Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Perbandingan


__ADS_3

“Aku mau pakai baju dulu,” ucap Jerricco lembut.


Damara melepaskan pelukannya, setelah melihat Jerricco yang masuk ke walk in closet Damara berjalan menuju balkon kamarnya. Ia membuka jendela besar yang mengarah ke halaman depan, embusan angin malam menyapa tubuhnya. 


Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya berusaha menghilangkan penat pada tubuhnya. Satu minggu ini dia belajar banyak tentang Jerricco, begitu juga dengan bahasa Italia. Awalnya terasa mengasikan tetapi semuanya terasa menjadi beban berat, Damara menikah dengan pria nomor satu di dunia.


Dia harus memiliki etika dan menguasai bahasa di Negara ini untuk pantas mendampingi Jerricco. Damara tidak ingin suatu saat nanti Jerricco merasa bahwa Damara wanita yang tidak pantas bersanding dengannya.


Damara tersentak mendapati tangan kekar yang melingkar di perutnya, “Sayang kau mengejutkanku.”


“Aku tidak mengejutkanmu, tapi kamu yang keasyikan melamun.” Jerricco paling senang memeluk Damara dari belakang ia menghirup aroma leher Damara.


“Jangan.” Tolak Damara, ia tahu Jerricco bernafsu jika sudah mencium ceruk lehernya.


“Kenapa?” 


“Aku sedang datang bulan.”


“Lagi?”

__ADS_1


Damara mengangguk, “ Aku bisa haid dalam satu bulan jika stres dan kelelahan.” 


Jerricco melepaskan pelekukannya dan memutar tubuh Damara agar berhadapan dengannya. Dia tidak masalah jika tidak bisa bermain, tapi mendengar ucapan Damara barusan membuatnya khawatir.


“Aku akan meminta Kevin menghentikan proses belajarmu, kamu butuh istirahat.”


Damara menatap lekat mata Jerricco, “Jangan.”


Jerricco menaikkan satu alisnya mendengar penolakan Damara.


“Aku masih harus banyak belajar.” Damara menundukkan kepalanya. “Sampai aku merasa pantas menjadi pendampingmu,” lirih Damara.


“Aku,” Damara meneteskan air matanya.


Jerricco mengusap air mata Damara, “Kau pantas untukku.”


“Aku merasa tidak pantas. Aku hanya wanita dari kalangan bawah yang kau paksa ikut ke duniamu. Aku ingin kehadiranku tidak akan membuat kekacauan yang berarti.”


Damara pernah mendengar ada beberapa pelayan yang membicarakannya, bahwa Mira lebih baik dari Damara. Yang Damara dengar Mira pandai melukis dia ramah dan baik.

__ADS_1


“Kenapa kau bisa berbicara seperti itu?” Jerricco tidak habis pikir mengapa Damara tiba-tiba berbicara seperti itu.


“Ini fakta, mungkin memang seharusnya aku ada di Indonesia saja. Aku tidak pantas bersanding denganmu,” rasa sakit itu jelas nyata. Tidak ada seorang pun yang ingin di banding-bandingkan, meskipun hubungan mereka sudah jauh lebih baik tapi Damara tidak tahu isi hati Jerricco. 


‘Apa Jerricco mencintaiku?’


“Berhenti berbicara seperti itu, aku tidak suka mendengarnya.” Jerricco membawa Damara ke dalam pelukannya, suara tangis Damara terdengar menyayat hati. Tapi Jerricco tidak tahu apa yang membuat Damara seperti ini.


“Apa aku berbuat salah padamu? Katakanlah.”


Damara menggelengkan kepalanya ia memilih membenamkan wajahnya di dada Jerricco dengan rasa sakit di hatinya. Ia bisa saja berbicara bahwa Damara iri dengan Mira yang di banggakan sementara dirinya bukan siapa-siapa. Damara hanya mengerti yang mereka ucapkan tapi untuk berinteraksi dengan mereka Damara masih ragu. Ia belum fasih  itu untuk berbicara bahasa luar, yang jelas makanannya sehari-hari bahasa Indonesia.


Jerricco hanya diam mencoba menangkan Damara dengan mengelus punggung sang istri. Setelah tidak lagi mendengar isakan Jerricco menjauhkan tubuh Damara yang menempel padanya.


“Aku tidak tahu apa yang membuatmu terganggu seperti ini, bicara supaya aku mengerti.”


Damara mencoba menarik nafas dalam-dalam, ia harus dengar dari mulut Jerricco sendiri.


“Apa aku lebih buruk dari dia?” Jerricco mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan yang di lontarkan Damara.

__ADS_1


 


__ADS_2