Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Sebuah Panggilan


__ADS_3

Kini Damara duduk di samping Jerricco, mobil yang di kemudian oleh Kevin mulai melaju meninggalkan kediaman Alice.


Selama di perjalanan kepala Damara menyender pada bahu Jerricco, matanya melihat pemandangan ke luar jendela mobil. Damara terkejut melihat mobil yang di kendarai Kevin memasuki bandara, “Kita mau ke mana?” Damara menatap Jerricco menunggu jawaban.


Jerricco mengacak rambut Damara, “Aku sudah bilang, kita akan pergi jalan-jalan.”


“Jalan-jalan ke mana? Kok ke bandara.” Dahi Damara mengernyit heran.


“Ke suatu tempat, aku harap kau suka.” Sebenarnya Jerricco sudah meminta Kevin untuk mengurus waktu honeymoon mereka, tapi Jerricco belum ingin memberitahu Damara. Dia ingin sedikit memberikan kejutan untuk Damara.


“Jangan bilang ke Italia,” ucap Damara lesu. Jika dia di bawa ke Italia, itu artinya Jerricco ingin menetap di sana.


“Bukan,” jawab Jerricco lalu tersenyum.


“Awas bohong!” ancam Damara  dengan nada sedikit ketus.


“Tidak, sayang.”


Wajah masam Damara berubah saat Jerricco berani memanggilnya sayang, meskipun Damara tahu itu hanya sebuah panggilan bukan berasal dari hati suaminya.


Kevin menghentikan mobilnya di tempat parkir, dia berjalan ke luar dan membukakan pintu untuk Jerricco.


Melihat Jerricco keluar Damara baru sadar bahwa alat bantunya tadi ia hempaskan begitu saja, “Astaga! Aku tidak ingin di gendong Jerricco di tempat umum.” Wajah Damara meringis, saat menyadari kebodohannya. Dia menoleh saat pintu di sampingnya terbuka, wajah Jerricco terlihat santai.


“Ayok.” Damara menggelengkan kepalanya.


Jerricco menunduk agar wajahnya sejajar dengan Damara, “Kenapa?”

__ADS_1


“Alat bantu jalanku … aku tidak ingin di gendong di depan umum.” Damara menundukkan kepalanya, dia malu.


Tangan Jerricco menarik dagu Damara untuk kembali menatapnya, “Kevin membawa kursi roda untukmu, ayo keluar.”


Damara menerima uluran tangan Jerricco, dia berusaha bangkit dari duduknya. Kini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan, dengan mudah Jerricco membantu Damara untuk duduk di kursi roda.


“Terima kasih.” Jerricco mengangguk sebagai jawaban, ia mendorong kursi roda Damara.


Sementara Damara tersenyum sambil menundukkan kepalanya, sepertinya dia tidak akan pernah menyesal untuk mengejar Jerricco. Saat Jerricco belum mencintai dirinya, tetapi Damara sudah merasakan bagaimana perhatian dan tanggung jawab yang di berikan Jerricco padanya.


‘Aku tidak akan pernah menyerah.’ Tekad Damara di dalam benaknya.


Jerricco mendorong  kursi roda Damara menuju jet pribadi miliknya, bukan hal sulit bagi Jerricco untuk melakukan apa pun sesuai keinginannya.


Damara memandang takjub pada jet pribadi milik Jerricco, dia kira mereka akan berangkat menggunakan penerbangan umum. Sepertinya Damara lupa, siapa suaminya.


“Tuan,” panggil Damara dengan suara tertahan.


Jerricco mengalihkan perhatiannya dari ponsel genggam yang ada di tangannya, wajah Damara terlihat pucat. Bahkan Damara terlihat menahan sesuatu, “Mabuk penerbangan?”


Damara hanya menganggukkan kepalanya, tangannya menutupi mulutnya. Dia tidak ingin muntah di sini, karena itu akan sangat memalukan.


Jerricco menggendong Damara dan membawanya ke toilet. Damara memuntahkan isi perutnya di wastafel, rasa mual itu tidak hilang. Bahkan kini hanya cairan bening ya keluar dari lambungnya.


Jerricco menunggu dengan perasaan khawatir, melihat Damara yang memuntahkan seluruh sarapan paginya. Dia tidak tahu jika Damara mabuk penerbangan, “Sudah jangan di muntahkan lagi!”


Damara berkumur-kumur, lalu membalikkan tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas Damara merasa tidak memiliki tenaga, beruntung Jerricco sigap menangkap tubuhnya yang hampir jatuh.

__ADS_1


Damara hanya diam saat Jerricco membawa tubuhnya ke sebuah ruangan istirahat, bahkan Jerricco merebahkan tubuh Damara di atas tempat tidur.


“Istirahatlah.”


“Aku tidak ingin sendirian,” lirih Damara.


Jerricco mengagukkan kepalanya, lalu merebahkan tubuhnya di samping Damara. Dia membawa Damara ke dalam dekapannya, entah kenapa rasa kantuk menyerangnya. Jerricco ikut memejamkan matanya setelah memastikan Damara tertidur.


Jerricco melihat ke sekelilingnya yang tampak seperti ruang kosong, hitam. Dia tidak menemukan benda atau siapa pun di sana.


“Why?”


Jerricco membalikkan tubuhnya saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Tubuh Jerricco membeku melihat Mira yang berurai dengan air mata, tangannya terulur untuk menghapus air mata yang membasahi pipi kekasihnya.


“Dear, kenapa kamu setega ini padaku?”


Hati Jerricco berdenyut mendengar suara lirih yang keluar dari mulut Mira di ikuti air mata yang mengalir semakin deras. Jerricco hanya diam membisu, dia tidak bisa melihat Mira menangis seperti ini.


“Dear, apa maksudmu?” Jerricco terkejut saat tangannya yang sedang menghapus air mata, di tepis Mira dengan kasar.


“Kenapa kamu melupakan aku secepat ini!”


Jerricco melihat tangan Mira yang mengepal, ia meraih tangan Mira dan menggenggamnya. “Dear, aku tidak melupakanmu.”


***


Maaf kemarin sempet menghilang 🤭 begitu juga hari ini baru bisa update malam.

__ADS_1


semoga suka ya, terima kasih sudah menunggu Jerricco dan Damara 👍


__ADS_2