Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Honey


__ADS_3

“Karena aku pikir Lord Jerricco masih mencintai Mira,” ucap Miranda sambil tersenyum canggung.


“Apa kamu pikir sampai sekarang Lord Jerricco masih mencintai Mira?”


Miranda tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Damara. “Aku tidak tahu Kak … tapi sepertinya tidak, mungkin Lord Jerricco tulus mencintai Kakak.”


Baru saja Damara ingin berbicara namun suara dering telepon terdengar nyaring, ia melihat Miranda yang merogoh saku lalu memandangi layar teleponnya. “Angkat saja!”


Miranda tampak ragu-ragu, tapi dia menekan tombol hijau. “Ada apa? Aku sedang sibuk.”


Damara tidak bisa mendengar jawaban yang seseorang itu katakana tapi ia bisa melihat nama kontak yang menelepon Miranda di beri nama ‘Honey’.


“Kamu berlebihan, tadi kan kita sudah ketemu. Sudah dulu ya aku sedang bersama Kakakku.” Setelah mengakhiri teleponnya Miranda tersenyum malu-malu. “Maaf ya Kak, dia memang suka mengganggu.”


“Kekasihmu?” Pertanyaan Damara sukses membuat pipi Miranda bersemu merah.


“Iya.” Setelah menjawab pertanyaan Damara wajah Miranda murung seketika, “Tapi Papa tidak pernah merestui hubunganku.”


“Kenapa?” Damara memperhatikan Miranda yang tampak berpikir.


“Papa bilang dia tidak akan pernah bisa menghidupi kebutuhan aku, katanya mencari pria itu harus yang sudah sukses.”

__ADS_1


“Memangnya pacarmu tidak sukses?”


Miranda menggelengkan kepalanya, “Dia hanya pemilik kafe kecil di pinggir kota.”


Satu hal yang Damara tahu sepertinya Mark memandang status seseorang, apa karena Jerricco orang kaya makanya Mark menyambut kedatangan dirinya dan Jerricco dengan baik?


“Apa Kakak akan menginap di sini?”


Damara menggelengkan kepalanya, “Sepertinya tidak.”


Raut wajah Miranda berubah kecewa, ternyata meskipun kini ia memiliki seorang Kakak tapi tetap saja ia harus sendirian. “Padahal aku masih ingin bercerita dengan Kakak.”


“Mungkin lain kali,” tandas Damara sambil menampilkan sebuah senyuman.


Damara dan Miranda berjalan beriringan ke lantai bawah, mereka melihat Jerricco dan Mark yang tengah berbicara di kursi santai.


“Pa aku pamit pulang,” ujar Damara.


Mark tersenyum menanggapi ucapan Damara, ia senang mendengar Damara memanggilnya dengan sebutan Papa. “Apa kalian tidak ingin menginap?”


“Lain waktu Pa, hari ini aku ingin pulang.”

__ADS_1


“Papa mengerti kalian harus membuatkan cucu untuk Papa.”


Damara berusaha menampilkan sebuah senyuman, sambil melirik Jerricco yang tampak datar. Tidak ada ekspresi apapun yang di tunjukan.


“Kalau begitu saya permisi,” ucap Jerricco sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Damara.


Mereka keluar di antar oleh Mark dan Miranda sampai pintu utama.


***


Jerricco dan Damara sudah membersihkan tubuhnya, kini mereka tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Jerricco sedang asyik dengan ponsel yang di genggamnya, sementara Damara tengah sibuk dengan pikirannya.


Ada dua hal yang mengganggu pikiran Damara setelah pulang dari rumah Mark. Yang pertama ia ingin bertanya kepada Alice, namun jika ia menelepon sama saja ia mengganggu waktu tidur sang ibu karena di Indonesia tengah malam. Yang kedua masalah cucu yang di lontarkan Mark, sampai saat ini Damara tidak merasakan tanda-tanda kehamilan. Ia merasa biasa saja dan jadwal haidnya teratur.


Mengenai cucu Damara jadi ingat Mira pernah mengandung benih Jerricco, tetapi kenapa dirinya belum hamil juga. Padahal selama ini Damara tidak pernah memakai alat kontrasepsi.


‘Apa aku mandul?’


Damara menggelengkan kepalanya saat pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba di kepalanya.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya lewat like, komentar dan hadiah supaya aku lebih semangat dalam menulis.


Terima kasih, love u 💞


__ADS_2