Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Pria Misterius


__ADS_3

Jerricco menengok ke asal peluru, ia melihat pria


dengan setelan hitam dengan wajah yang tertutup menutup pintu ruangan Mark.


Jerricco mengejar pria itu, saat membuka pintu empat orang bodyguard tergeletak di


lantai, begitu juga dengan bodyguard Mark.


Jerricco melihat pria misterius itu berlari


menuju pintu lift untuk melarikan diri. Sebelum pintu tertutup Jerricco merusak


bagian tombol lift, hingga pintu itu tidak tertutup sempurna. Ia berlari


mendekat namun sayangnya pria itu sangat gesit, untuk menghindar setiap peluru


yang Jerricco tembakkan.


Jerricco tidak akan membiarkan pria itu lolos


darinya, Jerricco berlari menuju tangga darurat sambil menembaki pria tersebut.


Ada yang janggal menurutnya karena pria itu tidak menembak tubuh Jerricco sama


sekali. Pria itu malah terlihat menghindar dan berlari menuju tangga khusus


yang menghubungkan ke atas rooftop.


Benar-benar tidak masuk akal, pria misterius


itu mampu melumpuhkan enam orang sendirian. Serta menembak Mark dan ponsel Mark


tanpa meleset tapi orang itu tidak memberikan perlawanan kepada Jerricco.


Jerricco mengejar pria itu ke atas rooftop. Ia


menarik tangan pria misterius itu lalu memberikan pukulan pada wajah pria itu,


tidak hanya di bagian wajah, ia juga memukul bagian perut.


Pria itu tidak tinggal diam, dia melawan


memukul tubuh Jerricco. Melihat Jerricco yang memegangi perutnya ia mencoba lari


keluar dari roftoop.

__ADS_1


Dor!


Satu tembakan berhasil mengenai paha pria itu.


Melihat pria itu yang tidak  menyerah dan berusaha berlari


Jerricco bangkit dan berlari mengejar pria itu.


Rupanya pria itu masuk ke dalam ruangan rapat,


bodoh memang dia pikir Arvan tidak melihatnya. “Sekarang kau mau ke mana?”


Pria tersebut merasa bodoh karena ia tidak


bisa melarikan diri dari ruangan


tempatnya berdiri.


Jerricco berjalan menghampiri pria misterius,


“Buka penutup wajahmu?”


Melihat pria itu yang maju dan memberikan


serangan, Jerricco menahan pukulan itu dan balik memukulnya. Sepertinya pria itu


Jerricco berusaha mengambil penutup wajah yang di


pakai pria itu, namun pria itu selalu berhasil mengelak.


Mereka memukul satu sama lain, Jerricco mendorong


tubuh pria itu hingga dinding kaca pembatas


ruangan di belakang pria itu pecah. Satu dorongan dari


Jerricco mampu membuat pria tersebut jatuh dari lantai tempat mereka berdiri hingga ke bawah,


dapat di pastikan pria itu mati atau lumpuh total jika Jerricco mendorongnya.


Jerricco memperhatikan pancaran manik yang


ketakutan dari pria tersebut, “Buka topengmu sebelum kesabaranku habis dan


mendorongmu!” Jerricco memberi gertakan dengan mengguncang kerah baju pria tersebut yang ia pegang dengan kuat.

__ADS_1


Pria itu tampak memejamkan matanya, dan


menghembuskan nafasnya perlahan.


Melihat pria tersebut masih diam, Jerricco


menarik kerah baju pria itu dan melemparkannya ke meja rapat. Meja itu ambruk karena tubuh


pria tersebut.


“Bangun, lawan saya. Mana senjata terhebatmu?”


gigi Jerricco bergemeletuk, kesabarannya sudah habis. Ia menghampiri pria itu, dan


memaksanya bangkit berdiri.


Pria tersebut masih diam tidak melawan sama


sekali. Jerricco kembali mendorong pria itu hingga membentur lemari, tubuh pria


itu luruh ke lantai.


Jerricco masih menunggu pria itu melawan,


tampaknya pria itu tidak ingin melawannya sama sekali padahal Jerricco melihat


pria itu memiliki senjata api.


Jerricco mengangkat


kursi dan memukulkannya pada pria tersebut. Pria tersebut tidak menghindar dari


pukulan Jerricco, ia hanya menutupi wajahnya menggunakan tangannya.


“Aaargh,” pekik pria


tersebut saat kursi itu menghantamnya.


Jerricco berjalan menyejajarkan tubuhnya dengan pria itu lalu mencengkeram kerah kemeja pria tersebut, “Buka!”


Pria tersebut


membuka penutup wajahnya. Wajah pria tersebut tampak lebam-lebam akibat pukulan


Jerricco, maniknya menatap lurus Jerricco.

__ADS_1


Pria misterius itu


ialah Robert, sekretaris Jerricco. “Damara,” ucap Robert dengan suara lirih.


__ADS_2