Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Perbedaan


__ADS_3

Pagi itu Damara bangun lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkan roti lapis yang lebih enak. Ada enam roti lapis yang Damara buat, Damara memijat pelipisnya.


Damara membawa satu roti lapis untuk Jerricco, dan menyajikannya di atas meja. Ia duduk di samping Jerricco, “Roti lapisnya.”


Jerricco membawa roti lapis tersebut menggunakan tangannya, ia menggigit dan mencecap roti lapis yang sedang ia kunyah. “Rasanya masih sama,” ujar Jerricco.


“Masa sih,” ucap Damara sambil membuka mulutnya. Jerricco menyuapi Damara dan memperhatikan wajah Damara. “Samakan rasanya?”


“Rasanya beda kok, mana sini aku coba lagi,” Damara mengunyah sambil menahan senyum melihat Jerricco yang serius memperhatikannya.


Jerricco yang penasaran memakan gigitan terakhir yang ada di tangannya. “Ini sama kayak kemarin,” protes Jerricco.


“Beda kok rasanya,” sangkal Damara.


“Beda bagaimana? Rasanya sama.” Jerricco tidak mau kalah rasanya masih sama seperti kemarin.


Damara mengambil potongan roti lapis yang ada di piring lalu menyuapi Jerricco. Sementara Jerricco menerima suapan Damara dan mengunyahnya.

__ADS_1


“Bedakan?”


Jerricco menggeleng, “Sama saja.” Jerricco membuka mulutnya lagi saat Damara menyuapinya.


“Rasanya beda sayang, masa kamu enggak bisa membedakan sih,” keluh Damara pura-pura kesal.


“Apa bedanya?”


“Kalau sekarang kan aku suapi, jadi ada rasa cinta-cintanya gitu.” Damara mengulum senyum dengan gombalan yang keluar dari mulutnya. Jujur dia pun bingung dengan roti lapis yang lebih enak karena semua resepnya sama saja, roti lapis pada umumnya.


Jerricco menghentikan gerakan mulut yang sedang mengunyah. Ia menatap mata Damara dengan pandangan tidak mengerti, “Rasa cintanya dari mana?”


Jerricco sedikit bingung mencerna ucapan Damara, ‘Apa Damara mencintaiku?’ tanya Jerricco di dalam hatinya. Semburat senyum timbul di wajahnya, ia berharap Damara mencintainya.


“Aku  berangkat dulu,” pamit Damara. Kakinya melangkah menuju kamar mereka untuk mengambil tasnya. Damara mendengar suara pintu yang terbuka, lalu ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


Damara membiarkan posisi itu selama beberapa menit. Dia tidak bisa mengelak jantungnya berdebar jika berdekatan dengan Jerricco. “Tu-“ hampir saja Damara keceplosan memanggil tuan. “Sayang lepas aku harus berangka bekerja,”  ucap Damara lembut sambil berusaha melepaskan tangan Jerricco yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


“Tidak usah bekerja!”


Damara mengatupkan bibirnya rapat-rapat memikirkan keinginan Jerricco yang tiba-tiba. “Tap-“


“Aku tidak menerima penolakan!”


Damara mendengar nada perintah dari ucapan Jerricco. “Baik My Lord, aku tidak akan pergi bekerja.” Damara merasakan embusan nafas di ceruk lehernya, geli.


Jerricco memberikan tanda kepemilikan di kulit putih Damara yang kini berubah warna karenya. “Jangan berlebihan sayang, aku masih kedatangan tamu bulanan,” ucap Damara dengan nada sensual memancing gairah Jerricco.


‘Shit’ batin Jerricco. Hanya mendengar nada sensual Damara, gairahnya bangkit bahkan miliknya sedikit bangun di tengah tidurnya. “Sayang kau membuatku bangun di pagi hari, aku tidak ingin mandi dua kali pagi ini.”


Damara terkekeh mendengar ucapan Jerricco, ia membalikkan tubuhnya dan menatap lekat mata Jerricco. Dia ingin tahu sejauh mana Jerricco bisa menahan gejolak di tubuhnya.


Jerricco menahan tangan Damara yang mulai nakal membuka kancing kemeja teratasnya, “Kau ingin sebuah hukuman sepertinya.” Jerricco menyeringai lalu mendorong tubuh Damara ke atas tempat tidur.


Jerricco mengunci tubuh Damara dengan kedua tangan dan kakinya. Jerricco mengikis jarak di antara mereka hingga kening mereka menempel. Dengan jarak deka Jerricco bisa melihat manik Damara, ada debaran di hatinya melihat wajah Damara yang tersenyum.

__ADS_1


“Aku menunggu hukuman itu My Lord.”


__ADS_2