
Jerricco menumpukkan tangannya untuk memberi kode pada pelayan agar mendekat. Kepala pelayan mendekat, “Iya, Lord.”
“Bawakan kursi kemari!”
“Baik, Lord.” Tidak butuh waktu lama kepala pelayan itu membawa satu kursi untuk duduk Jerricco, lalu dia berjalan mundur setelah mendapat perintah lewat manik Jerricco, agar para pelayan menjauh.
Jerricco duduk di kursi yang di bawakan oleh pelayan, tempat duduk mereka hanya berjarak dua puluh centimeter.
Damara menggigit kecil bibir bawahnya, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Jerricco. “Tuan pernikahan ini-“ Damara tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia merasa canggung mempertanyakan masalah ini, tapi Damara juga butuh kepastian.
“Ada apa dengan pernikahan kita?” Jerricco menatap lekat manik Damara yang terlihat gugup, bahkan tangannya bertautan saling meremas di atas pahanya.
“Tuan memaksaku untuk menjadi istri, dan kita sudah berjanji di hadapan tuhan. Tapi malam itu-“ lagi-lagi Damara tidak sanggup melanjutkannya, ada rasa sesak di hatinya.
“Saya sudah minta maaf, apa belum cukup. Kenapa kau masih membahas masalah ini?”
__ADS_1
Damara memejamkan matanya saat mendengar nada kesal Jerricco, wajahnya meringis karena ia salah mengambil langkah. Tetapi inilah yang menjadi pertanyaan di hatinya, selama dua hari ini.
“Tuan tidak membiarkan aku kesempatan untuk lari, tapi tuan juga tidak memberikan aku kebahagiaan layaknya pasangan suami istri di malam pertama. Aku sudah berusaha mencoba menerima semuanya, tapi … aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri.” Suara Damara terdengar lirih di akhir kalimatnya.
Jerricco menarik tangan Damara ke dalam genggaman kedua tangannya, dia menatap Damara lekat-lekat. “Ada banyak yang tidak kamu tahu tentang masa laluku, saya tidak bisa menceritakannya padamu. Saya hanya ingin membuka lembaran baru denganmu.”
Debaran jantung Damara tidak bisa dia redamkan, apalagi tangannya yang di genggam Jerricco cukup membuat Damara merasa di inginkan. Bahkan wajah lelah Jerricco terlihat serius, meskipun tidak ada kata cinta yang keluar dari mulut Jerricco.
Setidaknya dengan hadirnya Jerricco kembali menemuinya hanya karena Damara jatuh, sebuah kemajuan yang besar bagi Damara. Mereka terdiam cukup lama saling memandang satu sama lain. Jerricco melepaskan satu tangannya yang menggenggam Damara, satu ladi dia gunakan untuk membelai wajah Damara.
Dengan berani Jerricco menempelkan bibirnya pada bibir Damara, tidak mendapat penolakan dari Damara Jerricco melahap bibir Damara. Ciuman mereka kali ini di lakukan dengan tenang, saling merasakan sentuhan lembut satu sama lain.
Dengan posisi yang menyamping Damara bisa melihat lewat ekor matanya ada asisten Jerricco yang berdiri tidak jauh darinya. Damara menarik kepalanya, ia menunduk menyembunyikan rasa malu.
“Kenapa?” ucap Jerricco lembut dan menarik dagu Damara agar menatapnya.
__ADS_1
Damara menggigit kecil bibir bawahnya jika menahan malu atau gugup. “Ada asisten tuan tengah memperhatikan kita.”
“Siapa, Kevin?”
Damara hanya mengangguk, sebab ia tidak pernah bertanya siapa pria yang selalu mengikutinya.
Jerricco menengok ke arah rumah, di sana ada Kevin, pria itu membungkuk hormat setelah saling bertatap. “Kau malu di perhatikan olehnya? Sepertinya dia tidak keberatan.”
Damara memukul bahu Jerricco, “Tidak tahu malu,” ketus Damara. Setelah ucapan itu keluar dari mulutnya Damara merutuki kebodohannya, yang berbicara lancang seperti itu pada Jerricco. “Maaf,” lirih Damara sambil menunduk, dia tidak berani menatap manik Jerricco.
“Ucapanmu sungguh tidak sopan!” suara itu terdengar tegas dan menyimpan Amarah.
“Tuhan tolong aku,” doa Damara di dalam hatinya.
***
__ADS_1
#Temansarapan