
“Dear, kau benar-benar melupakan aku. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?”
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mira Jerricco membalikkan tubuhnya, dia menatap wajah Mira dengan kelopak mata yang berlinang.
“Aku memang masih mencintaimu, tetapi dengan rasa cinta ini aku telah menyakiti hati istriku.”
Mira hanya diam membisu dia tahu Jerricco seperti apa, kekasihnya itu adalah pria yang tidak bisa melihat wanita yang tersakiti. Hatinya memang sangat lembut dan itulah alasan mengapa ia berani menentang keluarganya demi Jerricco.
“Maaf, aku tidak bisa mencintaimu seperti dulu lagi karena ada wanita yang harus aku bahagiakan. Aku harap kau mengerti.” Jerricco berusaha untuk terbangun, dia tidak ingin hatinya goyah kembali jika melihat Mira menangis di hadapannya.
Setelah kepergian Jerricco bibir Mira tersenyum, “Memang kau harus mencintainya, Dear.”
Jerricco merasa beruntung karena bisa bangun dari mimpinya, ia melihat pada bagian sisi kanan tempat tidurnya tetapi dia tidak mendapati Damara di sana.
Jerricco bangkit dari tidurnya, pandangannya tertuju pada tangannya yang terbalut perban. Senyum Jerricco mengembang begitu melihat perban itu tidak membalut lengannya dengan rapi, ia tahu siapa yang berusaha mengobati lukanya.
Jerricco memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mencari Damara, setelah selesai mandi dan berpakaian rapi Jerricco mencari keberadaan Damara.
Jerricco melihat Damara tengah bersantai di halaman belakang dengan ponsel yang di genggamnya, ia berjalan menghampiri Damara lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Damara.
__ADS_1
Jerricco masih memperhatikan Damara yang tidak menyambut kedatangannya, Damara mengacuhkannya. Perhatian Jerricco kini beralih pada Sandwich yang berada di meja, tangannya terulur untuk mengambil Sandwich tersebut yang terlihat menggugah selera.
Namun sayangnya Jerricco kalah cepat, sebelum tangannya menyentuh Sandwich di piring. Damar lebih dulu membaca pergerakannya hingga tangannya di tepis oleh Damara, “Punyaku!”
Jerricco hanya diam membisu saat Damara mengambil Sandwich itu lalu memakannya dengan santai, “Kau tidak ingin membaginya?” Damara tahu pertanyaan itu di tunjukkan Jerricco kepadanya, tapi kali ini Damara pura-pura tidak peduli dan memakan dengan santai sandwich di tangannya.
Damara masih kesal pada Jerricco dia ingin memberi sedikit balasan untuk Jerricco, ia tidak memedulikan Jerricco pandangannya masih fokus pada layar ponselnya.
“Kamu masih marah padaku?” tanya Jerricco sambil memperhatikan Damara yang mengacuhkannya.
Damara bangkit dan berjalan meninggalkan Jerricco, ia masuk ke kamar lalu duduk di atas tempat tidur menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal yang sudah Damara susun. Dugaan Damara betul Jerricco menghampirinya lalau duduk di pinggiran tempat tidur, Damara masih diam tidak memedulikan kehadiran Jerricco.
“Tidak,” jawab Damara dengan nada tenang tanpa melihat wajah Jerricco.
“Kita pergi jalan-jalan.”
“Tidak tubuhku lelah, aku ingin istirahat. Tuan saja yang pergi,” jawab Damara memerikan penolakan. Damara memilih merebahkan tubuhnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Jerricco memilih ikut merebahkan tubuhnya dia memeluk tubuh Damara, tapi lagi-lagi Damara menolaknya dengan mendorong tubuh Jerricco menjauh.
__ADS_1
“Jangan marah kayak seperti ini, aku bingung harus berbuat apa?”
Damara memilih memejamkan matanya, dia masih dalam mode marah pada Jerricco. “sudah sana pergi aku ingin istirahat, jangan mengganggu.”
Jerricco tidak ingin membuat Damara semakin marah padanya, ia mengikuti ucapan Damara untuk pergi dari kamar. Perutnya t Jerricco memilih sarapan dan melanjutkan pekerjaannya, dia tidak benar-benar bekerja hanya memandangi layar laptopnya yang menampilkan video pernikahannya dengan Damara.
Mendengar suara tegas milik Damara saat mengucapkan janjinya Jerricco hanya bisa mendesah, kini Damara marah padanya sepertinya rencana honeymoon ini gagal total. Jerricco memiliki ide untuk meminta maaf pada Damara, ‘Semoga berhasil.’
***
Setelah kepergian Jerricco Damara duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada bantal, Damara memilih menonton film di ponselnya. Sudah satu film yang dia tonton tapi Damara merasa bosan, dia mematikan ponselnya dan menatap langit-langit kamarnya.
Ternyata honeymoon ini terasa sangat membosankan, tapi Damara juga belum puas menghukum Jerricco. Jerricco sangat menyebalkan dan Damara masih ingin mengacuhkan Jerricco.
Saat suara hendel pintu di buka Damara mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali, dia pura-pura tidak peduli dengan kedatangan Jerricco. Bahkan Damara bisa melihat Jerricco membawa rangkaian bunga dan satu toples coklat, ‘Hanya itu saja?’.
Jerricco duduk dan menyimpan bunga serta toples coklat yang ia bawa ke atas pangkuan Damara, “Kamu mau memaafkan aku?”
Damara menyingkirkan buket bunga dan toples tersebut dari pahanya, dia menatap Jerricco dengan wajah pura-pura kesal. “Tuan kira dengan bunga dan coklat bisa mengobati sakit hatiku? … perlakuan Tuan padaku terlalu jahat, hatiku masih sakit sampai sekarang.”
__ADS_1
Damara menarik nafasnya dalam-dalam, “Lebih baik tuan berikan coklat dan bunga itu pada Mira, yang tubuhnya lebih menggoda dari pada tubuhku.”