
Damara memakai baju dengan ari mata yang terus mengalir, bagaikan air terjun yang tiada habisnya. Sakit rasanya jika orang yang sudah menjadi suami sah di mata agama dan hukum, tapi masih memiliki wanita lain yang Damara sendiri tidak tahu sama sekali tentang Jerricco.
Damara memilih menghapus air matanya, setelah selesai memakai bajunya. Dia berjalan keluar dari kamar dengan susah payah, Damara tidak peduli dengan denyutan di kakinya.
Kevin hendak menuju kamar Jerriccoh tetapi dari tempatnya berdiri, dia melihat Damara yang menghapus air mata dan berjalan menuju belakang. Dia memilih mengikuti Damara hingga langkahnya berhenti saat melihat Damara duduk di pinggiran kolam. ‘ Apa yang terjadi?’
Damara membutuhkan udara segar, dia berjalan menuju kolam air mancur. Di tatapnya ikan yang berwarna-warni di dalam kolam, Damara duduk di pinggiran kolam tangannya terulur pada kolam. Setidaknya dia butuh menenangkan hatinya, yang terasa di remas dengan sangat kuat.
Kevin memilih melangkah pergi untuk menghampiri kamar Jerricco. Dia mengetuk pintu kamar Jerricco, “Lord Jerricco.”
Jerricco yang mendengar suara orang yang memanggil namanya terbangun dari mimpi yang menyesakkan dadanya. Dia mengacak-acak rambutnya, kepalanya terasa berdenyut lagi-lagi ia mimpi melakukan hubungan badan dengan Mira.
Jerricco bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu, saat pintu di buka Jerricco bisa melihat Kevin yang berdiri di depannya. “Ada apa?”
__ADS_1
“Apa kaki nona Damara sudah sembuh?”
Jerricco menaikkan satu alisnya, “Sepertinya belum, memangnya kenapa?”
Dari jawaban Jerricco, Kevin yakin tuannya tidak melihat Damara keluar dari kamar. “Nona Damara ada di halaman belakang.”
Jerricco berjalan masuk ke kamarnya untuk memastikan keberadaan Damara, karena seingatnya Damara sedang mandi. Langkah Jerricco terhenti di ambang pintu kamar mandi yang terbuka, di sana kosong tidak ada siapa-siapa.
Jerricco menyusul Damara menuju halaman belakang, di lihatnya Damara yang sedang menghapus air matanya. “Kamu kenapa menangis?”
Jerricco duduk di pinggiran kolam tepat di hadapan Damara, “Siapa yang kau maksud?”
Air matanya kembali menetes, Damara tidak bisa pura-pura terlihat baik-baik saja di hadapan Jerricco. Meskipun dia belum mencintai Jerricco tapi rasanya sakit sekali. “Wanita yang tuan panggil dengan sebutan Dear. Wanita yang selalu datang ke dalam mimpi tuan.”
__ADS_1
Tubuh Jerricco membeku seketika, lidahnya terasa kelu. Dia tidak menyangka akan secepat ini Damara mengetahuinya, padahal Jerricco berharap Damara tidak mengetahui masalah ini. Karena ini akan menyakiti Damara, dan Jerricco tidak memiliki alasan agar Damara tetap tinggal bersamanya.
“Apa aku hanya istri simpanan?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya sendiri, sangat menyesakkan tapi Damara ingin tahu kebenarannya.
Melihat Damara meneteskan air mata, membuat dada Jerricco terasa sesak. Ada rasa tidak rela, melihat wanitanya menangis. Tangannya terulur untuk menghapus air mata Damara, “Kau satu-satunya istri sahku.”
Damara menepis tangan Jerricco, “Tapi wanita itu yang tuan cintai, dan wanita itu yang selalu ada di hatimu, tuan. Bukan aku,” Damara tersenyum dengan butiran bening yang mengalir dari kelopak matanya.
Hati Jerricco terasa sakit, melihat senyum kepedihan yang di tunjukan Damara. “Wanita itu sudah pergi!”
Dengan jelas Damara melihat luka yang terpancar dari manik Jerricco, “Tapi dia masih ada di hatimu, tuan. Meskipun kita sudah menikah, aku tahu cintamu bukan untukku, begitu juga denganku. Aku tidak mencintaimu tuan.”
Damara menarik nafas, “Maka biarkan aku pergi, kejarlah wanita itu.”
__ADS_1
Damara bangkit dari duduknya, bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan. Damara tidak sanggup bersama Jerricco, jika suaminya sendiri mencintai perempuan lain.