Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Prostituta!


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu Damara belum mendapatkan fakta kebenaran tentang kehilangannya saat ia bayi. Damara sudah berusaha mengorek informasi dari Miranda, bahkan ia mendekati Mark demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Sampai sekarang Damara belum menemukan kepastian jelasnya.


Sore ini Damara memiliki janji dengan Miranda. Ia menunggu Miranda di depan pintu masuk pemakaman.


Damara tersenyum saat melihat dari kejauhan Miranda berjalan ke arahnya. Selama mengenal Miranda, Damara tidak menemukan hal mencurigakan dari adiknya.


“Maaf ya, Kakak  menunggu lama?” ujar Miranda sambil tersenyum pada Damara.


“Tidak papa, aku juga baru sampai kok.”


Miranda berjalan beriringan dengan Damara menuju pemakaman tempat ibu mereka di kebumikan. Sementara dua orang pengawal pribadi Damara mengikuti di belakangnya.


Tidak terlalu jauh dari pintu masuk Damara serta Miranda sampai di pemakaman ibu mereka.


Damara memperhatikan Miranda yang terisak, sambil memandangi makam orang tuanya. Sementara dirinya tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa haru sedikit pun.


Damara mendengar keluh kesah Miranda kepada makam ibunya mengenai sikap Papa yang menentang hubungan Miranda dengan kekasihnya. Tetapi ia memilih diam membisu.


 Entah mengapa akhir-akhir ini Damara selalu merasa kandung kemihnya mudah penuh. Bahkan di saat yang tidak tepat seperti ini dirinya ingin pergi ke toilet.

__ADS_1


“Miranda,” panggil Damara.


Miranda yang tengah fokus pada makam ibunya menoleh pada Damara. “Iya Kak,” sahut Miranda sambil menyeka air matanya.


“Aku ke toilet sebentar ya.”


Miranda mengangguk, “Oke Kak, aku tunggu di sini.” Miranda merasa belum selesai bercerita dengan ibunya, selama ini tempat pelariannya adalah makam sang ibu.


Dua pengawal mengikuti langkah Damara, namun langkahnya terhenti saat Damara membalikkan tubuhnya.


“Kau ikut aku,” tunjuk Damara pada salah satu pengawalnya. “Dan kau jaga adikku.”


“Baik Nona,” jawab mereka serempak.


Sore itu pemakaman cukup sepi, bahkan di toilet pun tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Damara masuk dan menuntaskan hajatnya.


Saat ia mencuci tangan di wastafel, Damara mendengar suara perkelahian. Ia mencoba menekan hendel pintu dengan perlahan, lalu mengintip dari celah pintu.


Jantungnya berdebar saat melihat empat orang menghajar habis pengawalnya. Tubuh Damara lemas seketika ia tidak membawa senjata apa pun saat ini, ia tidak mungkin berhasil mengalahkan mereka sendirian.

__ADS_1


Damara menutup pintu itu kembali dengan perlahan, ia berjalan mundur sambil memikirkan bagaimana bisa ia selamat dari sini.


Ia merogoh ponselnya untuk mencari bantuan, jarinya baru saja ingin menghubungi Jerricco namun suara pintu yang di dobrak membuatnya terkejut hingga ponsel di tangganya jatuh.


Rasanya Damara tidak bisa bernafas saat salah satu dari mereka tersenyum penuh kemenangan saat menginjak ponsel Damara.


‘Sial bagaimanapun aku tidak akan mampu melawan mereka berempat, apalagi tubuhnya tinggi besar’ batin Damara.


Damara mencoba memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk menyelamatkan hidupnya, jujur saja Damara ketakutan saat melihat mereka mendekat.


Saat tangan pria itu mencekal tangannya Damara memberikan perlawanan dengan menarik tangannya lalu memberikan pukulan. Tapi sayang sepertinya pukulan Damara tidak berpengaruh pada pria itu.


Pria itu mendorong tubuh Damara hingga membentur tembok. Damara meringis saat merasakan punggungnya yang terasa sakit, ia berusaha untuk memberikan perlawanan dengan memukul bagian perut pria itu.


“Prostituta!”


Damara mengepalkan tangannya berani sekali pria itu mengatainya ‘pel*cur’


Damara menendang bagian inti pria yang berani menghinanya, ia tersenyum puas melihat pria tersebut mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Hanya saja ia lupa bahwa masih ada tiga orang yang kini menatapnya tajam. ‘Sialan kenapa mereka banyak sekali’ batin Damara.


Sepertinya Dewi keberuntungan tidak berpihak padanya, mereka bertiga langsung memegangi lengan Damara dan menyeret tubuhnya keluar. Baru saja Damara ingin memberontak tapi punggungnya di pukul oleh seseorang dari belakang hingga Damara kehilangan kesadarannya.


__ADS_2