
Damara dan Jerricco kini sudah sampai di rumah sakit, dari tempatnya berdiri Damara melihat Mark dan Miranda yang tampak menunggu.
Seperti biasa Damara berusaha menenangkan dirinya dan bersikap dingin, meskipun ini hanya topeng. Ia ingin tahu bagaimana sikap Mark saat mengetahui hasil tes DNA.
Melihat kedatangan Jerricco jelas di balik sikap tenangnya, Mark tersenyum dengan penuh rasa bangga karena rencananya berhasil. Apalagi melihat Jerricco yang melingkarkan lengannya di pinggang Damara terlihat tampak posesif pada putrinya.
Mark sedikit berbasa-basi pada Jerricco serta Damara sekedar menyapa, “Mari kita temui dokter.” Mark berjalan lebih dulu di susul Damara dan Jerricco menuju ruangan dokter. Seperti dugaannya ia tidak akan salah mengenali putrinya dokter menyatakan bahwa Damara adalah anak kandung Mark.
Mark melihat wajah Damara yang tampak terkejut. Setiap pergerakan Jerricco tidak hilang dari penglihatan Mark, sepertinya memang ini waktu yang tepat baginya karena Jerricco sudah benar-benar mencintai Damara.
Setelah mendengar penjelasan dokter mereka keluar dari ruangan Mark memandangi Damara yang tampak menggenggam tangan Jerricco, “Papa tunggu kalian di rumah untuk makan malam.”
Damara melirik Jerricco untuk meminta persetujuan, melihat Jerricco yang memancarkan sorot wajah tenangnya Damara tahu jawabannya. “Baik Tu-Papa,” ia hampir saja keceplosan memanggil Mark dengan sebutan tuan. Damara sengaja mencoba bersikap baik pada Mark seperti saran Jerricco.
Mark tersenyum menanggapi ucapan Damara, “Baiklah kalau begitu Papa permisi, ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan.”
Damara hanya mengangguk, pandangannya beralih pada Miranda yang tampak tersenyum dan memeluk Damara. “Aku tunggu kedatangan Kakak nanti malam.”
__ADS_1
“Iya,” jawab Damara singkat sambil tersenyum tulus pada Miranda.
Setelah kepergian Miranda dan Mark, Damara menoleh pada Jerricco. Ia menatap manik Jerricco. “My Lord,” panggil Damara dengan wajah lemasnya.
“Hmmm.”
“Aku lelah,” ucap Damara sambil bersandar pada bahu Jerricco.
“Kita pulang.”
Damara menggelengkan kepalanya, “Aku ingin jalan-jalan.”
***
Mark berjalan menuju ruangan kerjanya, ia membuka pintu mendapati Fernandes yang duduk di sofa sambil menyesap secangkir kopi. Ia duduk di samping sang Kakak dengan senyum gembiranya.
Fernandes menyimpan cangkir kopi ke atas meja, “Bagaimana?”
__ADS_1
“Semua berjalan dengan baik.”
“Jangan sampai semuanya hancur berantakan!”
Mark mendengar nada penuh ancaman dari sang Kakak, ia tersenyum meremehkan. “Kau seperti tidak tahu sifatku, menyimpan putri kecilku selama dua puluh delapan tahun di Negara orang tanpa terliput media saja aku bisa melakukannya. Apalagi rencana mudah seperti ini.”
Fernandes hanya menaikkan satu alisnya, ia menepuk pundak Mark. “Hati-hati dia bisa selangkah lebih maju dari kita, kau harus melakukan peranmu sebaik mungkin!”
“Jangan meremehkanku seperti itu, semua akan berjalan sebagaimana mestinya!” tandas Mark dengan penuh keyakinan.
“Baiklah, jangan mengecewakanku!” Fernandes mengeluarkan map yang ia bawa.
Kini mereka membahas suatu proyek yang sedang mereka kerjakan. Kakak beradik itu tampak sejalan dalam setiap bahasan mengenai masalah yang terjadi di lapangan. Satu hal yang Fernandes suka dari adiknya adalah ia pria yang ambisius dan memiliki sifat kebapakan di dalam hidupnya dengan merawat Miranda seorang diri.
Meskipun Fernandes tahu Mark tidak lebih dari seorang bajingan seperti dirinya, yang terbiasa mengambil nyawa seseorang jika di rasa orang tersebut mengancam kesuksesannya.
***
__ADS_1
Selamat sore 😊 jangan lupa dukungannya berupa like , komentar dan hadiah mampu membangkitkan semangat updateku 🤭 tapi maaf aku belum bisa carzy up 🙏