
Damara merasa terusik dari istirahatnya karena tubuh Jerricco yang bergerak gelisah, rasa mualnya sudah hilang di gantikan dengan rasa sakit. Damara tahu Jerricco sedang bermimpi Mira, dia hanya diam memandangi wajah Jerricco.
“Dear, aku tidak melupakanmu.” Telinga Damara mendengar kelas Jerricco yang mengigau, bukan hanya rasa sakit tapi seperti ada benda tajam yang membelah hatinya.
Damara mempererat pelukannya pada Jerricco, wajahnya ia benamkan di dada bidang Jerricco. Air matanya pecah seketika, bahkan ia tidak bisa menahan suara isak tangisnya.
Ada sesuatu yang membawa Jerricco pada kesadarannya, suara tangis Damara. Dia membuka mata, dadanya terasa basah dari air mata Damara yang sedang memeluknya. Jerricco mengecup puncak kepala Damara, dia memeluk Damara lebih erat dari biasanya.
Jerricco yakin ucapan terakhirnya pada Mira di dengar oleh Damara, dia tidak bisa berkata apa-apa lidahnya kelu. Mau menjelaskan apa pun tidak akan pernah berakhir baik, tapi hanya menggoreskan luka pada hati Damara.
Damara hanya bisa menangis dia tidak tahu harus melakukan apa, jelas-jelas ini memang risiko yang dia ambil. Mau marah pun pada siapa, Mira? Atau Jerricco?
Tidak ada yang salah, yang jelas dirinya yang salah karena masuk ke kehidupan Jerricco dan Mira.
Jerricco berusaha menjauhkan tubuhnya supaya bisa melihat wajah Damara, hidungnya memerah. Kelopak matanya penuh dengan air mata, bahkan butiran air mata Damara masih terus mengalir.
Jerricco mengecup bibir Damara sebentar lalu kembali menatap lekat mata Damara, “Kau percaya padaku?” Damara hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jerricco.
Arvan menghapus air mata Damara, “Maaf, aku telah menyakitimu lagi.”
Damara menggelengkan kepalanya, “Ini bukan salahmu, Tuan.” Damara hanya bisa berusaha tegar semampunya, dia tidak mungkin menambah beban pada hati Jerricco yang selalu di hantui bayangan Mira.
“Apa kau masih mual?”
Damara menggelengkan kepalanya, dia merasakan kecupan Jerricco di keningnya.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, aku akan memesankan makanan untukmu.” Jerricco bangkit dan berjalan keluar meninggalkan Damara, dia menghampiri Kevin yang sedang duduk di kursinya sambil menatap layar laptopnya.
Jerricco duduk di hadapan kevin. “Apa kau sudah tahu, mengapa wajah Damara hampir mirip dengan Mira?”
Kevin mengalihkan perhatiannya lalu menatap Arvan, “Saya belum menemukan jawaban pasti untuk itu, Lord. Sepertinya ada yang menutup akses untuk saya mencari lebih jauh tentang Damara.”
“Tugas ini berikan pada Robert, sekarang pesankan makanan untuk istriku,” perintah Jerricco.
“Baik, Lord.”
Jerricco kembali ke ruang pribadi miliknya, dia melihat Damara yang tengah melamun dengan pandangan kosong.
Tangannya mengacak puncak kepala Damara, “Hei.”
Damara terkejut dengan kedatangan Jerricco, ia mencoba memberikan senyuman di tengah rasa sakit di hatinya.
“Maaf.”
“Tidak perlu meminta maaf, kau tidak salah.”
Damara hanya menundukkan kepalanya, bahkan saat mendengar suara pintu yang di ketuk Damara masih diam. Rasanya semangat dalam dirinya goyah, dia tidak bisa melupakan ucapan Jerricco.
“Dear, aku tidak melupakanmu.” Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, bagaikan kaset rusak yang sangat menyebalkan.
Jerricco membuka pintu dan membawa makanan untuk Damara, ia menyimpannya di atas meja. Lalu menghampiri Damara yang masih duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
Jerricco menuntun Damara untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sementara Damara hanya menurut.
Damara memperhatikan Jerricco yang tengah memotong makanan, “Itu apa?” Damara penasaran dengan makanan yang di pesan oleh Jerricco untuknya.
“Chicken parmigiana, makanan khas Italia,” jawab Arvan.
Damara menerima suapan pertamanya, saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya ia merasa ayam yang di batul dengan tepung crispy.
Damara juga ya merasakan saus yang gurih serta sedikit rasa asam dan manis.
“Enak,” puji Damara.
Jerricco kembali memotong dan menyuapi Damara kembali, hingga makanan di atas piringnya habis tidak tersisa.
“Lagi?”
“Tidak, aku sudah kenyang.” Damara tidak ingin merasa mual lagi jika dia terlalu banyak mengisi perutnya.
Jerricco mengambil gelas dan membantu Damara minum.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Karena sudah merawat dan memberi perhatian untukku.”
Jerricco menyimpan gelas di tangannya, ia menatap lekat Damara. “Tidak perlu berterima kasih, aku tulus melakukannya untukmu istriku.”