
Setelah pesta pernikahan jelas rasa takut itu selalu hadir di hati Jerricco, bagaimana pun ia sudah menyadari rasa cinta untuk Damara. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Damara, sayangnya semua perkiraannya meleset.
Ternyata masalah yang datang lebih cepat dari perkiraanya, selama ini ia selalu khawatir sesuatu akan menimpa mereka. Terutama dari pihak luar, ia hanya berharap Damara mampu melewati semuanya, dan jadi wanita tangguh yang akan selalu berada di sisinya.
Jerricco bisa saja meminta orang lain untuk mengawasi Damara, tetapi hatinya berkata untuk dirinya langsung yang mengawasi Damara dari kejauhan. Ia rela melakukan penyamaran demi Damara, karena hatinya tidak tenang setelah Robert mengungkap semuanya.
Jerricco memperhatikan Damara yang berbicara dengan Miranda. Jelas Jerricco tahu siapa Miranda, ia sepupu Mira. Jerricco memperhatikan wajah Damara yang tampak tenang saat berbincang dengan Miranda.
Saat mereka keluar dari kafe tersebut Jerricco ikut membuntuti kemana mereka pergi. Jangan tanya keahliannya jika mengikuti seseroang yang pasti Jerricco berhasil mengikuti mobil yang di tumpangi Damara dan Miranda.
Mobil yang di kendarai Jerricco berhenti tidak jauh saat mobil di depannya memasuki kediaman keluarga Miranda. Jerricco menghela nafasnya, jelas ia tidak mungkin mengikuti mereka sampai masuk ke dalam.
Ia memilih kembali ke perusahaan, Jerricco yakin para pengawal Damara mampu menjaga istrinya dengan baik. Dan Jerricco yakin mereka tidak mungkin langsung bertindak kasar atau mencelakai Damara. Karena itu sama saja mereka menghancurkan semua rencana yang sudah mereka rancang.
__ADS_1
***
“Ayo Kak,” ujar Miranda kepada Damara yang masih mematung di ambang pintu utama.
Jelas ini tempat asing baginya, kediaman milik Orang tua Miranda tidak sebesar milik Jerricco. Tetapi ia yakin orang tua Miranda memiliki andil dalam dunia bisnis, atau bahkan mereka sama kayanya seperti Jerricco?
Damara tidak ingin menerka-nerka ia memilih melangkahkan kakinya mengikuti Miranda. Damara memperhatikan setiap sudut ruangan, serta menghitung banyaknya pengawal yang menjaga rumah tersebut.
“Kak ini Papa,” ujar Miranda.
“Selamat siang tuan, bisakah di percepat tes DNAnya!” Damara tidak ingin berlama-lama di tempat asing, apalagi melihat raut wajah orang yang mengaku sebagai Papanya.
Siapa yang tidak kenal Mark, ia adalah pebisnis yang sukses di usia paru baya. Semua perjuangannya terbayar sudah, setidaknya dunia mencatat bahwa ia pria kaya ke lima di dunia. Jika kalian percaya bahwa ada sosok wanita kuat yang ada di belakang kesuksesannya tetapi tidak pada Mark.
__ADS_1
Ia pria yang sukses tanpa ada wanita kuat di belakangnya, istrinya meninggal saat pernikahan mereka menginjak sepuluh tahun usia pernikahan mereka. Saat itu Miranda baru berumur tujuh tahun, sulit menjadi orang tua yang musti bekerja dan mendidik anak.
Yang jelas Mark telah berhasil mendidik Miranda, dan juga sukses menjadi pebisnis. Hanya saja hatinya sedikit rapuh melihat putrinya yang hilang. Dulu ia melihat anak pertamanya bayi menggemaskan yang berhasil meruntuhkan pertahanan air matanya saat melihat keturunannya lahir ke dunia. Tapi kini ia melihat putrinya tumbuh mejadi wanita dewasa yang mematung di depannya.
Mark berjalan menghampiri putrinya, ia memeluk putrinya dengan sangat erat meskipun ia tidak merasakan Damara membalas pelukannya. Tangannya terulur mengusap rambut Damara, “Kamu sudah tumbuh dewasa, dan menjadi wanita yang amat sangat cantik.”
Setiap perlukan yang di berikan pria yang mengaku sebagai orang tuanya Damara memilih diam membisu. Meskipun hatinya sedikit tersentuh mendapat perlakuan lembut dari pria yang bahkan Damara tidak akui sebagai Papanya.
Yang jelas Damara tidak ingin mudah percaya jika semuanya belum terbukti, ia takut jika ia salah mengambil langkah dengan mempercai orang yang bahkan baru Damara temui.
__ADS_1