Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Ekstra Part -> Balik Kerak


__ADS_3

Happy Reading đź’ž


Senja kala itu terlihat keemas-emasan, Damara duduk di kursi rodan tepat di depan jendela kamarnya.


Selama dua tahun ini perkembangan tubuh Damara semakin membaik, ia sudah mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Hanya saja jika untuk berjalan, kakinya masih belum mampu menopang beban tubuhnya.


Banyak yang ia lalui dua tahun ini, ia mencoba menikmati semua takdir yang terjadi pada hidupnya. Tidak ada waktu untuk menyesali semuanya, kesempatan untuk sembuh dan kembali normal adalah impiannya.


Saat sebuah tangan melingkar di lehernya, Damara bergeming. Wajahnya masih sama, datar. Pandangannya lurus ke depan, tidak goyah sama sekali meskipun ia merasakan sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya.


Damara menatap wajah pria yang tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan. Dasi yang di kenakannya sudah tidak pada tempatnya.


“Sayang, kau membutuhkan sesuatu?” Damara hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Jerricco menghela nafas lelahnya, ia memberikan kecupan di kening istrinya. Sama seperti sebelumnya, Jerricco tidak mendapatkan respons apa pun.


“Kau tidak bahagia hidup denganku, sayang?” Manik mereka bertemu, namun Jerricco tidak melihat pancaran kebahagiaan di wajah Damara.


Melihat Damara yang memalingkan wajahnya Jerricco tahu bahwa istrinya sedang tidak ingin berbicara. Ia memilih duduk di lantai menyandarkan punggungnya pada kaki Damara.


Jerricco mengikuti arah pandang Damara yang menikmati senja. Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya Jerricco memilih membuka mulutnya.


“Kalau kau tidak bahagia bersamaku, kau boleh pergi.” Berat memang untuk mengikhlaskan wanita yang di cintainya.


Tapi hatinya selalu merasakan sakit yang tiada duanya melihat Damara tidak lagi mencintainya. Jerricco selalu merasa iri jika Damara asyik berbincang dengan Arnold, bahkan Damara selalu menunjukkan rasa kasih sayangnya pada Arnold.

__ADS_1


Tapi jika bersamanya Damara selalu diam membisu bagaikan patung, semua perlakuan Jerricco tidak pernah berhasil memancing respons lebih dari Damara. Selama ini jika Jerricco  membuka obrolan Damara hanya diam atau merespons dengan anggukan atau menggeleng.


Untuk kedua kalinya Jerricco merasakan jari Damara di kepalanya, kini ia merasa jemari Damara menyisir dengan gerakan perlahan.


Damara tidak kunjung menjawab pertanyaan Jerricco, akhirnya Jerricc mencoba bersuara kembali. “Kalau boleh aku ingin kamu di sini bersamaku, selamanya.”


“Kau egois!”


Jerricco memejamkan kelopak matanya, dadanya bergemuruh mendengar ucapan Damara. Tidak ada yang salah dari ucapan itu, hanya saja rasa bersalah itu kembali mencuat di hati Jerricco.


“Maaf,” ucap Jerricco tanpa berani membuka matanya, ia mencoba menenangkan dirinya menikmati sentuhan yang Damara berikan di kepalanya.


Baskara sudah terbenam dengan sempurna, langit benar-benar gelap. Embusan angin menerpa tubuh Jerricco yang lelah.


“Untuk apa meminta maaf? ... Semua yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa kembali!” ketus Damara.


“Aku tahu, aku hanya mencoba berusaha untuk mendapatkan maaf darimu sayang atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat.”


Mendengar ucapan tulus Jerricco, rasanya Damara tidak mampu menahan air matanya. Namun dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahannya, dan menunjukkan pada Jerricco bahwa hatinya tidak peduli dengan ucapan Jerricco.


“Sayang,” panggil Jerricco dengan lembut. Tangannya meraup kedua sisi pipi Damara, lalu mengecup bibir Damara yang selalu menjadi candunya.


Tidak ada respons sama sekali dari Damara, Jerricco menyatukan kening mereka. Jerricco kembali memejamkan matanya, ia menikmati detik-detik terakhirnya jika ia benar-benar harus melepaskan Damara.


“Pergilah, kejar kebahagiaanmu.” Damara mendengar nada tidak rela dari ucapan Jerricco.

__ADS_1


“Iya aku akan pergi, terima kasih.”


Jerricco menarik diri, ia memandangi kursi roda yang membawa tubuh Damara menjauh darinya. Kepergian Damara menggoreskan luka di hati Jerricco, tapi dia sadar betul perbuatannya sudah melukai hati Damara.


Lima menit berlalu, Jerricco masih mematung di tempatnya. Pikirannya terus berkecamuk, ia tidak rela jika Damara pergi meninggalkannya.


Jerricco berlari keluar dari kamar menuju pintu utama, ia melihat Damara yang duduk di kursi roda dengan Arnold yang membantu mendorong Damara dari belakang.


Jerricco menjatuhkan tubuhnya tepat di depan Damara, dia tidak peduli jika harus bersujud di kaki Damara demi menahan istrinya pergi.


“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,” ucap Jerricco dengan kepala menunduk tanpa berani menatap manik Damara.


Melihat Jerricco yang bersujud Arnold mengelus bahu Damara. “Mommy,” lirih Arnold.


Arnold memilih berjalan meninggalkan Damara dan Jerricco, ia mengerti orang tuanya butuh berbicara.


“Beri aku kesempatan, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu lagi.”


Damara menitikkan air matanya, ia tidak ingin pergi. Ia hanya ingin melihat Jerricco memohon kepadanya, dan menyesali semua perbuatannya.


“My Lord.”


Jerricco mendongkak melihat wajah Damara yang tersenyum. Ia memeluk tubuh Damara dengan sangat erat.


Jerricco senang mendengar Damara memanggil dirinya, setelah bertahun-tahun ia tidak pernah mendengar lagi panggilan merdu dari mulut istrinya.

__ADS_1


Arnold menghampiri orang tuanya, ia ikut berpelukan. Kebahagiaan yang luar biasa baginya melihat  orang tuanya berdamai.


__ADS_2