
Robert mengacuhkan bentakan Damara, ia berjalan lebih dulu untuk melihat situasi. Benar seperti dugaannya, lantai dua tempat Damara di sekap kosong. Ia menajamkan pendengarannya untuk mencari tanda-tanda kehidupan.
Damara berdiri di belakang Robert, ia melihat ke sekeliling. Sepertinya ini bangunan tua yang terbengkalai, lantainya pun sangat kotor. ‘Fernandes pria kaya tapi mengurungku di tempat murahan, sepertinya dia tidak benar-benar kaya batin Damara.
“Fernandes beserta pasukannya menunggu kita di lantai bawah,” ujar Robert. Ia menyiapkan senjata api untuk melawan pasukan Fernandes.
“Kalau hanya berdua, yang ada aku mati.” Damara tidak bisa membayangkan Jerricco menikah lagi dan melakukan kegiatan panas di atas tempat tidur.
“Aku tidak sebodoh itu Nona.”
“Ya sudah cepat, aku ingin pulang.”
Robert mengangkat senjatanya, ia harus waspada. Musuh bisa datang dari mana saja, lengah sedikit nyawa taruhannya.
Damara ikut menyiapkan senjatanya, saat ia dan Robert menuju anak tangga lantai satu.
Mereka berjongkok, mengintip dari balik pilar untuk melihat aktivitas di bawah. Ada sepuluh orang yang menyambut kedatangan mereka, menurut Robert ini mudah di kalahkan.
Ia menekan tombol yang ada di jam tangannya untuk memberi informasi kepada bawahannya untuk segera memasuki gedung.
Dari tempat mereka berjongkok Robert membidik salah satu suruhan Fernandes yang berdiri di depan pintu masuk.
Dor!
Robert menatap Damara tajam, bagaimana bisa Damara mendahuluinya, dan yang membuatnya kesal karena tembakan Damara meleset.
Damara tersenyum simpul, “Itu pemanasan.”
“Gunakan baik-baik, jangan sampai kehabisan peluru,” ucap Robert penuh penekanan dengan suara berbisik.
Derap langkah kaki menaiki tangga terdengar jelas di telinga Robert. Perbuatan Damara memancing orang-orang di bawah.
Dor!
Robert berhasil melumpuhkan satu orang pria dengan satu kali tembakan.
Ambruknya tubuh pasukan mereka membuat orang-orang di bawah sana berlari menuju tangga. Mereka menembak secara brutal.
__ADS_1
“Anarkis!”
Damara mendengar umpatan pelan Robert, dia membidik dan menembak orang-orang yang berada dalam jangkauannya.
Melihat tindakan berani Damara, Robert memberikan pengawalan untuk menjaga Damara.
Lewat bola matanya Robert memberi perintah agar Damara fokus ke arah utara.
Robert berlari pada pilar tangga di bagian utara, ia mengarahkan senjatanya mengintai musuh di area barat.
Mendengar perintah Robert Damara mengikuti arahan tersebut. Dirinya memang tidak bisa memberikan fokus pada seluruh musuh.
Dor! ... Dor! ... Dor!
Tembakan Damara mengenai beberapa musuh di depannya. Ia bersembunyi saat musuhnya memberikan tembakan membabi buta.
Suara tembakan itu tidak lagi mengarah padanya, ia kembali membidik musuhnya. Menembak musuh yang mampu ia jangkau.
Peluru yang baru saja terlepas berdesing panas beradu di udara dengan tembakan lainnya yang di berikan oleh musuh.
Dugaan Robert ternyata salah, pasukan yang di siapkan Fernandes cukup banyak. Mereka berdatangan dengan jumlah yang cukup banyak.
“Saya akan ke bawah, Nona tunggu di sini.”
Damara mengangguk, dia tidak berani untuk turun ke bawah. Dirinya tidak memakai baju pelindung, yang jelas dia akan mati jika ada yang menembak dirinya.
Damara memilih bersembunyi, ia memberikan pengawalan dari tempatnya berdiri. Robert sudah berada di bawah, dan mulai menembak musuh.
Robert sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Dia tidak pernah lengah sedikit pun, senjata api yang di pegang nya menembak musuh dengan tepat sasaran.
Beberapa musuh mulai maju berusaha melumpuhkan Robert dengan pukulan, Robert berhasil menangkis pukulan tersebut lalu memukul kepala orang itu dengan senjata yang di pegang nya.
Serangan Robert membuat tubuh musuhnya ambruk ke tanah, dengan cepat Robert menarik pelatuknya.
Serangan dari arah lain datang menodongkan senjatanya, Robert menendang tangan musuh yang memegang senjatanya hingga jatuh ke lantai. Tidak membuang waktu Robert mengarahkan moncong senjatanya pada pria yang tubuhnya ambruk.
Dor! satu tembakan Robert berhasil merenggut nyawa musuh dalam hitungan detik.
__ADS_1
Tidak cukup sampai di situ orang-orang mulai menyerangnya dengan brutal. Robert menarik senjatanya yang lain, kini tangan kanan dan kirinya memegang senjata.
Tangannya menembak ke depan melumpuhkan beberapa musuh. Hampir saja peluru mengenai lengannya, ia menyadari hal itu lalu mengelak dan kembali menembak musuhnya.
Beruntung dirinya tidak sendirian setidaknya ada pasukannya yang datang membantu, membuat pekerjaannya lebih mudah.
Dor!
Dor!
Peluru yang baru saja terlepas itu berdesing panas beradu di udara saling bersahutan dengan tembakan lainnya yang dilepaskan oleh musuh.
Robert berhasil melumpuhkan musuh-musuhnya, orang suruhan Fernandes berserakan di tanah tidak sadarkan diri. Seorang pria menghampiri Robert, dan membungkuk memberi hormat.
“Ada tugas lain Tuan?”
Sementara di lantai atas rasa bangga tergambar jelas pada wajah Damara karena berhasil melumpuhkan semua musuhnya, itu artinya dia bisa segera pulang dan menemui Jerricco.
Tubuh Damara membeku seketika saat todongan senjata tepat di kepala bagian belakang.
‘Sial’ umpat Damara.
“Sepertinya kau tidak berharga di mata Jerricco, buktinya dia menyuruh kacung untuk menyelamatkanmu.” Fernandes menyeringai melihat Damara diam membeku, satu tarikan pelatuk dari jarinya bisa membuat Damara mati dalam hitungan detik.
Damara menghembuskan nafasnya perlahan, rasa sesak itu ada timbul di hatinya. Bagaimana pun ada rasa kecewa di hatinya, ternyata Jerricco tidak datang untuk menolongnya.
Dirinya tidak akan lemah hanya karena ini, yang jelas ia tidak akan membiarkan siapa pun menikmati tubuh Jerricco.
Dari tempatnya berjongkok Damara mencoba bangkit untuk berdiri, maniknya memperhatikan Robert yang berbicara dengan seseorang dan tidak melihat ke arah dirinya.
Sepertinya Damara harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri, tidak ada waktu untuk meminta bantuan pada siapa pun.
***
Selamat pagi semuanya, maaf ya terlambat update ada sedikit musibah yang menimpa ku.
Jangan lupa dukungannya ya supaya aku semakin semangat update 🥰
__ADS_1