
Jerricco merasa terganggu karena tubuh Damara yang terus bergerak gelisah. Ia membuka mata untuk melihat Damara. “Ini sudah malam, tidurlah.”
Mendengar ucapan Jerricco Damara membuka kelopak matanya, ia tidak bisa tidur. “Aku sudah berusaha My Lord, tapi tidak biasa.”
Jerricco melahap bibir Damara dengan lembut, cukup lama hingga mereka melepaskan penyatuan bibir mereka.
“Jangan terlalu berpikir negatif dan menganggap orang baru adalah musuh-musuhku, kau tidak akan pernah merasa tenang jika berpikir seperti itu.” Jerricco tahu Damara masih memikirkan tentang Mark, apalagi besok mereka akan bertemu untuk mengambil hasil tes DNA.
“Bukan hanya itu, tapi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Mark. Apalagi besok akan terbukti jika aku anak kandungnya.”
Jerricco menghapus bibir Damara yang basah akibat penyatuan bibir mereka. “Jika dia baik padamu makan bersikap baiklah padanya.”
Damara tidak menjawab ucapan Jerricco ia memilih memeluk tubuh Jerricco. Sebenarnya bukan hanya Mark yang mengganggu pikirannya, tetapi perutnya terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Pagi itu Damara terbangun lebih dulu, ia beranjak dari tempat tidurnya dengan perlahan. Ia memilih membersihkan tubuhnya sebelum menyiapkan sarapan untuk Jerricco.
Cukup lama Damara berkutat di dapur sekedar membuatkan roti lapis seperti biasa, hanya saja kali ini Damara membuatnya sedikit berbeda.
__ADS_1
Roti lapis buatnya sudah tersaji di meja di bantu oleh para pelayan. Kalau kalian ingin tahu ke mana para pelayan yang sering membicarakan Damara kini mereka tengah membersihkan dapur bekas Damara membuatkan sarapan untuk Jerricco.
Dari tempat duduk di meja makan Damara masih mendengar mereka membicarakan dirinya. Dari ucapan mereka Damara hanya menyimpulkan bahwa pelayan tersebut menghina hasil makanannya dan bertaruh bahwa Jerricco tidak suka dengan roti lapis yang di buatnya.
Damara memandangi roti lapis buatannya, sengaja ia memakai roti tanpa kulit yang ia bakar di atas pemanggangan. Jika biasanya ia menyisipkan keju serta daging kali ini Damara membuatnya menjadi roti lapis yang manis di temani secangkir cafe late hasil dari campuran espresso dan susu.
Ia memilih cafe late karena menurutnya minuman ini tidak terlalu manis dan cocok di padukan dengan roti lapis yang manis.
Damara melihat Jerricco yang tampak tersenyum saat melihat sarapan yang tersaji di atas meja makan. Mungkin setelah pesta pernikahan ini pertama kalinya Damara membuatkan sarapan untuk Jerricco.
“Terima kasih sayang.”
Damara mengambil satu roti lapis buatannya lalu menyuapi Jerricco. “Bagaimana rasa roti lapis buatanku My Lord?” tanya Damara dengan nada yang ia buat semanja mungkin. Damara sengaja bertanya sepeti itu untuk membungkam mulut jahat mereka,
“Il gusto del panino è ottimo.”
Senyum Damara semakin mengembang saat mendengar jawaban Arvan memujinya dengan bahasa Italia. Ia melirik pelayan yang menggunjingkan dirinya kini menunduk dalam-dalam.
__ADS_1
Jerricco tahu Damara melirik pada dua pelayan yang berdiri tidak jauh. Hasil rekaman CCTV seharusnya cukup meyakinkan Jerricco untuk memberhentikan dua pelayan tersebut. Tapi ada hal menarik yang cukup membuatnya terkejut. Ada orang asing yang membayar mereka untuk melepaskan kesetiaannya pada dirinya dan memberikan informasi apa pun pada majikan baru mereka.
Jerricco akan pastikan dua pelayan tersebut mendapat hukuman yang setimpal jika semuanya sudah selesai. Suapan demi suapan ia terima hingga roti lapis yang di buat Damara sudah habis.
“Sayang, aku akan menemanimu bertemu dengan Mark.” Jerricco melihat wajah Damara yang terlihat berseri.
“Terima kasih My Lord.”
Wajah Damara terlihat menggemaskan tanpa ragu Jerricco melahap bibir Damara yang berhasil membuatnya kecanduan yang tiada habisnya.
Rasanya Damara ingin menolak tetapi terlambat kini ia hanya mengikuti permainan Jerricco.
***
Il gusto del panino è ottimo. (Rasa roti lapisnya luar biasa)
__ADS_1