
Jerricco menjauhkan Damara dari pelukannya, ia menatap Damara dengan tatapan tajam.
Damara mengerucutkan bibirnya, “Apa tidak ada senyuman untukku?”
“Apa tidak ada sambutan yang lebih baik selain pukulan?”
Damara tersenyum simpul, “My Lord jangan marah seperti itu, salahmu juga mengejutkanku.” Tangan Damara terulur untuk meraba luka kecil di sudut bibir Jerricco, lalu menekannya cukup kencang.
Jerricco mencengkeram tangan Damara dengan cukup kuat, “ Jangan lakukan itu.”
Damara menarik tangannya, ia tersenyum dengan rasa puasnya. “Itu hukuman karena membuatku terkurung di sini.”
Jerricco membawa Damara ke dalam pangkuannya lalu ia turunkan perlahan ke atas tempat tidur. “Sekarang, giliranku yang menghukummu,” ujar Jerricco dengan nada tenang dan tatapan dinginnya.
Melihat Jerricco yang menyeringai Damara mengangguk antusias, “Dengan senang hati aku akan menerima hukumanmu, My Lord.”
Tidak ingin membuang waktu Jerricco melahap bibir Damara, puas dengan bibir tipis Damara Jerricco memberikan tanda kepemilikannya di ceruk leher Damara. Ciuman itu semakin turun menuju bukit kembar Damara.
__ADS_1
Jerricco merobek kemeja Damara hingga kancing-kancingnya terlepas sempurna. Di lahapnya bukit kembar Damara menggunakan mulutnya. Gairahnya semakin melonjak mendengar ******* yang keluar dari mulut wanita di bawahnya.
Dengan berani tangan Damara terulur untuk membuka kancing kemeja Jerricco satu persatu hingga semuanya terlepas, tangannya meraba bagian bawah Jerricco yang mengeras di balik kain yang di pakainya.
Jerricco sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh milik istrinya, ia melepas semua pakian yang Damara kenakan. Begitu juga dengan pakaiannya kini tubuh mereka polos sempurna. Jerricco mengentakan kepemilikannya menuju bagian terlembut milik Damara.
Suara lenguhan Damara menyadarkannya bahwa ia sedikit melukai benda di bawah sana. Jerricco memberikan kecupan di kening Damara, “Sayang.”
“Aku menunggu My Lord,” ucap Damara dengan nada sensualnya.
Sementara tubuh Damara menggeliat setiap menerima hunjam Jerricco, rasanya nikmat tetapi sedikit ngilu di bagian bawah perutnya.
Suara ******* keluar dari mulut sepasang manusia yang tengah beradu memberikan rasa nikmat satu sama lain. Suara leguhan yang sedikit lebih kencang menjadi puncak permainan mereka.
Tubuh Damara lesu seketika saat cairan hangat menyembur di dalam kelembutannya, ia memberikan sebuah senyum untuk Jerricco yang kini menatapnya.
Jerricco memperhatikan wajah Damara yang terlihat lelah, wajahnya penuh dengan buliran keringat. Ia memberikan kecupan di dahi Damara, lalu menjauhkan wajahnya. Sepasang manik yang selalu berhasil membuatnya kalang kabut kini bisa ia perhatikan dengan leluasa. “Ti amo.”
__ADS_1
Sebuah ungkapan yang Damara tunggu-tunggu kini akhirnya ia bisa mendengarnya keluar dari mulut pria yang berhasil memporak porandakan hatinya. Bulir bening keluar dari kelopak matanya, penantiannya tidak sia-sia.
Jerricco menarik dirinya ia menjatuhkan tubuhnya di samping Damara, lalu membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Beban itu hilang begitu saja setelah kalimat cinta itu keluar dari mulutnya. Seminggu ini ia sudah memantapkan hatinya, “Minggu depan kita rayakan pesta pernikahan kita.”
Tangis bahagia Damara pecah seketika mendengar ajakan Jerricco, ia tidak mengharapkan lebih. Dengan Jerricco mengatakan cintanya itu sudah lebih dari cukup, tetapi jika tuhan memberikan sesuatu yang lebih dari harapannya dengan senang hati Damara tidak akan menolak kesempatan tersebut.
***
Maaf karena aku telat update, semoga kalian suka dengan kisah Arvan dan Damara.
Udah tamat ?
Beloooom masih panjang ini baru awalan, Damara dan Arvan harus bahagia lebih dari ini meski jalan terjal sudah siap menyambut kedatangan mereka.
Jadi tunggu update selanjutnya ya, love u all 💞
__ADS_1