Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Buruk Rupa


__ADS_3

Sebelum memulai latihan menggunakan senjata api, Damara harus mengikuti pemanasan dan teknik dasar bela diri terlebih dahulu.


Damara tidak tahu sudah berapa lama ia berlatih, yang jelas kini tubuhnya terasa lelah, serta kakinya kembali berdenyut.


Semangatnya tidak surut karena pria yang melatihnya sudah membawa senjata api.


Dari kejauhan Robert memperhatikan Damara yang tampak serius menyimak penjelasan Alton, pelatih yang di pilih khusus oleh Jerricco.


Alat yang terpasang di telinganya khusus untuk berinteraksi dengan Jerricco, mengeluarkan suara. “Sudah hentikan, istriku kelelahan!”


Mendapat perintah dari Jerricco, Robert menepuk tangannya satu kali. Dengan sigap Alton mengalihkan perhatiannya pada Robert.


“Latihan hari ini sudah cukup!”


Damara ingin protes ia masih ingin mempelajari lebih jauh sengaja api yang baru saja ia pegang.


“Mari Nona,” perintah Robert.


Dengan berat hati ia memberikan senjata tersebut pada pelatihannya. Ia berjalan mengikuti Robert yang berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Damara tidak tahu pasti ia di bawa ke mana, yang jelas sepanjang jalan yang ia lewati hanya lorong panjang.


Damara memperhatikan setiap pintu yang berjejer rapi, seperti sebuah asrama.

__ADS_1


Robert menghentikan langkahnya di salah satu pintu, tangganya membuka hendel pintu.


“Selamat beristirahat Nona.”


“Kita tidak pulang?” Damara memberanikan diri mengeluarkan suara, dia ingin bertemu dengan Jerricco di rumah.


“Tidak Nona, selama masa latihan Nona akan tinggal di sini.”


“Tuan Jerricco …,” Damara bingung harus berbicara apa pada Robert, jika dengan Kevin mungkin ia tidak akan secanggung ini.


“Nona tidak perlu mengkhawatirkannya, Lord Jerricco baik-baik saja.”  Robert sengaja berbicara seperti itu, ia tahu betul bahwa Damara ingin bertemu dengan Jerricco.


Damara hanya diam membisu dia tidak tahu harus berbicara apa lagi.


“Iya, terima kasih,” jawab Damara singkat.


“Kalau begitu saya permisi Nona,” Pamit Robert.


Damara mengangguk, ia menatap punggung Robert yang berjalan dengan santai di lorong tadi yang mereka lewati. Setelah punggung Robert menjauh ia memilih masuk lalu menutup pintu.


Maniknya menyapu seisi ruangan, terdapat tempat tidur Queen size dengan seprai putih. Sebuah nakas kecil di samping tempat tidur. Jendela berbentuk persegi panjang di samping tempat tidur menarik perhatiannya.


Damara berjalan mendekat dan membuka tirai tersebut, matahari terlihat hampir tenggelam di ufuk barat. Ia menghembuskan nafasnya saat mengingat momen sunset di pulau Jeju bersama Jerricco saat ia memutuskan untuk menjauh.

__ADS_1


Sampai saat ini masih belum ada kepastian tentang perasaan Jerricco kepadanya, Damara mengerucutkan bibirnya. “Bukannya hubungan sek*sual mampu menumbuhkan rasa cinta dan ketertarikan pada pasangan?”


Bodoh memang karena Damara berbicara seorang diri dan entah bertanya pada siapa, yang jelas ia hanya ingin mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. “Tapi kenapa sampai saat ini dia belum mencintaiku? … apa Mira terlalu cantik, atau aku yang terlalu buruk rupa?”


Damara mengambil ponselnya untuk membuka aplikasi kamera melihat penampilannya. “Sepertinya aku kalah cantik dengan wanita yang masih mengisi hati Jerricco,” ujar Damara dengan suara lesu.


Rasanya Damara ingin berteriak sekencang-kencangnya, apalagi mengingat kejadian semalam saat Jerricco meninggalkannya. Bahkan pertanyaan yang ia lontarkan tidak mendapat jawaban pasti dan sekarang ia malah di kirim ke tempat yang belum pernah ia kunjungi.


“Apa aku sama sekali tidak berarti bagimu?” Damara mengacak-acak rambutnya, ia melemparkan ponsel serta sling bag milikinya ke atas tempat tidur. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi.


Niat hati ingin berendam di dalam bathup untuk mendinginkan tubuh lelahnya, tetapi wajahnya muram seketika saat melihat kamar mandi simpel. Di dalamnya hanya ada wastafel, kloset dan bilik shower.


Mandi di bawah guyuran air tidak terlalu buruk bagi Damara, setidaknya ia bisa merasakan sensasi dingin dan segar untuk tubuhnya.


Berdiam diri di bawah shower ternyata cukup menyenangkan, hingga ia betah untuk berlama-lama menikmati rasa dingin pada kulit kepalanya.


Damara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pada tubuhnya, ia berjalan mendekati tempat tidur saat mendengar nada notifikasi pesan masuk. Ia menaruh harapan besar Jerricco yang mengirim pesan untuknya.


Dengan sigap ia menempelkan sidik jari tangannya, layar ponsel yang semula mati kini menyala sempurna. Bibirnya mengerucut, wajah Damara terlihat kesal bercampur sedih. Ia membanting ponsel ke atas tempat tidur.


Bagaimana tidak kesal, pesan yang masuk hanya promo dari kartu perdana yang ia pakai.


 

__ADS_1


__ADS_2