Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Italia


__ADS_3

Jet pribadi milik Jerricco telah mendarat sempurna. Jerricco keluar dengan Damara yang berjalan di samping mereka dengan Kevin yang berjalan di belakang di ikuti para pengawal Jerricco.


Robet menyambut kedatangan Jerricco ia membukakan pintu mobil untuk Jerricco, sementara Kevin membukakan pintu untuk Damara. Mereka berempat dalam satu mobil yang sama di kemudikan oleh Robert.


Sepanjang perjalanan hanya kebisuan yang menemani mereka. Sampai di istana Jerricco Damara tidak bisa menutupi keterkejutannya melihat bangunan megah. Sesampainya di istana, mereka semua turun dari mobil.


Jerricco menggenggam tangan Damara, para body guard berjejer rapi di depan pintu masuk utama kediaman Jerricco. Mereka membungkuk memberi hormat pada Jerricco dan wanita yang tangannya di genggam Jerricco. Kepala pelayan membungkuk memberikan senyuman pada Jerricco.


Jerricco mengangkat tangannya menandakan bahwa ia tidak membutuhkan sesuatu. Kakinya mulai melangkah menuju sebuah kamar yang sudah ia minta siapkan sebelumnya. Damara hanya memandang takjub setiap interior yang terlihat  jelas di depannya.


Damara merasa di bawa ke dalam sebuah cerita dongeng yang menyuguhkan istana megah. Saat Jerricco membawanya menuju sebuah ruangan, pintunya terbuka begitu saja saat langkah mereka semakin dekat.


Damara memang terlahir dari keluarga sederhana dan ia benar-benar takjub, ada rasa tidak percaya diri. Tapi dia yakin Jerricco tidak sembarangan memilihnya, mungkin ini sebuah nikmat yang tuhan berikan setelah ia bersusah payah.

__ADS_1


Ternyata Jerricco membawa Damara ke sebuah kamar, Damara sudah tidak bisa berkata-kata lagi kamar yang akan mereka tempati empat kali lebih besar dari kamar milik mereka yang berada di Indonesia. 


Jerricco menuntun Damara untuk duduk di atas tempat tidur, ia menatap Damara yang masih mengagumi isi rumahnya. “Kenapa?”


“Aku masih tidak percaya menikah dengan pria sekaya ini.”  Jerricco hanya tersenyum menanggapi ucapan Damara.


*** 


Damara sudah menyiapkan pakaian tidur Jerricco, kini ia duduk di pinggiran tempat tidur sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. 


“Kenapa sayang?” Damara menghentikan aktivitas memijat kepalanya lalu tersenyum pada Jerricco, pipi Damara terasa panas. Sudah dua hari ini Jerricco selalu memanggilnya dengan sebutan sayang. 


“Aku hanya pusing,” jawab Damara.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu pusing?” Jerricco berjalan menghampiri Damara lalu berdiri tepat di depan istrinya menatap bola matanya yang tampak lelah.


“Satu minggu ini aku belajar bahasa Italia tapi aku hanya mengerti belum misa mengucapkannya. Aku masih belepotan,” keluh Damara dengan wajah sedihnya.


Jerricco memberikan kecupan lembut di kening Damara, “Jangan terlalu keras pada diri kamu sendiri sayang.”


Damara memeluk tubuh basah Jerricco dengan posisi duduknya, kepalanya ia sandarkan pada perut Jerricco. “Tap-“ ucapan Damara di potong oleh Jerricco.


“Aku tidak memaksamu bisa berbicara bahasa italia dalam waktu singkat, semua butuh proses.” Dengan lembut Jerricco mengusap rambut Damara, ada perasaan bahagia melihat Damara yang tidak malu-malu lagi. Bahkan Damara manja seperti ini jika di waktu-waktu tertentu.


Damara memilih diam tidak mengomentari ucapan Jerricco, pelukannya lebih erat seakan dia takut kehilangan Jerricco. Satu minggu ini jangan tanya berapa kali ia berhubungan badan dengan Jerricco, bahkan tubuhnya sampai lelah.


Tetapi rasa nyaman dan debaran di dadanya tidak pernah hilang jika berada sedekat ini dengan Jerricco, meskipun Damara bisa mengontrol debaran dadanya.

__ADS_1


__ADS_2