Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Manis


__ADS_3

“Kau ingin mandi bersama?” Damara menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan Jerricco.


“Ya sudah, aku mandi dulu.”


“Iya,” jawab Damara singkat, dia memperhatikan tubuh tegap Jerricco menghilang di balik pintu kamar mandi. Damara memperhatikan kakinya yang mulai membaik, kini kakinya tidak sebengkak kemarin. Dia mencoba turun dari tempat tidur lalu berjalan dengan perlahan tanpa menggunakan alat bantu.


Langkah pertama sedikit terasa ngilu, tapi Damara mencoba perlahan untuk berjalan kembali. Dia tidak ingin terus-menerus berjalan menggunakan alat bantu, setelah berlatih berjalan beberapa menit akhirnya Damara memilih duduk.


Kakinya yang terkilir terasa ngilu, dia mencoba memijat kakinya dengan perlahan berharap rasa sakitnya hilang.


Setelah selesai mandi Jerricco keluar dengan handuk yang di lilitkan di pinggangnya,  dengan wajah yang terlihat kesal.


Damara yang mendengar suara pintu terbuka menoleh ke arah Jerricco, ia tertawa saat melihat Jerricco yang tampak manis.


Ketampanannya hilang karena handuk berwarna merah muda dengan gambar hello kitty yang melilit di pinggangnya.


“Aku merasa terhina,” ketus Jerricco.


Damara berusaha menghentikan tawanya meskipun tidak berhenti sempurna, “Kau terlihat manis, sayang.” Damara sengaja menekan kata sayang.


Jerricco yang tidak terima berjalan menuju tempat tidur dan berdiri tepat di depan Damara. Kedua tangannya menangkup pipi Damara, “Sepertinya kau puas melihat penderitaanku.”

__ADS_1


Damara memegang pergelangan tangan Jerricco yang sedang menangkup pipinya. “Sayang, jangan marah,” ucap Damara dengan wajah memohon.


Jerricco mengecup kening Damara, “Sepertinya aku harus meminta Kevin untuk membeli handuk baru.”


Damara menampikan senyumnya, “Itu ide yang bagus.”


***


Setelah selesai mandi dan sarapan Kini Damara duduk di kursi, menikmati halaman di depan rumahnya, sementara Jerricco sedang menelepon seseorang.


Perhatian Damars teralihkan saat Jerricco menyentuh dagunya, “Apa?”


“Kita pamit pada Ibu.”


Jerricco menampilkan senyum miliknya, “Kita jalan-jalan, Kevin sebentar lagi sampai.”


Damara bangkit dari duduknya, dia berdiri menggunakan kembali penyangga. Jerricco yang melihat itu merasa kasihan melihat Damara yang kesulitan berjalan, “Mau aku gendong?”


Damara menggelengkan kepalanya, “Enggak! Malu sama Ibu.” Damara berjalan mendahului Jerricco, sementara Jerricco memperhatikan langkah kaki Damara. ‘Kakimu harus segera sembuh!’ batin Jerricco.


Melihat Damara yang sudah menjauh dari penglihatannya, Jerricco berjalan menyusul Damara.

__ADS_1


Jerricco tersenyum saat matanya bertemu dengan Alice, “Ibu, saya izin bawa Damara.”


“Iya, Nak silakan.” Alice memandangi wajah Damara yang tampak sedih, tangannya membawa Damara ke dalam pelukannya.


“Kamu harus semangat, jangan pernah menyerah,” Alice berbisik di telinga Damara.


“Iya, Bu. Ibu jaga kesehatan ya, kalau ada apa-apa bilang sama Rara.” Damara memluk erat sang Ibu, wanita yang paling dia cintai di dunia.


Suara klakson mobil terdengar dari luar, “Ayo.”


Damara melepaskan pelukannya, dia mengambil alat bantu berjalannya. Dia berjalan dengan pelan menuju Jerricco, “Ibu jangan lupa telepon Rara.”


“Iya, jangan lupa di minum obatnya. Supaya bisa jalan seperti biasa.” Meskipun Damara sudah besar, Alice masih merasa anak gadisnya masih kecil yang selalu ingin mendapat perhatian lebih darinya.


Damara tersenyum, “Iya, Bu.”


Jerricco berjalan di samping Damara, entah kenapa dia merasa lebih senang Damara duduk di kursi roda dari pada harus kesulitan berjalan menggunakan tongkatnya.


Jerricco sudah tidak sabar menemani Damara berjalan, “Berhenti.”


Damara menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Jerricco yang berdiri di sampingnya. “Kenapa?” bukannya mendapat Jawaban Damara terkejut saat Jerricco menggendong tubuhnya.

__ADS_1


“Lepaskan tongkatnya!” Damara hanya mengikuti perintah Jerricco, dia melingkarkan lengannya ke leher Jerricco.


Ada rasa senang melihat Damara yang tidak menolak keinginannya, mungkin jika berdebat dengan Mira dirinya yang mengalah. Karena Mira selalu berhasil merengek dan menampilkan puppy eyes-nya.


__ADS_2