Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Luka Bakar


__ADS_3

Bugh! Jerricco memberikan pukulan


pada wajah pria itu hingga terjerembab ke lantai.


“Itu urusanku!”


tegas Jerricco. Jerricco menginjak dada Robert menggunakan kakiknya.


“Lord, Damara berhak


bahagia!” Robert sudah merencanakan untuk membawa Damara pada musuh Jerricco.


Jerricco mengarahkan


senjatanya pada kepala Robert. “Bedebah!”


_-Flasback-_


Suara ketukan di


pintu ruangannya membuat fokus Robert teralihkan, dia mengecek CCTV ternyata


Damara yang mengetuk pintu ruangannya.


“Masuk!”


Hal pertama yang


Robert lihat adalah wajah manis Damara yang tampak bahagia.  “Ada apa Nona?” tanya Robert saat Damara


duduk di kursi yang ada di hadapannya.


Robert memperhatikan


Damara yang menyimpan kotak makan berwarna merah muda ke atas meja kerjanya.


“Makan siang untukmu.”


Dahi Robert mengerut


sambil menatap datar pada wajah Damara. “Atas dasar apa Nona memberiku makan


siang?”


“Perayaan


keberhasilanku dalam latihan menembak,” jawab Damara.


Robert mendorong


kotak makan itu ke hadapan Damara, “Tidak perlu, saya bisa makan siang di


luar.”


Wajah gembira Damara

__ADS_1


berubah menjadi menyeramkan, matanya menatap Robert tajam. “Aku tidak menerima


penolakan! … ini sebagai rasa terima kasih karena kau sudah membantu aku


berlatih.”


Robert masih


memasang wajah datarnya yang membuat Damara kesal, ia sudah repot-repot membuat


makan siang untuk Arvan dan Robert tetapi Robert malah menolaknya.


“Ya sudah kalau


tidak mau buang saja ke tempat sampah!” Damara bangkit dari duduknya ia berjalan


dengan tas makan yang di pegangnya dan keluar dari ruangan Robert.


Melihat punggung


Damara yang menghilang di balik pintu, kini manik Robert menatap kotak makan


berwarna merah muda yang di berikan Damara. Untuk pertama kalinya Robert mendapat ucapan


terima kasih beserta sebuah kotak makan


siang.


Senyum di bibirnya


rambutnya saat melihat gundukan berwarna putih serta ikan goreng dan beberapa


sayuran yang di tumis.


“Makanan apa ini?”


Robert mengambil


sendok dan mencobanya, “Mmmm, lumayan enak ternyata.” Tanpa sadar Robert


menghabiskan makanannya. Dia memandangi kotak makan tersebut, Robert merasa


dirinya harus mencari istri orang Indonesia yang pintar masak seperti Damara.


Robert melanjutkan


pekerjaanya, sambil sesekali melirik kotak makan yang di berikan Damara. Telepon di ruangannya berbunyi,


tangannya menekan tombol untuk menerima panggilan tersebut.


“Iya Lord.”


“Keruanganku!”


“Baik Lord.”

__ADS_1


Robert berjalan


keluar dari ruangannya menuju ruangan Jerricco yang berada di sebelah ruangannya.


Ia mengetuk pintu ruangan Jerricco lalu berjalan masuk dan duduk di hadapan Jerricco.


“Ada yang bisa saya


bantu Lord?” tanya Robert. Ia memperhatikan berkas yang manampilkan wajah


wanita dengan luka bakar di wajahnya.


“Berapa banyak


kerugianku jika kita melawan mereka demi Damara?”


“Meskipun


satu tahun yang lalu putra dari wanita tersebut di nobatkan sebagai pria


terkaya di dunia, saya yakin kekayaannya masih di angka 80% jika di bandingkan


dengan kekayaan keluarga Lord … mereka bisa melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.


Mungkin Lord akan mampu mengalahkan mereka tapi 50% dari kekayaan Lord bisa


saja hilang demi memulihkan apa yang mereka perbuat.”


“Lima


puluh persen?”


Robert


mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jerricco.


“Bagaimana


dengan keluarga dari Ibu kandung Damara?”


“Dari


pengamatan yang saya lakukan mereka menginginkan harta Lord seperti Mark, hanya


saja mereka lebih kuat. Keluarga mereka senang melakukan hal yang sangat licik,


bahkan lebih licik dari Mark dan Fernandes … sebenarnya Mark menginginkan


Damara menikah dengan pria terkaya sebelum Lord.”


“Putra


dari wanita yang wajahnya memiliki luka bakar?”


“Iya,

__ADS_1


hanya saja wanita itu tidak membiarkan  Mark mengusik putranya.”


__ADS_2