
Damara mencoba memikirkan ajakan Jerricco, pandangannya tertuju pada kakinya. “Tapi aku belum bisa jalan dengan betul,” ucap Damara lesu.
“Tidak usah memikirkan itu,” ucap Jerricco mencoba menenangkan Damara.
“Tidak asik tuan, aku tidak bisa menikmati liburannya.”
“Aku yang akan membuat kau menikmatinya,” ucap Jerricco dengan wajah seriusnya.
Damara terkekeh mendengar ucapan Jerricco, “Oke, kita pergi honeymoon.”
Suara ketukan di pintu membuat Jerricco dan Damara saling pandang. “Biar aku yang buka,” ucap Jerricco. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
Saat pintu terbuka Jerricco menampilkan senyumnya saat melihat Alice yang berdiri di depan pintu.
“Nak Jerricco, ajak Damara kita makan malam,” ajak Alice dengan senyum ramahnya.
“Baik, bu.”
“Kalau begitu ibu tunggu di meja makan.”
Jerricco mengangguk dan berjalan masuk ke kamar, “Ibu sudah menyiapkan makanan malam.”
__ADS_1
Damara berusaha turun dari kasur, mencoba berdiri menggunakan kruk untuk membantunya berjalan. Jerricco berdiri di samping Damara, lalu berjalan beriringan menuju meja makan.
Damara duduk dengan bantuan Jerricco, setelah memastikan istrinya duduk Jerricco ikut duduk di samping Damara.
Malam itu mereka makan dengan hidangan ikan kuah asam Khas Labuan Bajo, serta hidangan sederhana lainnya. Ciri khas Ikan kuah asam Labuan Bajo ialah kuah bening yang terasa asam, dari belimbing wuluh yang memberikan cita rasa asam pada kuah. Selain itu ada cabai utuh dan irisan tomat serta daun kemangi menambah aroma dari ikan kuah asam.
Tidak banyak yang mereka bicarakan karena Jerricco tipe orang yang tidak suka berbincang di meja makan.
“Terima kasih, Bu. Makannya luar enak,” ucap Jerricco memuji masakan Alice.
“Sama-sama.”
Damara tidak heran jika Jerricco memuji masakan ibunya, bahkan bukan Jerricco saja yang memuji masakan ibunya. Dulu ibunya memang koki handal di sebuah restoran, jadi tidak heran rasa masakan ibunya sangat lezat. Dari sekian banyak masakan yang ibunya buat, Damara memang paling suka dengan ikan bakar.
“Iya, Bu.” Jawab Jerricco dan Damara secara bersamaan. Alice hanya tersenyum melihat kekompakan anak setra menantunya.
Kini hanya Damara dan Jerricco yang masih duduk di meja makan. Damara menghabiskan air putih miliknya, dia berusaha untuk bangkit dari posisi duduknya.
Jerricco yang melihat itu langsung menggendong tubuh Damara secara birdal sampai di kamar.
Selama di gendongan Jerricco, Damara hanya membenamkan wajahnya di dada bidang Jerricco, tanpa berkomentar.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Damara setelah tubuhnya Jerricco turunkan di tempat tidur.
Jerricco ikut naik ke tempat tidur lalu duduk di samping Damara. “Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik-baik saja, mukin sekarang pak Galang yang stay di restoran.”
Jerricco menarik tangan Damara ke dalam genggamannya, “Berhentilah bekerja, aku tidak bisa melihatmu kelelahan.”
Damara menggelengkan kepalanya, “Tidak bisa, aku harus membantu biaya kebutuhan ibu dan adikku.”
“Kau punya adik?”
Damara mengerutkan keningnya, “Tuan memiliki uang banyak, bukannya mudah ya mencari informasi tentangku?”
Jerricco tersenyum, ia mengacak puncak kepala Damara. “Aku bisa melakukannya, tapi kau istriku. Aku ingin mengetahui semua tentangmu langsung dari mulutmu, bukan dari informan.”
“Jadi tuan tidak tahu sama sekali tentangku?”
“Aku hanya meminta Robert untuk memberitahuku kalau kau aman untukku nikahi.” Jerricco memang dari keluarga terkaya di dunia, apalagi sekarang dia yang memegang seluruh kekayaan keluarganya.
“Maksudnya aman bagaimana tuan?”
__ADS_1