
Jerricco menengok ke asal peluru, ia melihat pria
dengan setelan hitam dengan wajah yang tertutup menutup pintu ruangan Mark.
Jerricco mengejar pria itu, saat membuka pintu empat orang bodyguard tergeletak di
lantai, begitu juga dengan bodyguard Mark.
Jerricco melihat pria misterius itu berlari
menuju pintu lift untuk melarikan diri. Sebelum pintu tertutup Jerricco merusak
bagian tombol lift, hingga pintu itu tidak tertutup sempurna. Ia berlari
mendekat namun sayangnya pria itu sangat gesit, untuk menghindar setiap peluru
yang Jerricco tembakkan.
Jerricco tidak akan membiarkan pria itu lolos
darinya, Jerricco berlari menuju tangga darurat sambil menembaki pria tersebut.
Ada yang janggal menurutnya karena pria itu tidak menembak tubuh Jerricco sama
sekali. Pria itu malah terlihat menghindar dan berlari menuju tangga khusus
yang menghubungkan ke atas rooftop.
Benar-benar tidak masuk akal, pria misterius
itu mampu melumpuhkan enam orang sendirian. Serta menembak Mark dan ponsel Mark
tanpa meleset tapi orang itu tidak memberikan perlawanan kepada Jerricco.
Jerricco mengejar pria itu ke atas rooftop. Ia
menarik tangan pria misterius itu lalu memberikan pukulan pada wajah pria itu,
tidak hanya di bagian wajah, ia juga memukul bagian perut.
Pria itu tidak tinggal diam, dia melawan
memukul tubuh Jerricco. Melihat Jerricco yang memegangi perutnya ia mencoba lari
keluar dari roftoop.
__ADS_1
Dor!
Satu tembakan berhasil mengenai paha pria itu.
Melihat pria itu yang tidak menyerah dan berusaha berlari
Jerricco bangkit dan berlari mengejar pria itu.
Rupanya pria itu masuk ke dalam ruangan rapat,
bodoh memang dia pikir Arvan tidak melihatnya. “Sekarang kau mau ke mana?”
Pria tersebut merasa bodoh karena ia tidak
bisa melarikan diri dari ruangan
tempatnya berdiri.
Jerricco berjalan menghampiri pria misterius,
“Buka penutup wajahmu?”
Melihat pria itu yang maju dan memberikan
serangan, Jerricco menahan pukulan itu dan balik memukulnya. Sepertinya pria itu
Jerricco berusaha mengambil penutup wajah yang di
pakai pria itu, namun pria itu selalu berhasil mengelak.
Mereka memukul satu sama lain, Jerricco mendorong
tubuh pria itu hingga dinding kaca pembatas
ruangan di belakang pria itu pecah. Satu dorongan dari
Jerricco mampu membuat pria tersebut jatuh dari lantai tempat mereka berdiri hingga ke bawah,
dapat di pastikan pria itu mati atau lumpuh total jika Jerricco mendorongnya.
Jerricco memperhatikan pancaran manik yang
ketakutan dari pria tersebut, “Buka topengmu sebelum kesabaranku habis dan
mendorongmu!” Jerricco memberi gertakan dengan mengguncang kerah baju pria tersebut yang ia pegang dengan kuat.
__ADS_1
Pria itu tampak memejamkan matanya, dan
menghembuskan nafasnya perlahan.
Melihat pria tersebut masih diam, Jerricco
menarik kerah baju pria itu dan melemparkannya ke meja rapat. Meja itu ambruk karena tubuh
pria tersebut.
“Bangun, lawan saya. Mana senjata terhebatmu?”
gigi Jerricco bergemeletuk, kesabarannya sudah habis. Ia menghampiri pria itu, dan
memaksanya bangkit berdiri.
Pria tersebut masih diam tidak melawan sama
sekali. Jerricco kembali mendorong pria itu hingga membentur lemari, tubuh pria
itu luruh ke lantai.
Jerricco masih menunggu pria itu melawan,
tampaknya pria itu tidak ingin melawannya sama sekali padahal Jerricco melihat
pria itu memiliki senjata api.
Jerricco mengangkat
kursi dan memukulkannya pada pria tersebut. Pria tersebut tidak menghindar dari
pukulan Jerricco, ia hanya menutupi wajahnya menggunakan tangannya.
“Aaargh,” pekik pria
tersebut saat kursi itu menghantamnya.
Jerricco berjalan menyejajarkan tubuhnya dengan pria itu lalu mencengkeram kerah kemeja pria tersebut, “Buka!”
Pria tersebut
membuka penutup wajahnya. Wajah pria tersebut tampak lebam-lebam akibat pukulan
Jerricco, maniknya menatap lurus Jerricco.
__ADS_1
Pria misterius itu
ialah Robert, sekretaris Jerricco. “Damara,” ucap Robert dengan suara lirih.