
Damara merasakan pening di kepalanya, serta punggungnya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kelopak matanya.
“Aku ada di mana?” lirih Damara. Maniknya menyusuri ruangan yang tampak pengap dan berdebu. Dinding yang sedikit berjamur.
Damara menghela nafasnya saat melihat tubuhnya yang duduk di atas kursi tepat di tengah-tengah ruangan. Kaki serta tangannya di ikat pada kursi, Damara bagaikan menjadi pemeran film penculikan.
“Sepertinya ini memang penculikan,” ujar Damara.
Helaan nafas keluar dari mulutnya, sepertinya tidak ada harapan baginya untuk melarikan diri. Ruangan ini benar-benar kosong, tidak ada barang satu pun. Lantainya sangat tebal oleh debu, sepertinya ini bangunan yang terbengkalai.
Derap langkah kaki itu terdengar jelas dengan suara yang semakin mendekat, matanya fokus pada sebuah pintu yang di buka oleh seseorang.
Damara melihat seorang pria yang masuk di ikuti beberapa pengawal yang tadi berhasil membawanya ke tempat sialan ini.
Pria itu memandangi tubuh Damara yang tidak berdaya di tempatnya. “Kau tahu siapa aku?”
Damara mengangkat bahunya acuh. “Aku tidak peduli siapa dirimu!” ujar Damara dengan nada tenang menatap manik pria itu.
Hal yang menarik perhatiannya ialah wajah pria itu yang tampak mirip dengan Mark. Tidak hanya itu Damara melihat di pinggang pria itu ada sebilah pedang.
__ADS_1
“Ah aku tahu siapa dirimu,” ujar Damara dengan nada riang sambil tersenyum.
Pria itu menunggu tebakan Damara.
“Kau pria yang berhasil membunuh anaknya sendiri kan.” Meskipun tidak pernah melihat wajahnya, tetapi jika mengingat cerita Arvan bahwa senjata Fernandes ialah pedang maka tebakannya tidak akan meleset.
Benar saja tebakannya, Fernandes tampak mengepalkan tangannya. Matanya menatap tajam pada Damara yang berani lancang padanya.
“Kita tunggu sampai pria berengsek itu datang, aku akan menebas lehermu.”
“Silakan bermimpi Tuan, sebelum Anda menebas leherku sepertinya Jerricco akan membunuhmu lebih dulu.”
Meskipun dirinya sedikit ketakutan, tapi Damara tidak ingin menunjukkannya di depan musuh. Ia yakin Jerricco akan menyelamatkannya.
Damara merasakan sakit saat Fernandes mencengkeram dagunya, ia melihat mata Fernandes yang berkilat penuh amarah.
“Baiklah kita tunggu, siapa yang akan mati lebih dulu.” Fernandes menyeringai, lalu melepaskan cengkeramannya.
“Pastinya kau yang akan mati lebih dulu Tuan Fernandes!” Damara sengaja berbicara dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
Tangan Fernandes memegang gagang pedangnya, tapi ia tidak melanjutkan menarik keluar pedang miliknya.
Ia merasa percuma jika menghabisi Damara sekarang, ia ingin melihat raut wajah Jerricco yang merasa kehilangan untuk ke sekian kalinya.
Damara mendengar suara gaduh di luar, ruangan. Suara tembakan saling bersautan satu sama lain.
Bukannya takut Damara malah bahagia, ia berharap Jerricco segera menemuinya. Damara tersenyum lebar untuk menyambut kedatangan seseorang yang berjalan ke ruangannya.
Wajah Damara berubah seketika melihat Robert yang menghampirinya. “Jerricco?”
Robert hanya menatap Damara sebentar lalu membantu membuka ikatan Damara. Ia memberikan satu senjata api ke pada Damara. “Pakai dengan betul, suruhan Fernandes pasti menunggu kita di depan."
Bola mata Damara membulat sempurna, “Kalau aku mati gimana?”
Robert berdecap, “Nona sudah belajar menembak, tidak usah banyak drama ... Cukup lindungi diri Nona sendiri, biar saya yang melumpuhkan mereka semua!”
“Nona siap?”
Damara menggelengkan kepalanya, ini pertama kalinya ia betul-betul berhadapan dengan musuh.
__ADS_1
“Enggak ada waktu lagi buat mundur, kecuali Nona mau liat Lord punya istri baru.”
“Robert!” bentak Damara.