
Kevin membungkukkan badan untuk memberi hormat saat melihat Robert menghampirinya. Robet berjalan masuk ke dalam kereta cepat berbentuk kapsul tersebut dan duduk berhadapan dengan Damara.
Damara memilih menundukkan kepalanya saat pria yang ia kenal dengan nama Robet memperhatikannya. Dia terkejut saat pintu tersebut tertutup. Rasa canggung menyelimutinya ia pikir Kevin akan ikut bersamanya.
Robert mengontrol laju transfortasi yang ia naiki melalui telepon genggamnya. Dia memperhatikan Damara yang masih menunduk tidak berani menatapnya, Robert memang beberapa kali bertemu dengan Damara tapi hanya menatap sekilas.
Transportasi masa depan yang di ciptakan oleh perusahaan Jerricco sudah mulai berkembang, mungkin kalian pernah mendengar hyperloop Transportasi berkecepatan tinggi. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di tempat tujuan, Robet turun di ikuti Damara yang berjalan di belakangnya.
Damara hanya mengekor di belakang Robert tanpa suara. Ia ikut masuk ke dalam lift saat Robert menatap matanya saat ia malah diam membisu di depan lift.
Lift tersebut mulai naik, dada Damara rasanya bergemuruh dia tidak tahu dirinya ada di mana. Damara tidak berani untuk bertanya, ia hanya menatap sekeliling saat pintu lift terbuka.
Hamparan rumput hijau menyambut kedatangannya, dari tempatnya dia bisa melihat lautan. ‘Ini di mana?’
“Ini pulau pribadi milik Lord Jerricco, untuk berlatih senjata.”
__ADS_1
Damara terpaku saat tiba-tiba Robert menjawab pertanyaan yang ada di dalam pikirannya. Ia melihat sebuah bangunan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, bangunannya tidak terlalu megah. Bentuknya tidak seperti sebuah rumah, tetapi seperti bangunan bertingkat pada sebuah gedung Aesthetic.
Dari kejauhan seorang pria menghampiri mereka dan membungkuk hormat. Lewat tatapannya Robert meminta Damara untuk berjalan mengikutinya.
Damara hanya mengikuti arahan. Matanya memperhatikan setiap jalan yang di laluinya, hanya sebuah lorong panjang yang membawanya ke sebuah ruangan berbentuk persegi yang kosong. Matanya tertuju pada Robert yang berjalan beberapa langkah di depannya.
Damara melihat Robert yang menempelkan telapak tangannya pada dinding lalu keluar sebuah rak yang berisikan senjata api tertata rapi dengan berbagai jenis. Ia sungguh takjub melihat sesuatu yang baru ia lihat. “Nona harus belajar menggunakan senjata api untuk menjaga diri Nona. Meskipun pengawal Nona memiliki keahlian bela diri untuk menghadang musuh, tidak menutup kemungkinan mereka bisa melukai Nona.”
Mata Damara membola seketika mendengar ucapan Robert, “Ta-tapi.”
Pria tersebut membungkuk hormat pada Robert lalu melakukan hal yang sama pada Damara. “Mari Nona.”
Damara mengikuti pria itu yang berjalan mendekati Robert.
“Senjata api adalah alat pertahanan yang paling mudah di gunakan dalam melumpuhkan lawan.” Pria yang di tunjuk Robert mulai menyampaikan penjelasan pada Damara.
__ADS_1
Damara meneliti setiap senjata yang pertama kali ia lihat.
“Senjata api bisa di gunakan untuk melumpuhkan lawan dari jarak jauh atau jarak dekat.”
Damara mulai menyimak setiap penjelasan mengenai berbagai jenis senjata api. Tangannya sesekali menyentuh senjata api yang di jelaskan oleh pria tersebut. Meskipun seperti ada beban berat yang hinggap di lubuk hatinya tetapi dirinya senang bisa mempelajari setiap senjata yang baru ia jumpai.
Sementara di suatu ruangan yang di lantai teratas Jerricco memperhatikan wajah Damara yang tampak serius mendengarkan materi yang di berikan oleh bawahan Robert lewat layar monitornya. Ia merasa beruntung setidaknya Damara tidak memberi penolakan. Damara malah terlihat antusias dengan rasa ingin tahu yang di tunjukkan lewat pertanyaan yang Damara lontarkan. ‘Kau layak bersanding denganku’ batin Jerricco.
***
Aku sudah melanjutkan, jadi tolong untuk berhenti memberikan pertanyaan yang menyudutkan adikku ‘Andrieta Rendra’.
Terima kasih kepada seluruh pendukung Arvan dan Damara yang sudah memberikan support unukku, love u 💞
__ADS_1