
Damara menatap Kevin kesal, karena pria itu mengikutinya sampai ke depan restoran. “Jangan bilang kau akan menungguku hingga selesai bekerja?” tanya Damara dengan wajah menahan amarah.
“Saya akan menunggu nona hingga selesai.”
“Hah, jangan bercanda deh. Aku hanya bekerja di sini dan tidak akan macam-macam apalagi kabur,” geram Damara.
Kevin masuk ke dalam restoran yang baru saja di buka dan ia menjadi pelanggan satu-satunya pagi itu, Kevin duduk di salah satu sudut lalu mengangkat tangan memanggil pelayan.
Damara mengepalkan tangannya, dia merasa benar-benar memiliki body guard. Dia berjalan menghampiri Kevin. “Lebih baik kau urus pekerjaanmu dari pada menguntit hidupku,” titah Damara.
Kevin mengalihkan perhatiannya dari buku menu saat melihat Damara berbicara di sampingnya. Tangan Kevin menunjuk jam dinding, “Manajer restoran ini terlambat lima menit, sepertinya gajimu akan di potong,” ujar Kevin santai dan memberikan senyum mengejek pada Damara.
“Awas kau, ku laporkan pada Tuan Jerricco.” Ancaman Damara sepertinya tidak berpengaruh karena Kevin hanya mengangkat bahunya acuh.
Sementara seorang pelayan terheran-heran melihat sikap manajernya. Yang terlihat berani berbicara seperti itu pada pelanggan.
Rasanya Damara ingin menendang pria itu jauh-jauh, tapi tidak mungkin. Apalagi asisten Jerricco sedang berlaga menjadi pelanggan restoran, akhirnya Damara berjalan mengentakkan kakinya hingga heels yang dia pakai menimbulkan bunyi nyaring membuat senyum Kevin mengembang.
Damara duduk di meja kerjanya dengan perasaan kesal dia membanting sling bag ke meja, lalu duduk di meja kerjanya dengan wajah kesal dan bibir yang mengerucut.
Suara ketukan di pintu ruangan membuat Damara waswas, ia menetralkan wajahnya. “Masuk.”
__ADS_1
Damara mengerutkan keningnya melihat Icha yang membuka pintu dan menghampirinya dengan tatapan yang menyelidik.
“Apa?” tanya Damara berusaha terlihat tenang.
Icha duduk di kursi yang beradapan dengan Damara, “Siapa cowok di depan?”
“Cowok,” ucap Damara dengan tampang pura-pura tidak mengerti padahal dia tahu betul Icha bertanya soal asisten Jerricco.
“Itu cowok yang bareng masuknya sama kamu Dam, terus katanya ngobrol juga. Siapa?”
Damara mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Icha. “Udah deh enggak usah mengelak, aku tahu kamu Damara Makaleka.”
“Dia cowok enggak penting, udah enggak usah di bahas.”
“Damara,” panggil Icha dengan suara merengek.
Damara melihat raut wajah berbeda dari Icha, satu alisnya terangkat melihat wajah murung Icha. “Kenapa, tumben kamu kayak gitu?”
“Itu pak Galang sudah nunggu di ruang VIP.”
Damara semakin heran melihat tingkah Icha yang berbeda dari biasanya, “Iya. Pak Galang udah datang sama tamunya?”
__ADS_1
“Udah!” Damara terkejut mendapati pekikkan Icha. “Kamu kenapa sih Cha?”
Icha memajukan bibirnya, kelopak matanya mulai di banjiri dengan air mata. “Udah sana liat aja sendiri!”
Damara menggaruk tengkuknya melihat Icha yang berjalan meninggalkannya, “Kenapa sih tuh anak?” gumam Damara.
Damara berjalan keluar dari ruangan menuju ruang VIP tempat Galang dan tamunya berada. Damara mengetuk ruang VIP tersebut, setelah mendapat ijin Damara menekan gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Dia membungkuk memberi hormat, “Selamat pagi.”
“Pagi.” Jawab Galang dan tamu di sampingnya.
Damara terkejut melihat tamu spesial yang di maksud Galang adalah perempuan, bahkan tangan mereka saling menggenggam dengan posisi duduk di kursi yang bersebelahan.
“Damara sediakan sarapan untuk kami, aku ingin Icha yang mengantarnya.”
Damara tidak heran jika Galang meminta Icha yang melayaninya, karena selama ini itu cara galang mendekati Icha. Membuat Icha kesal karena mendapat banyak perintah, tetapi bukannya Icha sudah menolak mentah-mentah lamaran Galang.
Dan genggaman tangan mereka?
‘Astaga, jangan bilang Icha terlambat jatuh cinta?’
__ADS_1