Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Aku Mau Cinta


__ADS_3

“Aku hanya mengikuti kata hatiku, berharap kenanganku bersama Mira bisa tergantikan olehmu.” Damara diam, mencerna kalimat yang di ucapkan Jerricco.


Damara menatap lekat manik milik Jerricco, “Tapi tuan harus berusaha melupakan Mira. Aku tidak bisa bertahan lebih lama, jika tuan masih menyimpan Mira di hati dan pikiran tuan.”


Senyum di bibir Jerricco mengembang, “Itu artinya kau mau menerimaku?”


Damara mengangguk sebagai jawaban, ‘Tidak apa-apa, kau harus berkorban perasaan demi ke bahagiamu.’


Jerricco memeluk Damara erat, “Terima kasih sudah memberiku kesempatan.”


“Sama-sama tuan.” Damara mencoba membalas pelukan Jerricco. Meski hatinya masih ragu, tapi Damara yakin kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Rasa bahagia itu tergambar jelas di hati Jerricco, dia tidak ingin kehilangan Damara. Dan ia merasa beruntung karena Damara mau membantunya melupakan Mira.


Jerricco melepaskan pelukannya, dia mengecup kening Damara. Lalu menyatukan kening mereka, hidung Jerricco dan Damara saling bersentuhan karena jarak mereka yang sangat dekat. Bahkan tidak ada jarak sama sekali.


Damara tidak tahu harus melakukan apa, dia tidak mungkin memejamkan matanya. Jika ia memejamkan mata itu aritnya dia akan menyerahkan tubuhnya, Damara belum siap jika harus melakukan itu dengan Jerricco.


Jerricco tahu Damara tidak menginginkan lebih, dia melakukan ini hanya mencoba merasakan hatinya. Jika dulu dengan Mira jantungnya pasti berdebar, dan gairahnya bergejolak tapi yang di rasakannya terasa hambar. Tapi ada rasa gairah, meskipun sedekat ini dengan Damara.

__ADS_1


Damara sudah tidak kuat menahan nafas, rasanya dia ingin mendorong tubuh Jerricco. Jantung Damara serasa ingin copot, saat Jerricco mengecup bibirnya. Beruntung hanya kecupan, bagaimana kalau ciuman bisa-bisa dia kehabisan nafas.


Jerricco menyimpan mangkuk pemberian Alice ke atas meja rias Damara. Di sana ada beberapa peralatan rias wajah, “Kau suka bersolek?”


Damara melihat ke arah Jerricco berada di meja rias miliknya. “Kalau ada acara tertentu saja.”


Damara bangkit dari posisi setengah tidur karena tumpukan bantal kini ia memilih duduk, dia terkejut saat Jerricco membawa keranjang make-up miliknya.


Damara mengerutkan keningnya, “Kenapa di bawa ke atas tempat tidur?”


“Aku ingin melihat wanita memoles wajah.”


Jerricco mengambil ponsel Damara lalu menyimpannya. “Aku ingin melihat kamu, bukan orang lain.”


Damara tampak berpikir, jika memakai make-up ia harus ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Rasanya malas sekali, kakinya masih terasa sakit.


Damara memilih mengalah, tidak perlu cuci muka. Toh ini hanya bahan percobaan untuk memuaskan keinginan Jerricco.


“Tapi tidak gratis ya, tuan.” Damara mengajukan negosiasi.

__ADS_1


“Kau mau apa?”


Damara pura-pura berpikir padahal ia hanya ingin mengerjai Jerricco. “Aku ingin cinta.”


“Iya nanti aku berikan cinta untukmu. Tidak hanya cinta seluruh jiwa dan raga aku berikan khusus untukmu.”


Bibir Damara mengerucut, dia memukul bahu Jerricco. “Tuan pintar merayu wanita ternyata.”


Jerricco terkejut saat Damara berani memukul lengannya, ternyata Damara bar-bar juga. “Jangan memanggilku dengan sebutan tuan, kita harus lebih akrab lagi supaya aku bisa melupakan dia.”


“Oke, tapi aku panggil apa ya? Soalnya usia tuan jauh di atasku ternyata.”


“Kau tahu dari mana?”


“Dari internet, selisih sepuluh tahun. Aku baru sadar telah menikah dengan pria tua.” Damara menutup mulutnya rapat-rapat, saat melihat Jerricco memberikan tatapan tajam.


Jerricco tidak menyangka Damara berani mengatainya, ia memberikan tatapan tajam. Tapi rasanya itu tidak cukup, Jerricco menjepit hidung Damara menggunakan jarinya.


“Aaaaw sakit, lepas!” Pekik Damara.

__ADS_1


Jerricco merasa aneh dengan dirinya, dia bisa terbuka dan menunjukkan jati dirinya jika bersama adiknya atau Mira. Entah kenapa rasa jahilnya muncul begitu saja di depan Damara tanpa bisa ia cegah.


__ADS_2