Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Handuk Putih


__ADS_3

Acara pemberkatan sudah selesai. Damara berjalan menghampiri sang Ibu, lalu memeluknya erat dengan ari mata, ada rasa bahagia serta kesedihan di wajah Damara.


Bahagia karena sang Ibu menyaksikan saat ia menikah, meskipun pernikahan tanpa cinta. Setidaknya ada keluarga yang bisa menyaksikan pernikahannya, meskipun tidak ada Papa dan sang adik.


“Kamu harus jadi istri yang baik, tanamkan selalu janji suci di hatimu.” Ibu memberikan petuah untuk Damara, ia mengelus punggung Damara yang memeluknya.


Damara melepaskan pelukannya, di tatapnya sang ibu yang berlinang air mata. “Iya Bu, Rara janji.”


Jerricco berjalan menuju Damara dan ibunya. “Ibu Alice, saya meminta ijin untuk membawa Damara,” ucap Jerricco dengan sopan.


Damara tidak setuju dengan ucapan Jerricco. “Tapi tuan, saya tidak bisa meninggalkan ibu saya,” protes Damara.


“Rara, Jerricco suami kamu. Tidak boleh seperti itu. baru saja kamu mengucapkan janjimu.” 


“Tapi Bu-“ 


Alice memotong ucapan anaknya, “Damara!” 


Damara memilih diam, suara sang ibu memang terdengar pelan tapi penuh penekanan. Itu artinya sang ibu tidak ingin di bantah, “Tapi Ibu jaga kesehatan ya,” pinta Damara.


Alice ibu Damara menganggukkan kepalanya, “Iya, kamu baik-baik di sana.”

__ADS_1


Damara menghambur ke pelukan sang Ibu, dia pasti akan sangat merindukan pelukan hangat ini.


Kevin menunduk hormat pada Jerricco, “Lord mobil sudah siap.”


Alice menatap Arvan, “Ibu titip Damara, jaga dia baik-baik.”


“Baik Bu, terima kasih.”


Damara menatap tangannya yang di genggam Jerricco, “Ibu, Rara duluan.”


Alice tersenyum pada anaknya yang terlihat sedih, “Iya.”


Damara mengikuti Jerricco dan berjalan beriringan, beruntung gaun yang ia pilih tidak merepotkan orang lain. Damara masih bisa berjalan tanpa perlu bantuan orang lain, Damara duduk di sebelah Jerricco.


Tidak lama dari gereja tersebut mobil yang di kendarai Kevin sampai ke istana milik Jerricco. Damara tidak terkejut saat mobil yang mereka kendarai memasuki rumah mewah, karena Jerricco bukan lah orang biasa.


Kevin turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Jerricco, sementara Damara memilih membuka pintu sendiri.


Jerricco dan Kevin berjalan memasuki rumah, di ikuti Damara yang mengekor di belakang mereka, perasaannya tidak karuan dia ingin segera istirahat.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka, dan membungkuk memberi hormat.  “Ada yang bisa saya bantu, Lord.”

__ADS_1


“Antarkan Damara ke kamar saya,” Perintah Jerricco.


“Baik, Lord.” Pelayan tersebut tersenyum pada Damara, “Mari, Nona.”


Setelah Damara dan pelayan tersebut menjauh Jerricco menatap Kevin. “Siapkan pesawat, besok saya akan kembali ke Italia.”


“Baik, tuan.”


“Kamu urus semua kebutuhan Alice, pastikan kehidupannya terjamin.”


Pelayan di  rumah itu membukakan pintu kamar Arvan, “Silakan Nona.”


“Terima kasih.”


Pelayan tersebut mengulas senyum mendengar istri dari raja dunia, mengucapkan terima kasih pada seorang pelayan.


Damara masuk ke kamar milik Jerricco, ada perasaan lega saat melihat koper miliknya ada di kamar Jerricco. Dia membuka koper tersebut lalu membawa baju ganti untuk dirinya.


Sebelum masuk ke kamar mandi, Damara membuka gaunnya terlebih dahulu. Dia melepas semua kain yang ada di tubuhnya, lalu melilitkan handuk ke tubuh polosnya.


Damara mengambil tas makeup yang ada di kopernya, dia ingin membersihkan wajahnya. Beruntung di kamar Jerricco ada meja rias, yang tampak kosong. Damara duduk di sana dia mengeluarkan makeup remover miliknya.

__ADS_1


Damara terkejut saat melihat Jerricco masuk ke dalam kamar, ia menggigit kecil bibir bawahnya. Berusaha mengabaikan kehadiran Jerricco, Damara membersihkan seluruh makeup-nya dengan cepat.


__ADS_2