
Damara terganggu dari mimpi indahnya saat merasakan kecupan di keningnya serta aroma khas parfum Jerricco. Ia membuka kelopak matanya dan tersenyum melihat Jerricco yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
“Kalau mau pergi kabari aku, jangan pergi sendirian.”
Damara menganggukkan kepalanya sambil berusaha membuka seluruh kelopak matanya. “Hati-hati,” ucap Damara dengan suara khas bangun tidur.
Melihat punggung Jerricco menghilang di balik pintu, Damara mencoba bangkit dari tidurannya, lalu duduk. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di sisi tempat tidurnya. Ia mencoba menghubungi Alice.
“Halo Bu.”
[Iya halo}
“Ibu apa kabar, sehat?”
[Ibu sehat, kamu bagaimana di sana merindukan ibu tidak?]
“Rara rinduuu banget sama masakan Ibu,” ujar Damara sambil terkekeh.
[Oh jadi hanya rindu dengan masakannya]
“Rara rindu sama Ibu, mungkin nanti kalau ada waktu senggang Rara main ke sana.”
[Iya, Ibu tunggu]
__ADS_1
“Bu,” panggil Damara pelan.
[Iya]
“Miranda menemui Ibu?” Damara menunggu jawaban Alice dengan hati yang sedikit berdebar.
[Iya, Miranda menemui Ibu, wajahnya mirip denganmu]
“Apa saja yang di katakana Miranda pada Ibu?” Damara menyimak cerita dari Alice, ia menyimpulkan bahwa yang di katakan Miranda kepadanya persis seperti yang keluar dari mulut ibunya. ‘Miranda memang tidak berbohong dengan ceritanya, apa itu artinya Miranda orang baik?’ tanya Damara pada dirinya sendiri.
“Ibu kenapa bisa menemukan Rara, sementara Papa Mark bilang bahwa Rara hilang.”
[Ibu tidak tahu soal kehilangan kamu, yang pasti ibu mengambil kamu dari salah satu panti asuhan tempat Papa bekerja]
[Saat itu Ibu kehilangan bayi yang ibu lahirkan, saat melihat kamu Ibu seperti mendapat harapan baru dan kami memutuskan untuk mengadopsi Rara]
Rasa nyeri itu jelas tergambar di hatinya, satu butir bening keluar dari kelopak mata Damara. Semuanya terdengar janggal bagaimana bisa Ia di culik namun di temukan Alice di panti asuhan, mengapa penculik itu tega sekali memisahkan dirinya dari keluarga kandungnya kalau hanya untuk di buang ke panti.
“Kenapa Ibu bisa mengangkat Rara padahal jelas saat itu Rara bayi hasil penculikan. Itu artinya Rara dalam masa pencarian?”
[Ibu tidak tahu sayang, sungguh] Damara mendengar Alice menarik nafas sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
[Karena saat itu kamu hanya di simpan di depan pintu panti asuhan, kamu di temukan oleh ibu panti]
__ADS_1
Damara menghela nafasnya andai saja dua puluh delapan tahun yang lalu ada kamera CCTV mungkin Damara ingin mengecek kebenarannya.
“Terima kasih Bu sudah membesarkanku, Rara sayang ibu.”
[Sama-sama sayang]
“Ibu baik-baik ya di sana.”
[Iya]
Damara menutup teleponnya dengan kepala yang terasa berat, semua fakta yang ia dapat membuat pikirannya sedikit kacau.
Sementara di seberang sana Alice menangis tersedu-sedu, tangannya mengepal erat. Ia telah berhasil menjadi pembohong ulung pada Damara putri kesayangannya.
“Maafkan Ibu Ra, Ibu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada kamu,” lirih Alice.
Telepon yang di genggamnya berbunyi kembali, ia melihat Mark yang meneleponnya. Dengan cepat Alice menekan tombol hijau, “Iya Tuan.”
[Jangan pernah berani membuka mulut sedikit pun, atau kau tahu akibatnya]
Alice tahu betul bagaimana Mark, bahkan tanpa segan Mark mengambil nyawa Arga di depan matanya. Karena Alice dan Arga ingin menyerah dan mengakhiri sandiwara yang di buat Mark.
“Ba-baik Tuan,” ucap Alice dengan nada gugup. Alice tidak ingin putra sulungnya mati di tangan Mark seperti Arga suaminya.
__ADS_1