Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Terbongkar Pernikahan Damara


__ADS_3

Tanpa mereka ketahui Icha mendengar semuanya, air matanya mengalir dadanya terasa sangat sesak. Bahkan masalah serumit ini dirinya sebagai sahabat Damara tidak tahu sedikit pun, rasanya Icha tidak berguna untuk Damara.


“Maafkan aku Dam,” ucap Icha dengan isak tangis yang terdengar di telinga Damara dan Galang. Mereka berdua berjalan menghampiri Icha dengan butiran bening yang keluar dari kelopak matanya.


Damara memeluk Icha, “Kamu enggak perlu meminta maaf Icha, ini bukan salah kamu.” Damara berusaha menahan gejolak yang ada di hatinya, Icha pasti merasakan sakit karena dirinya tidak bercerita masalah sepenting ini pada Icha.


“Aku memang sahabat yang tidak berguna Dam,” lirih Icha.


Galang yang melihat drama di depannya memilih mendekat untuk menenangkan Icha, “Kita cari jalan keluarnya, kamu tidak perlu seperti itu Caca.” 


Caca adalah panggilan Galang untuk Icha, wanita yang berhasil merebut hatinya karena tingkah kekanak-kanakannya.


Damara menarik diri dari pelukan Icha lalu menghapus air matanya, “Tidak usah pak, ibu saya sudah merestui pernikahan kami.”


“Kamu sudah menikah Dam?”


“Iya, maaf aku tidak mengundang kamu,” ucap Damara dengan air mata yang kembali mengalir.


“Memangnya ibumu tahu tentang alasan kalian menikah?” tanya Galang dengan nada dingin dan mencekam.

__ADS_1


Dada Damara berdenyut nyeri, “Tuan Jerricco memperlakukan saya dengan baik,” ucap Damara meyakinkan dua orang yang terlihat iba padanya. Dan dia harus berbohong lagi, padahal malam itu benar-benar membekas di dalam hati dan pikirannya.


Icha berusaha bangun dan memeluk Damara, “Aku hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia dengan pernikahan kalian. Untuk lain kali kamu harus cerita Dam, jangan menutupi semuanya dari aku.”


Damara hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang semakin deras, dia mengeluarkan air mata yang dia tahan semalam. Rasa sakit karena di campakkan Jerricco terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Galang mengepalkan tangannya, dia tahu Damara berbohong. Tidak ada wanita yang berkata bahagia namun menangis saat menceritakan pernikahannya, bahkan dengan jelas Galang melihat pancaran sedih di mata Damara.


Sore itu Damara habiskan untuk menemani Icha, tentunya ada Galang di sana. Meskipun Galang duduk di sofa dan fokus pada layar laptopnya.


Suara ketukan di pintu membuat ketiga orang di dalam mengarah pada pintu masuk yang di ketuk oleh seseorang, dan hanya Damara yang tahu orang itu.


Damara menutup pintu ruang rawat Icha “Ada apa?” 


“Ini sudah pukul empat sore nona, saya harus memastikan nona pulang tepat waktu.”


Damara menghela nafasnya, “Baiklah, tunggu sebentar.”


Damara kembali masuk ke ruangan Icha lalu menghampiri tempat tidur, “Icha aku pulang dulu, ya.”

__ADS_1


Icha menatap Damara lekat-lekat, “Memangnya siapa yang barusan mengetuk pintu?”


Damara tersenyum canggung, “Orang suruhan tuan Jerricco untuk menjagaku.”


Galang yang mendengar ucapan Damara kembali terpancing amarahnya, Damara benar-benar di kekang dan tidak memiliki kebebasan.


“Apa kau tidak merasa risi?” tanya Icha.


“Risi, tapi mau bagaimana lagi. Kamu tahu sendiri Jerricco itu orang kaya, mungkin banyak musuh di luaran sana yang bisa membahayakan aku. Makanya aku harus di jaga ketat agar tidak terjadi apa-apa,” jawab Damara asal.


“Hmmm, hati-hati ya.” 


Damara menganggukkan kepalanya. “Kamu harus cepat sembuh, ya.” 


Setelah pelukan perpisahan mereka lakukan Damara berjalan mendekati Galang, “Saya pamit pulang, pak.”


“Iya.”


Damara keluar dari ruangan dan menghampiri Kevin, lalu berjalan mendahuluinya. Sepanjang perjalanan Damara hanya diam, menatap keluar jendela mobil. Memikirkan setiap ucapan Galang tentang kebodohannya yang mengambil keputusan secara sepihak. 

__ADS_1


__ADS_2