
“Sayang, bangun.” Kalimat yang terdengar sangat lembut, hati Damara merasa senang karena panggilan sayang itu terdengar sangat tulus.
Damara memilih membuka mengakhiri adegan pura-pura tidurnya untuk melihat sorot mata Jerricco, dia pura-pura mengerjapkan matanya sebelum membuka kedua kelopak matanya dengan sempurna.
“Ada apa?”
“Minum dulu obatmu, setelah itu kau boleh melanjutkan tidurmu.” Jerricco membantu Damara untuk bangun.
Damara menerima pil yang di berikan Jerricco lalu meminumnya, setelah itu dia menatap mata Jerricco. Ada rasa bersalah karena marah pada Jerricco, padahal pria di depannya ini begitu mengistimewakannya.
“Terima kasih.”
Jerricco tersenyum saat Damara masih mengucapkan terima kasih kepadanya, “Tidurlah kembali.”
Damara merebahkan tubuhnya kembali tapi pandangannya masih tertuju pada Jerricco, ia memejamkan matanya saat mendapati kecupan di keningnya.
__ADS_1
Jerricco sudah berjalan untuk keluar dari kamar, namun langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan Damara. “Mau ke mana?”
Jerricco membalikkan tubuhnya, “Ada pekerjaan yang harus aku urus.”
Damara menggigit kecil bibir bawahnya, ia merasa gugup saat ingin meminta sesuatu kepada Jerricco. “Aku tidak ingin tidur sendirian,” ucap Damara tanpa berani melihat wajah Jerricco.
Jerricco berjalan mendekat lalu naik ke atas tempat tidur, ia membawa Damara untuk mendekat padanya. Tangannya sengaja Jerricco gunakan untuk bantalan Damara, dengan jarak yang dekat Jerricco bisa melihat wajah Damara yang terlihat malu-malu.
“Tidurlah besok aku akan membawamu ke suatu tempat,” ucap Jerricco. Dia membawa tubuh Damara ke dalam pelukan hangat miliknya, entah mengapa Jerricco merasa ada debaran aneh saat berdekatan dengan Damara.
Tetapi ia bersyukur karena Damara yakin lambat laun Jerricco akan melupakan Mira, setidaknya ia hanya berperang dengan masa lalu Jerricco. Karena jika dia harus berperang dengan wanita yang masih hidup Damara yakin dia harus berperang dengan Mira yang masih hidup jelas dirinya kalah.
Damara merasa dirinya tidak ada apa-apanya di banding perjalanan Jerricco dan Mira yang bertahun-tahun memadu kasih sampai Mira hamil.
Damara mempererat pelukannya pada Jerricco, ada rasa tidak rela karena Jerricco tidak pernah menyentuhnya lagi. Bagaimana pun dirinya istri Jerricco, ia juga ingin memiliki kesempatan seperti Mira yang mengandung benih Jerricco di rahimnya.
__ADS_1
Sepertinya akan sedikit sulit melakukan hubungan di atas tempat tidur, apalagi Damara ingat betul Jerricco yang tiba-tiba pergi begitu saja sebelum berperang.
Damara mendongak melihat manik Jerricco, “Apa tubuhku tidak menggoda?” meskipun ada rasa malu tetapi Damara ingin tahu alasan sebenarnya mengapa Jerricco meninggalkan dirinya begitu saja.
Jerricco terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Damara dengan tiba-tiba membahas bentuk tubuhnya. “Kenapa bertanya seperti itu?”
“Malam itu-“ Damara tidak melanjutkan ucapannya, ia berharap Jerricco mengerti maksud dari ucapannya.
Jerricco mengerti maksud dari ucapan Damara, sepertinya Damara ingin membahas masalah malam pertama mereka. “Aku tidak ingin menyakitimu lagi, jangan bahas ini lagi,” tolak Jerricco dengan nada pelan karena dia takut Damara semakin sakit hati.
“Tapi aku ingin tahu,” ucap Damara dengan nada memohon.
Jerricco menggelengkan kepalanya, “Tidak, Damara.”
Air mata Damara meluncur begitu saja, ia merasa Jerricco menutupi sesuatu darinya. Meskipun kejujuran Jerricco akan menyakiti dirinya tapi itu lebih baik, agar Damara bisa mencari solusi agar mereka bisa melakukan kegiatan suami istri pada umumnya.
__ADS_1
Jerricco menghela nafasnya kasar, dia tidak suka melihat Damara menangis karena ulahnya. Tapi dia tidak bisa jujur pada Damara, alasan mengapa ia meninggalkan Damara saat malam pertama mereka yang sangat menggemaskan.