Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Coklat Hangat


__ADS_3

Manisnya coklat hangat mampu menyingkirkan perasaan kesal yang ada dalam diri Jerricco, ia memperhatikan Damar yang tengah asyik menikmati camilan dengan mata yang fokus pada layar ponsel. “Kau bisa gemuk jika makan berlebihan.”


Damara masih fokus pada layar ponsel. “Besok aku olah raga.”


Jerricco yang merasa di acuhkan menarik dagu Damara agar menatapnya. “Kau berbicara dengan siapa, aku ada di sini bukan di layar ponselmu.”


Damara mengerutkan keningnya, “Iya.”


Jerricco sedikit kesal mendengar Damara yang menjawab ucapannya secara singkat. “Untuk apa aku ke sini kalau menjadi pajangan rumah,” ketus Jerricco sambil menarik tangannya yang berada di dagu Damara.


Damara tersenyum simpul, “Lalu tujuan Tuan pulang ke sini apa?”


Jerricco tidak punya alasan pasti untuk pertanyaan Damara, yang pasti ada rasa rindu jika melihat foto pernikahan mereka. “Kenapa masih memanggilku Tuan? Aku bukan menikah dengan pembantu, panggil dengan benar.”


Damara sebenarnya agak risi jika harus memanggil Jerricco dengan sebutan sayang seperti yang pria itu inginkan. “Iya sayang.” Damara kembali menatap layar ponselnya ia sedang memilih dekorasi untuk acara lamaran Galang dan Icha.


Lagi-lagi Jerricco di acuhkan . Dia tidak tinggal diam, Jerricco menyimpan kepalanya di paha Damara sehingga ponselnya tertutup oleh kepala Jerricco.

__ADS_1


Damara menatap sorot wajah Jerricco yang berada di atas pahanya, ia menyimpan ponsel ke atas meja. Tangannya membelai rambut Jerricco, “Ada apa?” tanya Damara. Tidak bisanya Jerricco seperti ini, terkesan manja menurut Damara. Bahkan hari ini Jerricco terlalu berlebihan.


Jerricco memilih menutup kelopak matanya. “Tidak ada, aku hanya tidak suka di abaikan,” jawab Jerricco. Dia menikmati sensasi tangan Damara yang mengusap rambutnya.


Damara yang mengusap rambut Jerricco tapi malah dirinya yang mengantuk. “Aku ingin tidur.”


Jerricco bangun dari posisinya ia membawa Damara ke dalam pangkuannya. Damara tersenyum melihat sikap Jerricco yang berubah, meskipun tubuh mereka belum berhasil menyatu tapi Damara senang. Setidaknya Jerricco lebih perhatian dari sebelumnya.


***


Sinar mentari pagi menebus melalui celah gorden. Damara harus bersiap untuk pergi bekerja, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Jerricco dengan perlahan. Damara segera bersiap untuk pergi bekerja.


Jerricco membuka kelopak matanya yang terasa berat, ia melihat Damara yang sudah siap dengan kemeja kerjanya. “Kau pergi bekerja?”


“Iya,” jawab Damara tanpa menghentikan aktivitasnya menyisir rambut. Setelah siap Damara menatap Jerricco yang bersandar pada dipan, “Aku berangkat dulu.”


Jerricco mengangguk, ia melihat punggung Damara yang menghilang di balik pintu. Kepalanya terasa berat, Jerricco memijat pelipisnya menggunakan jari.

__ADS_1


Damara menghampiri Kevin yang tengah duduk di ruang depan. “Ayo!”


Seperti biasa Kevin menemani Damara untuk bekerja, ia berjalan mengikuti Damara. Dengan sigap Kevin membukakan pintu untuk Damara. Kevin sudah duduk di kursi kemudi ia melirik ke belakang, “Tuan tidak ikut nona?”


“Tidak, ayo jalan. Aku tidak ingin terlambat.”


Kevin mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Jerricco. Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu kini mereka telah sampai di pulau Kanawa.


Sinar mentari pagi serta angin yang berembus menyapa setiap tubuh yang berjalan di atas pijakan kayu yang membawa mereka ke bibir pantai Kanawa. Langkah Damara sudah normal seperti biasanya, kakinya sudah sembuh. Meskipun jika banyak berjalan ia masih merasakan sedikit ngilu di kakinya.


Seperti biasa Kevin masuk ke restoran tempat bekerja Damara. Dia duduk di salah satu meja sambil mengerjakan pekerjaannya. Sementara Damara masuk ke ruangan kerja, ia menatap beberapa berkas yang ada di atas mejanya.


Damara duduk lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, ia mencari nomor Jerricco untuk mengirimkan pesan.


[Aku sudah menyediakan roti lapis, untukmu di meja makan.]


Pagi tadi Damara memang menyempatkan waktu untuk membuat sarapan sederhana untuk Jerricco. Damara merasa harus bertanggung jawab sebagai istri, dan dari artikel yang ia baca cara memikat hati suami dengan masakan yang penuh cinta. Damara tersenyum mengingat bahwa dirinya tidak bisa memasak, sepertinya dia harus ikut kelas memasak untuk menarik perhatian dan cinta Jerricco.

__ADS_1


__ADS_2