Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Pulau Jeju


__ADS_3

Kurang lebih mereka hampir empat jam berada di jet pribadi Jerricco,  akhirnya jet pribadi milik Jerricco telah sampai di bandar udara internasional Jeju, Korea Selatan.


Jerricco memilih negeri ginseng untuk liburan bulan madunya dengan Damara, pulau Jeju memiliki sejuta pesona untuk dieksplorasi.


Saat keluar dari jet pribadi milik Jerricco mulut Damara menganga tidak percaya, menoleh ke belakang. “Tuan Anda tidak salah membawaku kemari?”


Jerricco bisa melihat wajah gembira yang terpancar dari Damara, “Kau suka?”


“Sangat.”


Jerricco menghentikan langkahnya, ia membungkuk lalu mengecup pipi Damara.


Damara hanya tersipu mendapat perlakuan Jerricco yang tiba-tiba, ada rasa malu dan rasa senang yang membuncah di hatinya.


Selama di perjalanan senyum Damara tidak memudar, ia asik melihat pemandangan jalanan yang mereka lalui. Tidak butuh waktu lama mobil yang di kendarai oleh supir sudah sampai di kediaman milik Jerricco.


Seperti biasa dengan sigap Kevin turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk Jerricco, Jerricco turun dan berjalan menuju pintu Damara.

__ADS_1


“Aku ingin berjalan, tidak mau pakai kursi roda.”


Jerricco terdiam memikirkan keinginan Damara, “Baiklah, jika kakimu  terasa sakit bilang padaku.”


“Baik tuan.” Damara meraih tangan Jerricco lalu berdiri, dia berjalan dengan perlahan sementara tangannya melingkar di lengan kekar Jerricco.


Jerricco tidak melihat raut wajah Damara yang meringis kesakitan, yang ia ligat Damara tersenyum lebar. Ternyata sangat mudah membuat Damara bahagia hanya dengan perlakuan sederhana, membuat kejutan kecil serta mengabulkan keinginannya kini Jerricco tidak lagi melihat rasa sakit yang Damara tunjukan saat di dalam jet pribadinya.


Tidak banyak pelayan yang menyambut kedatangan mereka, karena Jerricco jarang sekali datang ke kesini. Jika memang ada bisnis atau urusan penting ia baru singgah untuk semalam.


Rumahnya yang ada di pulau Jeju ini memang tidak terlalu besar, jika di bandingkan dengan kediamannya yang ada di Italia mungkin rumah ini hanya seperempat dari kediaman miliknya.


Damara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, perjuangan yang sangat melelahkan berjalan dari depan menuju kamar mereka.


“Kau lelah?”


“Sangat lelah,” jawab Damara dengan nada lesu.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kita istirahat saja.” Jerricco membaringkan tubuhnya di samping Damara.


Damara memiringkan posisinya menghadap Jerricco, dengan malu-malu tangannya terulur dan melingkar di perut Jerricco. Jerricco tersenyum lalu tangannya ia simpan di atas tangan Damara yang berada di perutnya.


Ini adalah perjalanan yang melelahkan bagi Damara, karena ini pengalaman pertamanya. Ia memejamkan mata dan kembali ke alam mimpi.


Jerricco mendengar nafas Damara yang teratur, ‘sepertinya istriku benar-benar kelelahan.’ Jerricco hanya diam memandangi langi-langit kamarnya, entah kenapa ia merasa aneh dengan mimpinya.


Mira tidak pernah menangis seperti itu, selama mereka berhubungan Jerricco mengenal betul siapa Mira. Sesakit apa pun, dia tidak pernah menangis tanpa suara pasti mulutnya merengek  atau keluar umpatan-umpatan.


Jerricco bisa melihat jelas sorot mata khawatir yang di pancarkan Mira, tapi ia tidak tahu arti dari bahasa tubuh yang Mira sampaikan. Karena selama ini Mira selalu merengek atau langsung berbicara kepadanya jika ada sesuatu hal yang sangat penting.


Jerricco masih ingat betul bagaimana bersikerasnya Mira mencoba menghubunginya saat ia sedang meeting, namun Jerricco sengaja menghiraukannya.


_-Flashback-_


Saat ia sudah selesai dan kembali ke ruangannya, Mira menampakkan wajah kesalnya. Bahkan berani mengambil majalah yang ada di meja lalu di lemparkan ke arahnya.

__ADS_1


Beruntung Jerricco dengan sigap menangkapnya sebelum mengenai wajahnya, dia mendekat dan membawa Mira ke dalam pelukannya.


Wajah Mira terlihat amat kesal, “Kenapa, Dear?”


__ADS_2