuk mewarnai kanvas. Pelukan seseorang yang mengejutkannya membuat kuas yang ia pegang keluar dari jalur, kini warna itu malah merusak bagian lukisannya.
“Dear, kau merusak lukisanku,” rengek Mira dengan bibir yang mengerucut. Hampir satu minggu ini dia berusaha mengerjakan lukisannya, tapi lihat karena kedatangan sang kekasih yang tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat lukisan yang hampir selesai ini hancur seketika.
Kecupan mendarat di pipi Mira, bukan mereda amarahnya bibir Mira semakin mengerucut, kesal. Dia melempar palet dan kuasnya ke sembarang arah.
“Maaf.”
Suara pelan dan lembut itu adalah suara yang selalu berhasil membuat Mira luluh, siapa lagi kalau bukan Jerricco Alesandro. Kekasih Mira sejak satu tahun yang lalu.
__ADS_1
“Dear, kau harus menggantinya!” ketus Mira.
Jerricco melepaskan pelukannya, dia berlutut di hadapan Mira yang sedang duduk di kursi. “Kamu mau apa? Aku akan mengabulkan keinginanmu.”
Mira memikirkan keinginan apa yang akan dia ajukan pada Jerricco. “Aku ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia.”
Jerricco menarik tangan Mira, mengecup punggung tangan kekasihnya yang kini sedang menatapnya. “Aku ingin melakukannya, tapi kamu tahu. Orang tuamu tidak suka padaku, bahkan mereka menentangmu untuk berhubungan denganku.”
Bibir Mira masih mengerucut bahkan kini pipinya basah oleh air yang keluar dari kelopak matanya. Dia menarik tangannya dan berdiri menjauh dari Jerricco, dia berjalan dan menghentikan langkahnya di depan jendela besar yang menampakkan gelapnya langit malam itu.
“Tidak usah memanggilku seperti itu, kalau kau masih meragukan cintaku.”
Jerricco semakin mempererat lilitan tangannya di perut Mira, dia memberikan kecupan di pipi mulus Mira. “Aku tidak meragukan cintamu, begitu juga denganku kamu tahu aku sangat mencintaimu meski mereka menentang kita.”
“Tapi kau tidak pernah menyentuh tubuhku,” air mata Mira turun semakin deras. Selama setahun menjalin kasih dengan Jerricco mereka selalu tidur berdua, tapi Jerricco tidak pernah menyentuhnya.
__ADS_1
Hubungan badan mereka hanya sebatas ciuman, tidak pernah melakukan lebih dari ciuman karena Jerricco selalu berhasil menahan gairahnya.
Jerricco melepaskan pelukannya, dia berpindah tempat dan berdiri di hadapan Mira. “Aku takut jika kau hamil, lalu mereka akan merebutmu dariku.”
Mira menatap Jerricco dengan tatapan tajamnya, “Jadi kau lebih takut pada mereka, dari pada membahagiakan aku?”
“Bukan seperti itu, Dear.”
Mira mendorong tubuh Jerricco, “Sana pergi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”
Tidak ingin kehilangan Mira, Jerricco membawa tubuh Mira bagaikan ia membopong karung beras. “Lepaskan!” pekik Mira sambil berusaha memberontak.
Jerricco menurunkan tubuh Mira di atas tempat tidur yang ada di ruangan itu, Jerricco duduk di hadapan Mira. Tangan kanannya meraba pipi sang kekasih.
“Jangan berbicara seperti itu, aku tidak ingin kehilanganmu.”
__ADS_1
Tanpa aba-aba Mira menempelkan bibir tipisnya pada bibir Jerricco, dia melahap bibir Jerricco tanpa ragu bahkan kini lengannya tanpa malu melingkar di leher Jerricco.