Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Pengkhianatan


__ADS_3

Damara menggosok hidungnya yang memerah akibat Jerricco, “Tuan jahat sekali.”


Jerricco malah tersenyum melihat mahakaryanya, hidung Damara merah seperti hidung badut.


“Kau tidak keberatan menikah dengan pria tua?” Jerricco sengaja menekan kata pria tua, untuk menyindir Damara.


“Bagainana lagi, tuan kan tidak membiarkan saya pergi.” Damara masih mengingat kata-kata Jerricco sebelum Jerricco pergi ke Italia.


“Kalau saya memberikan kesempatan untuk kamu pergi, bagaimana?”


Damara menghela nafasnya lelah, “Umur saya sudah tidak muda lagi tuan, di Indonesia itu bisa dianggap perawan tua. Saya enggak berharap banyak dengan pernikahan ini apalagi setelah mengetahui tuan tidak bisa melupakan wanita itu, tapi saya juga tidak ingin bercerai di usia pernikahan yang baru beberapa hari ini.”


Jerricco melihat sisi dewasa yang di tunjukan Damara, padahal sebelumnya ia terlihat seperti anak kecil yang mempermasalahkan umur Jerricco yang lebih tua.


“Lalu kenapa kau tidak menikah dengan pasanganmu, jika tidak ingin di anggap perawan tua?” sebenarnya Jerricco sedikit penasaran dengan kisah asmara Damara.


“Sayangnya saya tidak memiliki kekasih, yang mau mengucap janji suci.” Entah kenapa pipi Damara terasa panas, dia masih ingat bagaimana seriusnya Jerricco saat mengucap janji suci saat pemberkatan mereka.

__ADS_1


“Jadi kau tidak pernah memiliki kekasih?”


Wajah Damara yang bersemu merah kini berubah menjadi kesal, dia masih ingat betul tentang pengkhianatan yang di lakukan kekasihnya. “Aku pernah memiliki kekasih.”


Jerricco menangkap betul perubahan wajah serta nada bicara Damara. “Lalu?”


“Aku mendapatinya tengah berhubungan badan dengan wanita lain. Sama seperti tadi pagi, aku mendapati tuan tengah melakukan hubungan dengan wanita lain.” Amarahnya naik ke ubun-ubun, Damara mendorong tubuh Jerricco menjauh darinya.


Jerricco diam  membisu, hati Damara pasti sakit sekali. Di selingkuhi oleh pacarnya sendiri, dan sekarang oleh dirinya.


“Maaf.” Hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Jerricco, dia tidak bisa membela diri karena dia merasa bersalah telah menyakiti Damara.


“Itu apa?” Jerricco menunjuk benda yang ada di tangan Damara lewat sorot matanya.


“Lipstik.” Damara masih kesal, tapi dia bukan anak kecil  yang marah-marah tidak jelas dan masih mengungkit masalah yang sudah lalu, apalagi Jerricco sudah meminta maaf.


Meskipun terlihat munafik karena tidak memikirkan hatinya yang terasa sakit, menurut Damara ini yang terbaik.

__ADS_1


Jika masih terus membahas masalah pengkhianatan, artinya sama saja Damara menyakiti hatinya tapa sandar menamba lebar luka di hatinya.


“Lipstik untuk apa?”


Damara mengerucutkan bibirnya, ternyata Jerricco lebih cerewet. “Ini untuk bibir, masa tidak tahu.”


Jerricco membelai pipi Damara dengan lembut, “Jangan marah-marah seperti itu. Nanti cepat tua sepertiku.”


Damara memilih diam tanpa mau menatap Jerricco, “Tolong simpan  kembali ke tempatnya tuan, terima kasih.”


Jerricco mengikuti keinginan Damara, dia menarik tangannya dari pipi Damara lalu menyimpan keranjang make-up milik istrinya.


Damara memperhatikan kakinya yang bengkak, dia ingin cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya.


“Apa kau tidak ingin pergi bulan madu?”


Pertanyaan Jerricco langsung di jawab galengan oleh Damara. Jerricco naik ke tempat tidur dan kembali duduk di samping Damara.

__ADS_1


“Bukan bulan madu yang melakukan itu. Kita bulan madu untuk lebih mengenal satu sama lain.”


__ADS_2