
Jerricco kembali dengan salep di tangannya, dia berjalan menghampiri Damara. “Buka! Biar aku obati,” ucap Jerricco.
“Tidak tuan biar aku saja,” tolak Damara.
Jerricco menghela nafasnya, “Cepat buka!”
Suara Jerricco memang terdengar pelan namun Damara tahu Jerricco tidak ingin mendapat penolakan, untuk kali ini Damara memilih mengalah dia menyingkap baju atasannya sampai terlihat kulit perutnya yang memerah.
Jerricco mengoleskan salep pada kulit Damara yang memerah dengan sangat perlahan karena takut menyakiti Damara, beruntung luka bakar itu tidak terlalu parah jadi tidak perlu mendapatkan penanganan dokter.
Damara kesulitan bernafas saat Jerricco mengobati lukanya, hatinya merasa senang dan sedih secara bersamaan. Dia senang mendapat perhatian dari Jerricco, tetapi Damara juga sedih jika Jerricco memberikan perhatiannya karena tanggung jawab sebagai suami.
Setelah selesai mengobati luka Damara Jerricco kembali ke kursinya, sementara Damara fokus pada buku menu. Tidak ada percakapan di antara mereka, saat memesan makanan pun mereka hanya menyebutkan nama pesanan mereka tidak ada percakapan yang berarti.
Begitu juga saat menikmati makanan yang mereka pesan, ruang persegi tersbut sangat hening hanya suara dentingan sendok di tengah keheningan yang melanda.
Jerricco menyimpan sendoknya karena ia sudah tidak berselera dengan makanannya. Jerricco menatap Damara yang tampak mengaduk-aduk makannya. “Kau kenapa PMS?”
Damara mengarahkan fokus maniknya kepada Jerricco, “Spekulasi dari mana saya sedang PMS.” Damara sengaja berbicara formal, apalagi Jerricco menyinggung masalah wanita.
“Mira selalu berubah sikapnya jika sedang PMS, kau juga berubah.”
__ADS_1
Damara bangkit dari kursinya ia berjalan menuju kaca besar, matanya tertuju pada hamparan laut lepas di depannya. “Bukannya Tuan tidak ingin bahas Mira lagi dalam hubungan kita … baru saja Tuan menjilat ludah sendiri.”
Damara menghela nafas lelahnya, semudah itu Jerricco berbicara jika dirinya PMS. Apa Jerricco
tidak sadar perlakuan dan ucapannya selalu menyakiti hati kecil Damara.
Jerricco merutuki kebodohannya, dia memandangi tubuh Damara yang membelakanginya. Jerricco memejamkan matanya, ia menarik nafas lalu mengembuskannya perlahan.
Damara mendengar suara langkah kaki yang mendekat, bahkan sekarang Damara merasakan tangan yang melingkar di perutnya. Air mata Damara menetes bersama rasa sakit yang menyeruak di hatinya, “Saya lelah Tuan.”
Jerricco menyimpan dagunya di pundak Damara, ia memejamkan matanya menikmati tubuh Damara yang ia peluk dari belakang. “Beban yang aku berikan memang terlalu berat untukmu, tapi maaf aku tidak bisa melepaskanmu meskipun kau lelah bersamaku.”
Damara tahu pernikahan mereka masih bisa di hitung oleh jari, tapi kenapa rasanya sesakit ini berperang dengan masa lalu suaminya. Damara memiringkan kepalanya hingga wajahnya bersandar pada kepala Jerricco yang berada di pundaknya.
Damara menarik nafasnya saat dadanya terasa sesak, “Aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatiku, sebelum kembali berjuang melawan rasa sakit yang akan Tuan berikan.”
“Baiklah, jangan terlalu lama aku menunggumu.”
Sunset berwarna keemasan yang sangat indah menjadi bagian akhir dari honeymoon mereka, rasanya Jerricco tidak rela melepaskan pelukannya. Apalagi Damara meminta perpisahan untuk sementara waktu, tapi Jerricco tidak bisa membiarkan Damara terus sakit hati dan merasa terbebani.
Air mata Damara terus mengalir, keputusannya yang ia ambil memang sangat berat. Tapi dia tidak sekuat itu untuk menerima semua rasa sakit yang Jerricco berikan padanya, dia hanya berharap hatinya dan pikirannya tenang. Setidaknya Damara bisa bernafas lega untuk beberapa waktu ke depan, honeymoon yang di janjikan Jerricco memang tidak seindah ucapannya. Dia sadar manusia memang bisa membuat semua rencana indah, tapi hanya tuhan yang bisa menentukan yang terbaik untuk umatnya.
__ADS_1
***
Damara memandang langit yang mulai gelap menemani perjalanannya kembali ke Indonesia. Setelah dari restoran Damara memang meminta untuk kembali ke Indonesia, dia hanya di temani oleh Kevin di dalam jet pribadi milik Jerricco.
Dari tempatnya duduk Kevin melihat Damara yang melamun, ia merasa gagal melihat honeymoon yang sudah di rancang hancur seketika dan berakhir perpisahan. Kevin memang di tugaskan mengurus semua pekerjaan di Indonesia, ia pun jarang bertemu dengan Jerricco. Selama ini Kevin tidak pernah melihat raut wajah Jerricco yang sedih saat melihat kepergian Damara.
Harusnya Kevin bisa mencegah kepergian Damara demi kebahagiaan tuannya, tetapi Kevin tidak bisa ikut campur karena ia belum mendapat perintah dari Robert. Kevin tidak bisa bertindak gegabah karena Robert jauh di atasnya, Robert adalah kaki tangannya Jerricco dia bisa melaksanakan tugas jika Jerricco atau Robert yang memberikan perintah padanya.
***
Maaf kalau aku belum bisa berikan yang terbaik untuk kalian di karyaku ini, silakan berkomentar sesuka hati maaf kalau aku balas komentar kalian dengan ucapan menyindir.
Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah dukung aku, yang memberikan Semangat. Maaf kalau semua komentarnya tidak bisa aku balas satu persatu.
Kok up-nya Cuma satu?
Aku lagi kejar naskah cerpen untuk buku antologi, karena deadline-nya akhir bulan ini, aku takut ketinggalan soalnya harus cetak bulan April.
Jadi maaf kalau Arvan sedikit terganggu up nya. Aku mau minta maaf juga kalau Cuma up satu bab, sebetulnya aku sedang menambah kata tiap babnya supaya level karyanya naik.
Aku penulis yang butuh uang jadi maaf kalau sedikit menyebalkan, karena aku harus pasang strategi. Supaya kalian bisa happy baca karyaku dan aku senang karena mendapat uang. Jadi kita simbiosis mutualisme aja ya, hari ini aku usahakan up lagi 1 bab nanti malam.
__ADS_1
Love u all 💞