
Bugh! Jerricco memberikan pukulan
pada wajah pria itu hingga terjerembab ke lantai.
“Itu urusanku!”
tegas Jerricco. Jerricco menginjak dada Robert menggunakan kakiknya.
“Lord, Damara berhak
bahagia!” Robert sudah merencanakan untuk membawa Damara pada musuh Jerricco.
Jerricco mengarahkan
senjatanya pada kepala Robert. “Bedebah!”
_-Flasback-_
Suara ketukan di
pintu ruangannya membuat fokus Robert teralihkan, dia mengecek CCTV ternyata
Damara yang mengetuk pintu ruangannya.
“Masuk!”
Hal pertama yang
Robert lihat adalah wajah manis Damara yang tampak bahagia. “Ada apa Nona?” tanya Robert saat Damara
duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Robert memperhatikan
Damara yang menyimpan kotak makan berwarna merah muda ke atas meja kerjanya.
“Makan siang untukmu.”
Dahi Robert mengerut
sambil menatap datar pada wajah Damara. “Atas dasar apa Nona memberiku makan
siang?”
“Perayaan
keberhasilanku dalam latihan menembak,” jawab Damara.
Robert mendorong
kotak makan itu ke hadapan Damara, “Tidak perlu, saya bisa makan siang di
luar.”
Wajah gembira Damara
__ADS_1
berubah menjadi menyeramkan, matanya menatap Robert tajam. “Aku tidak menerima
penolakan! … ini sebagai rasa terima kasih karena kau sudah membantu aku
berlatih.”
Robert masih
memasang wajah datarnya yang membuat Damara kesal, ia sudah repot-repot membuat
makan siang untuk Arvan dan Robert tetapi Robert malah menolaknya.
“Ya sudah kalau
tidak mau buang saja ke tempat sampah!” Damara bangkit dari duduknya ia berjalan
dengan tas makan yang di pegangnya dan keluar dari ruangan Robert.
Melihat punggung
Damara yang menghilang di balik pintu, kini manik Robert menatap kotak makan
berwarna merah muda yang di berikan Damara. Untuk pertama kalinya Robert mendapat ucapan
terima kasih beserta sebuah kotak makan
siang.
Senyum di bibirnya
rambutnya saat melihat gundukan berwarna putih serta ikan goreng dan beberapa
sayuran yang di tumis.
“Makanan apa ini?”
Robert mengambil
sendok dan mencobanya, “Mmmm, lumayan enak ternyata.” Tanpa sadar Robert
menghabiskan makanannya. Dia memandangi kotak makan tersebut, Robert merasa
dirinya harus mencari istri orang Indonesia yang pintar masak seperti Damara.
Robert melanjutkan
pekerjaanya, sambil sesekali melirik kotak makan yang di berikan Damara. Telepon di ruangannya berbunyi,
tangannya menekan tombol untuk menerima panggilan tersebut.
“Iya Lord.”
“Keruanganku!”
“Baik Lord.”
__ADS_1
Robert berjalan
keluar dari ruangannya menuju ruangan Jerricco yang berada di sebelah ruangannya.
Ia mengetuk pintu ruangan Jerricco lalu berjalan masuk dan duduk di hadapan Jerricco.
“Ada yang bisa saya
bantu Lord?” tanya Robert. Ia memperhatikan berkas yang manampilkan wajah
wanita dengan luka bakar di wajahnya.
“Berapa banyak
kerugianku jika kita melawan mereka demi Damara?”
“Meskipun
satu tahun yang lalu putra dari wanita tersebut di nobatkan sebagai pria
terkaya di dunia, saya yakin kekayaannya masih di angka 80% jika di bandingkan
dengan kekayaan keluarga Lord … mereka bisa melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.
Mungkin Lord akan mampu mengalahkan mereka tapi 50% dari kekayaan Lord bisa
saja hilang demi memulihkan apa yang mereka perbuat.”
“Lima
puluh persen?”
Robert
mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jerricco.
“Bagaimana
dengan keluarga dari Ibu kandung Damara?”
“Dari
pengamatan yang saya lakukan mereka menginginkan harta Lord seperti Mark, hanya
saja mereka lebih kuat. Keluarga mereka senang melakukan hal yang sangat licik,
bahkan lebih licik dari Mark dan Fernandes … sebenarnya Mark menginginkan
Damara menikah dengan pria terkaya sebelum Lord.”
“Putra
dari wanita yang wajahnya memiliki luka bakar?”
“Iya,
__ADS_1
hanya saja wanita itu tidak membiarkan Mark mengusik putranya.”