
Damara masuk ke ruangan Icha, di sana ada Galang yang tengah duduk di kursi yang berada tepat di samping Icha yang memejamkan matanya.
“Pak Galang,” panggil Damara. Galang melihat Damara dengan wajah datarnya seperti biasa.
“Ini tas milik bapak,” ucap Damara sambil memberikan tas milik Galang yang tertinggal.
“Terima kasih.”
Damara membalas dengan senyuman, “Bagaimana keadaan Icha Pak.”
Damara memperhatikan tangan Galang yang membelai pipi Icha, “Dia baik-baik saja, hanya luka kecil tidak ada yang perlu di khawatirkan.”
Damara mendengar jelas suara Galang yang terdengar santai, tetapi dari sorot matanya Damara bisa melihat kesedihan di mata Galang saat memperhatikan wajah Icha.
Ada rasa iri di hati Damara melihat perhatian yang tulus dari Galang untuk Icha. ‘Kapan aku bisa merasakannya?’
Galang berdiri dari tempatnya, tanpa rasa malu di perhatikan Icha ia memberi kecupan singkat di kening Icha. Lalu berjalan menuju sofa, “Kemari, saya ingin mengetahui laporan restoran bulan ini.”
__ADS_1
Damara duduk berhadapan dengan Galang, dia menjelaskan semua laporan yang sudah dia rekap, mengenai menu baru yang akan di keluarkan serta pemasarannya dan stok bahan baku yang di butuhkah. Tidak hanya itu Damara juga mengajukan beberapa barang-barang yang suda usang dan mengganti yang baru untuk memenuhi standar yang berlaku.
Galang sangat puas dengan Damara yang menjabat menjadi manajer di restorannya, selain gigih Damara tidak pernah memihak pada siapa pun dia selalu bersikap netral. Bahkan Galang sangat bangga karena Damara berhasil menggagalkan rencana penggusuran bangunan di pulau Kanawa.
“Apa masalah penggusuran itu benar-benar selesai, atau hanya di tunda?” tanya Galang dengan rasa penasaran.
“Saya telah membuat kesepakatan dengan penguasa baru pulau Kanawa, Tuan Jerricco mau membatalkan penggusuran dengan syarat tidak boleh mencemari pulau, setiap limbah harus di olah sebaik mungkin supaya tidak mencemari laut dan tanah Kanawa.” Damara sengaja berbohong yang penting semuanya aman, dan dia masih bisa bekerja.
“Hanya itu? … bukannya kalau pembangunan yang tuan Jerricco rencanakan akan menguntungkan baginya, kalau seperti ini caranya keuntungan dia di dapat dari mana?”
“Jangan berbohong Damara,” tegas Galang dengan tatapan penuh selidik.
Damara menghela nafasnya, “Bapak memang tahu saya seperti apa, saya tidak bisa mengelak.”
“Kamu sudah empat tahun memegang resto jelas saya tahu bagaimana kamu, sekarang bicara perjanjian apa yang kamu buat dengannya?”
Damara diam memikirkan jawaban apa yang akan dia ucapkan untuk membungkam Galang. Damara melihat tatapan Galang pada jari manis, “Astaga!” batin Damara.
__ADS_1
“Kau menggadaikan dirimu demi pulau Kanawa?”
“Tidak pak,” elak Damara.
“Tidak perlu bohong kamu pikir saya bodoh. Jelas ada yang melapor pada saya bahwa kamu berjalan santai di saat jam kerja bersama tuan Jerricco di bibir pantai.”
Tubuh Damara lesu seketika, ucapan Galang semuanya benar dan sekarang terbongkar sudah sandiwara satu Minggu yang ia lakukan.
Galang mengacak rambutnya menggunakan tangannya, dia tidak habis pikir dengan keputusan sepihak yang Damara ambil.
“Kau benar-benar gila Damara. Hanya karena pulau Kanawa kamu merelakan masa depanmu, kita cari cara lain untuk melawannya agar kau tidak terus terikat dengan tuan Jerricco.”
“Tidak usah pak, tidak perlu.” Mohon Damara dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Saya tidak bisa tinggal Diam, saya tidak suka perempuan di perlakukan seenaknya seperti itu. Dan saya tidak suka dengan cara kamu!”
Galang memiliki seorang adik yang usianya sebaya dengan Damara, dan dia tidak bisa membayangkan jika adiknya ada di posisi Damara. Dia tidak akan pernah setuju, apalagi Damara sudah sangat dia percaya selama empat tahun ini untuk mengelola restorannya, dan dia sudah menganggap Damara keluarga.
__ADS_1