
Alice pun mengerti kenapa Jerricco masih belum membuka diri dan menceritakan masa lalunya pada Damara. Karena mengulas masa lalu adalah hal yang paling menyakitkan, bagai merobek luka lama yang mulai membaik.
Jerricco menatap Kevin yang duduk di sebelahnya. “Ambilkan beberapa pakaian untukku.”
“Baik, Lord.” Kevin bangkit dari posisi duduknya. “Saya permisi Bu,” ucap Kevin pada Alice.
Alice mengangguk dan tersenyum ramah. Setelah Kevin pergi Alice menatap Jerricco yang terlihat sedikit kacau. “Kaki Damara kenapa bisa terkilir?”
Alice sengaja berbasa-basi, dia ingin tahu seberapa perhatian Jerricco pada Damara.
“Saya tidak ada di sana saat Damara jatuh, ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan di Italia.”
Alice cukup terkejut mendengar Jerricco yang bekerja di luar negeri, dia baru tahu jika Jerricco tidak bekerja di Indonesia.
“Dari laporan Kevin, Damara jatuh karena kehilangan keseimbangan saat menaiki anak tangga.” Jerricco menjawab dengan jujur tanpa ada yang perlu ia tutupi untuk membela diri, karena menurutnya Jerricco salah karena tidak menjaga Damara dengan baik.
“Jadi Nak Jerricco kembali ke Indonesia setelah mengetahui kondisi Damara.” Ada rasa tenang di hati Alice, meskipun Jerricco belum melupakan wanita di masa lalunya tapi perhatiannya pada Damara sungguh luar biasa menurutnya.
__ADS_1
Jerricco mengangguk, “Iya, saya meminta maaf karena tidak menjaga Damara dengan baik.”
Alice tersenyum menanggapi ucapan Jerricco, “Tidak apa-apa itu hanya kecelakaan kecil, tunggu sebentar ibu buatkan obat untuk kaki Damara.”
“Baik, Bu.”
Alice berjalan menuju dapur untuk membuat obat agar kaki Damara supaya lekas sembuh. Alice mengikuti cara yang sudah biasa dia lakukan. Bawang putih itu ia cincang lalu di masukkan pada kain katun, lalu di peras hingga mengeluarkan minyak.
Setelah merasa cukup Alice membawa mangkuk berisi perasan bawang putih ke depan.
Jerricco menerima mangkuk dari Alice, “Ini apa Bu?”
“Itu perasan bawang putih, untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan kaki terkilir atau keseleo.”
“Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya pamit ke kamar Damara.”
Alice mengangguk, dan menatap punggung Jerricco yang melangkah meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
Jerricco masuk ke dalam kamar, di atas tempat tidur Damara masih terlelap. Ia berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di samping kaki Damara yang di perban.
Dengan hati-hati Jerricco membuka perban itu, seharusnya perban ini dia ganti setelah Damara mandi pagi tadi. Tapi sayangnya ia malah ketiduran dan bermimpi bersama Mira, yang menyebabkan pertengkaran ini terjadi.
Damara terbangun saat merasakan perbannya di buka oleh seseorang, ternyata Jerricco. Dia memilih tidak bergeming sambil memperhatikan pergerakan Jerricco yang sedang mengoles sesuatu pada kakinya.
Entah kenapa hati Damara merasa tersentuh melihat Jerricco yang mengoleskan cairan pada kakinya yang bengkak, lagi-lagi Damara merasa di perhatikan oleh Jerricco.
“Tapi kenapa kamu belum bisa melupakan dia? ... Apa ini hanya bentuk tanggung jawabmu padaku?”
Jerricco terkejut mendengar pertanyaan Damara, Ia menghentikan aktivitasnya lalu menatap lekat mata Damara.
“Kebersamaan kami bukanlah waktu yang sebentar, apalagi kami hidup dalam satu atap yang sama bagaikan sepasang suami-istri. Mungkin itu yang membuatku, sulit melupakannya.” Jerricco berkata jujur, dia tidak ingin berbohong untuk mengawali hidupnya bersama Damara.
“Perhatian tuan padaku, itu apa?” Damara menunduk, dia tidak sanggup bertatapan dengan Jerricco. Kejujuran Jerricco sedikit membuat hatinya sakit, tapi Damara juga merasa beruntung karena Jerricco tidak menutupinya lagi.
“Aku hanya mengikuti kata hatiku, berharap kenanganku bersama Mira bisa tergantikan olehmu.”
__ADS_1