Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Menuju Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah makan siangnya selesai Damara tidak mendengar Galang memanggilnya, namun ia harus memastikan bahwa pekerjaan menyambut tamu harus di pastikan berjalan sampai mereka pulang. 


Damara kembali berjalan menuju ruangan VIP, di sana tidak ada Miranda atau pun Galang. Dia mengambil telepon genggam yang ada di sakunya untuk menelepon Galang.


“Selamat siang, pak,” ujar Damara saat telepon terhubung.


“Ada apa?”


Damara mengerutkan dahinya mendengar suara Galang yang terdengar frustrasi, “Bapa di mana? Bukankah sesi fotonya belum usai.”


“Saya di rumah sakit, Icha jatuh.”


‘Deg’


Damara merasa lemas mendengar informasi yang di berikan Galang, “Rumah sakit mana pak?”


“Rumah sakit xxxx. Bawakan tas saya yang tertinggal di ruang VIP”


“Baik pak, saya ke sana sekarang juga.” Setelah menutup telepon Damara sedikit berlari mengambil tas milik Galang yang tertinggal. 


Perasaan Damara tidak karuan mendengar Icha jatuh sampai di bawa ke rumah sakit, bahkan dengan heels yang di pakainya Damara setengah berlari menuju ruangan untuk mengambil barang-barang miliknya.

__ADS_1


Kevin yang  melihat Damara tergesa-gesa segera menyusul Damara yang keluar dari restoran, “Nona, mau ke mana?”


Damara menghentikan langkahnya, “Aduh apa lagi sih. Aku mau ke rumah sakit.” Damara tidak memedulikan tatapan tajam Kevin, dia berjalan untuk sampai ke boots milik Galang.


Sesampainya di boots Damara menatap Kevin, “kau mau ke mana?”


“Saya ikut nona,” tegas Kevin.


“Untuk apa sih kau selalu mengikutiku?” tanya Damara dengan nada ketus.


“Ke mana pun nona pergi saya akan ikut, karena ini perintah yang di berikan Lord Jerricco.”


“Saya tidak akan ikut, saya harus memastikan nona tidak masuk ke dalam jurang.”


Damara mengibaskan tangannya, “Iya, terserah kau saja lah.”


Boots yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan pulau kanawa, setelah sampai di Labuan Bajo Damara dan Kevin kembali ke mobil tempat mereka parkir. 


Kevin membukakan pintu untuk Damara, setelah memastikan Damara sudah duduk tenang kevin  mengitari mobil dan duduk bagian kemudi.


“Rumah sakit mana nona?” Kevin mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


“Rumah sakit xxxx.”


Mobil yang di kendarai Kevin membelah jalan di tengah matahari yang sedang terik-teriknya, Damara merasa tidak tenang ia menautkan kedua tangannya dengan perasaan gelisah.


Tidak butuh waktu lama mobil yang di kendarai Kevin sampai di rumah sakit, Damara langsung berjalan menuju meja informasi dan menanyakan ruang rawat Icha. Setelah mendapat informasi mengenai ruangan Icha, Damara berjalan setengah berlari di antara para manusia yang berlalu lalang.


“Nona,” panggil Kevin. Dia tidak bisa membiarkan Damara terus-terusan berlari, di tengah kerumunan.


Damara tidak mengindahkan panggilan Kevin dia terus berjalan untuk menemukan ruang rawat Icha. Damara mengetuk sebentar pintu ruangan VIP, lalu masuk ke dalam. 


Sementara Kevin tidak berniat untuk ikut masuk, ia duduk di kursi tunggu lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jerricco. Di sambungan kedua telepon terhubung, “Selamat sianh Lord,” sapa Kevin. 


“siang, apa Damara sudah makan siang?” 


“Sudah Lord. Saya dan nona sedang berada di rumah sakit, teman nona mengalami kecelakaan kecil.”


“Jaga Damara, ingatkan dia untuk tidak terlalu lelah dalam bekerja. Kamu harus pastikan dia pulang tepat waktu, tidak ada kata lembur,” titah Jerricco.


 Sebenarnya Jerricco ingin sekali membawa Damara ikut bersamanya, namun dia lebih memilih mengalah. Bagaimana pun yang di lakukannya pada Damara sungguh keterlaluan, Jerricco hanya berharap dia bisa melupakan kenangannya dengan Mira dan memulai hidup baru dengan Damara.


“Baik, Lord.”

__ADS_1


__ADS_2