Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Anak Kecil


__ADS_3

Damara membuka kelopak matanya dengan perlahan, ia merasa asing dengan tempat ia terbangun. Tangan Damara memijat kening yang terasa berdenyut, setelah merasa lebih baik ia mengedepankan pandangan.


Damara masih ingat betul tempat ini, ‘Jet pribadi Arvan’. Damara melirik ke jendela, nafas lelahnya keluar begitu saja setelah melihat awan putih yang menjadi pemandangan di luar sana.


Saat suara pintu terbuka, Damara menoleh di sana ada Jerricco. Damara memberikan tatapan marahnya, “Kita pergi ke mana?” tanya Damara tanpa basa-basi.


Damara memperhatikan Jerricco yang duduk di sampingnya. “Ke Italia.”


“Apa?” pekik Damara.


Jerricco menuntun Damara merebahkan tubuh istrinya yang harus banyak beristirahat.


“Kenapa mendadak seperti ini, harusnya aku menghadiri acara lamaran Pak Galang,” lirih Damara.


Arvan menarik selimut hingga ke leher Damara. “Tubuhmu sakit seperti ini, tapi kau malah memikirkan orang lain.”


Damara tahu Jerricco tidak suka meskipun suaminya berucap dengan nada tenang. “Bukan seperti itu, aku mau pamit. Dan membawa barang-barangku sebelum aku ikut bersamamu.”


“Itu tidak penting.”

__ADS_1


Damara mengubah posisi tidurnya dengan memunggungi Jerricco, dia kesal pada Jerricco yang seenaknya.


Jerricco mengelus rambut coklat Damara dengan perlahan. “Kau marah padaku? ... Padahal aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu.”


Jantung Damara berdetak tidak karuan mendengar ucapan Jerricco. Kata-kata yang terdengar sederhana namun berhasil membuat pipi Damara bersemu merah.


“Istirahatlah, perjalanan ini masih memerlukan beberapa jam lagi untuk sampai di Italia.” Jerricco turun dari tempat tidur, ia berjalan meninggalkan Damara karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Setelah mendengar suara pintu tertutup Damara hanya diam meneliti setiap sudut di ruang pribadi milik Jerricco. Cacing di dalam perutnya berbunyi, tapi Damara malu jika harus memintanya pada Jerricco karena ia sedang marah pada Jerricco.


Damara memilih bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan keluar. Sampai di bagian kursi penumpang Damara melihat Kevin yang sedang fokus pada layar monitor di depannya.


“Kevin,” panggil Damara.


Kevin menoleh pada sumber suara, “Iya Nona.”


“Aku lapar,” ujar Damara sambil duduk di hadapan Kevin.


“Baik Nona, tunggu sebentar.” Kevin beranjak dari tempat duduknya untuk memesankan makanan.

__ADS_1


Damara mendengar suara derap langkah dari arah depannya, sepertinya Jerricco berjalan menghampirinya. Betul saja Jerricco kini duduk di hadapan Damara, sementara Damara memilih mengacuhkan Jerricco.  


Damara memilih memperhatikan keluar jendela yang berada di sampingnya.


“Kenapa kau tidak meminta padaku?”


Damara tahu pertanyaan yang keluar dari mulut Jerricco di tunjukkan kepadanya, tapi Damara memilih diam membisu seolah-olah tidak mendengar ucapan pria di depannya.


Jerricco menarik dagu Damara agar menatapnya, ia tidak membiarkan Damara memberontak. “Aku rasa kamu bukan anak kecil lagi, tidak perlu merajuk seperti ini.”


Damara mengatupkan bibirnya, hatinya memanas mendengar ucapan Jerricco. ‘Anak kecil katanya' batin Damara.


Jerricco menarik tangannya dari dagu Damara  saat Kevin menghampiri mereka, Kevin membawa nampan yang dia bawa.


Kevin membungkuk hormat sebelum menyimpan nampan di atas meja Jerricco dan Damara.


Damara menarik nampan agar dekat dengannya, ia mengambil garpu dan pisau untuk memakan steak yang di bawa Kevin.


Potongan daging masuk ke dalam mulut Damara, rasanya lezat tetapi di perhatikan intens oleh Jerricco membuat nafsu makannya hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2