Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Bukan Wanita Bodoh


__ADS_3

Jerricco tidak bisa membiarkan Damara pergi begitu saja, dia membutuhkan wanita yang bisa membawanya pergi dari bayangan Mira yang selalu menghantuinya.  Jerricco menarik tangan Damara yang hendak berjalan, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”


Dengan malas, Damara membalikkan tubuhnya menatap Jerricco. “Aku tidak bisa berada di antara kalian, karena aku yang akan tersakati. Aku bukan wanita bodoh yang mau bertahan tanpa kepastian, bisa saja kau membuangku dan kembali bersamanya,” tegas Damara.


Damara tidak pernah bisa menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan, Dia tidak ingin hatinya tersakati sangat dalam karena hubungan ini.


“Dia sudah pergi untuk selama-lamanya.” Rasa sakit itu tergambar jelas di hati Jerricco, menjalin hubungan Mira bukanlah waktu yang sebentar. Delapan tahun Jerricco memadu kasih dengan Mira, sulit rasanya melupakan Mira wanita yang sangat di cintai Jerricco.


Damara menarik tangannya dari cekalan Jerricco, ia tahu bagaimana ibunya yang mencintai papa sampai sekarang. Meskipun sudah sepuluh tahun berlalu, Damara  tahu sang ibu masih mencintai mendiang ayahnya.


Damara menggelengkan kepalanya, “Tidak tuan, saya tidak bisa.”


Jerricco berlutut di hadapan Damara, “Saya mohon, saya butuh kamu untuk membantu saya melupakan dia.”


Bahkan lima tahun tidak cukup membuat Jerricco melupakan Mira, hati dan kepalanya masih terisi penuh oleh Mira.


Damara memejamkan matanya, dia tidak bisa melihat Jerricco berlutut di depannya. “Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya!”


Jerricco hanya bisa melihat punggung Damara yang menjauh darinya, dengan posisi berlutut Jerricco menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menahan Damara untuk tetap tinggal bersamanya. “Harusnya kau pergi Mira,” batin Jerricco.


Damara berjalan ke dalam rumah, di sana ada Kevin yang membawa kursi roda miliknya.


“Duduklah, nona.”

__ADS_1


Damara memilih duduk tanpa membantah, kakinya terasa sangat sakit. Setelah memastikan Damara duduk, Kevin mendorong kursi roda menuju kamar Damara.


“Ada yang bisa saya bantu lagi nona?”


Damara menunjuk tasnya yang ada di meja rias, “Kevin tolong ambilkan tas saya.”


Kevin menuruti perintah Damara, lalu memberikan sling bag itu pada Damara. “Nona mau pergi ke mana, biar saya temani. Nona tidak mungkin pergi sendiri dalam keadaan seperti ini.”


Damara tidak bisa pergi sendirian, jelas dia butuh seseorang yang mau membantunya. Setidaknya jika dia bersama dengan Kevin, kesulitannya bisa menjadi mudah.


“Aku ingin pergi ke suatu tempat.”


“Baik, nona.” Kevin mendorong kembali kursi roda Damara, setelah membantu Damara duduk di kursi penumpang. Kevin mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.


“Carikan aku penginapan, aku butuh waktu untuk sendiri.”


***


Siang itu Damara duduk seorang diri di atas tempat tidur, di dalam sebuah hotel yang di pilih oleh Kevin.


Damara memandangi layar ponselnya, yang menunjukkan kontak Alice sang ibu. Satu tetes air mata meluncur begitu saja, dengan rasa sakit saat mengingat Jerricco.


Damara membutuhkan tempat bersandar, dia bingung tidak tahu harus melakukan apa. Dia memberanikan diri untuk menelepon sang ibu, detak jantungnya berdebar menunggu panggilannya terhubung.

__ADS_1


“Halo, Rara apa kabar?” sapa ibu di seberang sana.


“Rara baik. Ibu apa kabar?” Damara berusaha menetralkan suaranya, agar sang ibu tidak tahu kalau dia habis menangis.


“Keadaan ibu baik, bagaimana dengan kabar Jerricco?”


“Tuan Jerricco baik-baik saja Bu.” Ada perasaan jangal di hati sang ibu, mendengar Damara masih memanggil suaminya dengan sebutan tuan.


“Jerricco ada di sana? Ibu ingin berbicara.”


“Bu,” panggil Damara dengan suara bergetar menahan tangis.


“Ada apa, sayang?” tanya ibu dengan nada khawatir.


“Apa sulit melupakan cinta pada orang yang sudah pergi untuk selamanya?”


“Jerricco-“ Alice menggantung ucapannya, dugaannya benar selama ini.


Alicia mendengar Damara terisak, “Kamu menyerah?”


Damara menghapus air matanya, “Aku tidak tahu Bu,” ucap Damara di sela tangisnya.


 

__ADS_1


__ADS_2