
“Aku tidak akan membiarkan kesempatan itu hadir.” Ucapan Jerricco cukup membuatnya kecewa, Damara terasa di kekang.
“Tujuan kamu mengikat aku dalam janji suci ini untuk apa?”
Jerricco menatap manik Damara, “Untuk menemani hari-hariku.”
Damara tidak habis pikir dengan ucapan Jerricco, sangat sederhana sekali jawaban yang keluar dari mulut Jerricco. “Kenapa harus aku, masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari aku.”
Jerricco mendekati Damara, tangannya terulur meraba pipi putih sang istri. “Karena aku mau kamu.”
Damara menunjuk dirinya, “Aku?” tanya Damara dengan nada mengejek. “Bahkan tadi, kamu tidak menginginkan aku!” tegas Damara.
Tidak kuasa menahan air matanya, Damara berjalan meninggalkan Jerricco.
Jerricco memejamkan matanya melihat kepergian Damara, helaan nafas keluar dari mulutnya. Jerricco melangkah menyusul Damara, ternyata dia melihat Damara masuk ke dalam kamar mereka.
Melihat Damara yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Jerricco duduk di pinggiran tempat tidur, tepatnya di sisi tubuh Damara.
Tangannya terulur membelai rambut pendek Damara, “Bukan aku tidak menginginkanmu, tapi aku terkejut mendapati dirimu yang pertama kali melakukan ini.”
Damara menepis tangan Jerricco, “Seharusnya kamu bersyukur, bukan malah mencampakkan aku. Kamu pikir aku ini apa, robot yang tidak memiliki hati,” tukas Damara. Bahkan dia lupa memanggil Jerricco dengan sebutan tuan.
“Saya tidak bermaksud seperti itu, maaf.”
“Kata maaf tidak cukup untuk mengobati sakit hati saya!” tegas Damara. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya serta menenggelamkan wajah kesalnya.
__ADS_1
“Kau mau saya melakukan apa? Saya akan mengabulkannya asal kau bisa memaafkan saya,” ucap Jerricco dengan nada memohon.
“Aku tidak ingin pergi ke Italia, aku ingin di sini dan bekerja seperti biasa.”
Ucapan Damara terdengar jelas, meskipun terhalang selimut tebal. Jerricco menarik selimut yang menutupi wajah Damara, “Baiklah jika itu maumu, tapi saya harus tetap kembali ke Italia.”
Damara melihat pancaran kesedihan dari kelopak mata Jerricco, tapi dia ingin menenangkan hatinya dulu. Apa yang di lakukan Jerricco padanya, sedikit membuat luka di hatinya.
“Iya,” jawab Damara singkat. Dia memejamkan matanya, tidak memedulikan Jerricco yang masih berada di sampingnya.
***
Pagi itu Damara sudah siap untuk pergi bekerja, begitu juga dengan Jerricco yang sudah siap untuk kembali ke negaranya.
Damara melihat Kevin yang datang dengan setelan jas rapi. “Tuan, pesawat sudah siap.”
Saat mendengar suara kursi yang di geser Damara memilih diam tidak bergeming, pandangannya fokus pada piring di hadapannya.
Suara langkah yang menjauh, Damara mencoba mengangkat kepalanya dan melihat ke arah samping. Di sana masih ada Kevin yang kini menatapnya, “Apa?”
“Sebagai istri yang baik, nona harus mengantar keberangkatan Lord Jerricco.” Suara Kevin terdengar tegas, dan tidak menerima alasan dari lawan bicaranya.
Damara menyimpan sendok yang sedang ia pegang, dia berjalan menyusul Jerricco dengan langkah tenang tanpa tergesa-gesa.
Saat kelua dari pintu utama, Damara melihat Jerricco yang sedang menerima telepon, entah dari siapa Damara tidak tahu.
__ADS_1
Pandangan Damara bertemu dengan manik hitam milik Jerricco. Damara mencoba memberikan senyum untuk Jerricco, saat melihat Jerricco menyimpan ponselnya ke dalam saku.
“Hati-hati,” ucap Damara. Dia melihat senyum tipis Jerricco yang sangat jelas.
Satu kecupan mendarat di kening Damara. “Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu lelah.”
Damara terkejut mendapati perlakuan Jerricco yang sangat lembut. Bahkan Damara mengira Jerricco akan marah karena dirinya menolak ikut.
“Baik, tuan.” Damara membungkuk hormat pada Jerricco.
Kevin membuka pintu mobil untuk Jerricco. “Silakan, Lord.”
Damara memperhatikan Jerricco yang masuk ke dalam mobil, dan mobil itu melaju keluar dari gerbang.
“Kenapa masih di sini?” tanya Damara pada Kevin yang masih diam di tempatnya.
Mendengar pertanyaan dari Damara, Kevin memosisikan tubuhnya menghadap Damara. “Saya sudah di perintahkan untuk menjaga nona.”
“Lalu tuan Jerricco?”
“Nona tidak perlu mencemaskannya. Nona segera bersiap, bila tidak ingin datang terlambat,” ucap Kevin sambil memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Damara berjalan masuk, dia tidak ingin terlambat datang ke restoran. Karena hari ini ada tamu penting, yang harus dia sambut.
__ADS_1