
Maaf terlambat update, Happy reading 💞
***
Siang itu Damara sedang mengerjakan pekerjaannya, ia melirik ponsel miliknya yang berada di atas meja dengan layar yang gelap. Damara menyalakan layar ponselnya berharap ada notifikasi atau panggilan dari Jerricco, ia menghela nafas lelahnya karena tidak menemukan apa pun di ponselnya mengenai Jerricco.
Damara menyangga dagunya menggunakan telapak tangan ia fokus memperhatikan bingkai foto pernikahan. Damara sengaja memanjang foto tersebut dengan bingkai putih yang ia letakan pada meja kerja miliknya. ‘Apa Jerricco sudah melupakan Mira’ tanya Damara di dalam benaknya. Sebetulnya saat kemarin Jerricco menelepon Damara berharap Jerricco mengabarinya bahwa dia akan pulang, tapi ternyata hanya bertanya persoalan tidak penting, dan tidak ada sangkut paut mengenai hubungan mereka.
Perkerjaannya masih menumpuk tapi Damara tidak bisa fokus karena pikirannya di penuhi Jerricco. Damara memilih ke toilet untuk mencuci wajahnya yang lusuh. Setelah kulit wajahnya terkena air Damara sedikit merasa segar, sehingga dia bisa fokus mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk.
Tetapi saat memasuki ruang kerja Damara melihat Jerricco yang tengah duduk di sofa. Damara sampai mengucek mata karena ia pikir sedang berhalusinasi.
“Dari mana?” Mendengar suara yang seharian ini mengganggunya membuat Damara tersenyum tipis. Ada perasaan gembira di hatinya melihat Jerricco yang menemuinya.
“Dari toilet.” Damara duduk di samping Jerricco, ia tersenyum lembar. Damara menggeser tubuhnya menjauh dari Jerricco, ia sengaja memberi jarak.
__ADS_1
Jerricco memberikan tatapan tajamnya karena Damara menjauh darinya, “kenapa menjauh?”
Dalam hati Damara bersorak karena berhasil memancing Jerricco. Ia menutup hidungnya, “Tuan bau matahari.”
Jerricco mencium aroma tubuhnya dari mulai lengan hingga ketiaknya, “Sembarangan, ini masih wangi farfum mahalku.” Jerricco tidak terima di sindir tubuhnya bau, padahal tidak bau sama sekali.
“Cih sombong,” ketus Damara. Bisa-bisanya Jerricco menyombongkan parfum mahal, tapi Damara mengakui bahwa aroma tubuh Jerricco memang wangi yang sangat ia rindukan dua minggu ini.
Jerricco menjepit hidung Damara hingga memerah. “Aaah sakit, lepaskan.” Jerricco tidak memedulikan permintaan Damara. “Kau memang harus di beri pelajaran karena berbuat tidak sopan pada suami.”
Damara balik mencubit perut Jerricco, dan memelintirnya.
Damara malah sengaja mencubit dengan sepenuh tenaga untuk meluapkan kekesalannya pada Jerricco. “Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa berjalan dengan benar saat keluar dari ruangan ini.”
Damara menarik tangannya dia takut dengan ancaman yang di berikan Jerricco. “Kenapa tuan kemari?” Damara sengaja memberikan pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Memangnya tidak boleh jika aku ingin menemui istriku.” Damara menggelengkan kepalanya, ia terkejut saat Jerricco mendekat dan memeluk tubuhnya.
“Tidak ada larangan menemui istrinya jika seorang suami menemui sang istri untuk melepas rindu.” Mendengar ucapan romantis Jerricco pipi Damara terasa panas, ia membenamkan wajahnya agar Jerricco tidak melihat pipinya yang berubah menjadi merah karena gombalan Jerricco.
Apa yang di keluar dari mulut Jerricco bukanlah sebuah bualan tetapi murni dari hatinya. Jerricco merasa bahwa ia mulai tertarik pada Damara, beruntung selama di Italia ia tidak pernah sekalipun mimpi bertemu Mira sehingga ia bisa melupakan mantan kekasihnya dengan perlahan.
Jerricco menikmati pelukan mereka, ia merindukan tubuh mungil Damara. Tangannya mengelus rambut sebahu milik Damara. “Apa kau merindukanku?”
Jerricco merasakan Damara menggelengkan kepala sebagai jawaban. Jerricco melepaskan pelukannya ia mendorong tubuh Damara sedikit menjauh.
Damara melirik tangan tangan Jerricco yang memegang dua sisi bahunya. Tatapannya terlihat mengintimidasi, “Cepat katakan kau juga merindukanku.”
“Kenapa Tuan memaksaku?”
“Cepat katakan! Tidak usah banyak bicara.”
__ADS_1
Kening Damara mengerut, namun setelahnya ia memilih mengalah. “Iya aku merindukan Tuan, puas?”
Jerricco tersenyum dan melahap bibir Damara, tangannya menarik pinggang Damara untuk mengikis jarak di antara mereka.