
Jerricco sudah berpakaian rapi. Ia sudah siap untuk sarapan, namun bunyi notifikasi dari ponselnya menghentikan langkahnya. Jerricco berjalan mengambil ponselnya. Senyum di bibir Jerricco tercetak jelas setelah membaca pesan singkat yang di kirim Damara.
Jerricco berjalan dengan langkah sedikit tergesa menuju ruang makan. Benar di sana ada roti lapis yang tampak seperti roti lapis pada umumnya. Ia duduk memandangi roti lapis di atas piring tepat di hadapannya. Ada rasa tidak rela untuk memakannya tetapi roti lapis itu seperti melambai-lambai minta di masukan ke dalam mulutnya. Jerricco mengambil roti lapis itu, lalu mencicipi roti lapis buatan Damara dengan jantung yang berdebar.
Sepanjang memakan roti senyum Jerricco tidak pudar sedikit pun, rasa gembira tergambar jelas di wajahnya.
Jerricco mengambil ponselnya untuk membalas pesan Damara.
[Terima kasih, roti lapisnya enak. Besok kau harus buatkan untukku lagi] Jerricco menggelengkan kepalanya. Dia harus mencari ide lain agar Damara membuatkan roti lapis lagi tanpa perlu Jerricco minta. Jerricco menghapus pesan barusan dan jarinya kembali menari di atas layar ponselnya.
[Kau harus banyak belajar, roti lapismu biasa saja. Aku tunggu roti lapis yang lebih baik lagi besok pagi] pesan terkirim.
Sementara di ruang kerjanya Damar tengah fokus pada laporannya, namun perhatiannya teralih kan saat mendengar bunyi notifikasi dari Jerricco.
__ADS_1
Tangannya terulur mengambil ponsel dan membuka isi pesan dari Jerricco. Bibir Damara mengerucut melihat pesan singkat yang di kirim Jerricco. “Memangnya roti lapis yang enak seperti apa ya rasanya?”
Damara bangkit dari duduknya ia keluar dari ruangannya menuju tempat memasak. “Andri,” panggil Damara.
“Ada apa Bu?” tanya Andri pegawai di sana.
“Ajarkan aku cara membuat roti lapis yang enak,” mohon Damara.
Damara berkacak pinggang, “Aku bilangin Pak Galang kamu tidak mengikuti perintahku.”
“Yaelah Bu manajer ngancem … yaudah sini aku ajarin.”
Andri mengajari Damara teknik biasa yang ia buat untuk para pelanggan yang memesan roti lapis. Damara memperhatikan dengan saksama setiap ucapan dan peragaan Andri.
__ADS_1
Damara penasaran untuk mencicipi roti lapis buatan Andri. “Perasaan rasanya sama aja, kayak yang aku buat tadi,” ucap Damara setelah menelan roti lapis yang ada di mulutnya.
“Ya memang harusnya yang kayak gimana, orang roti lapis rasanya gitu-gitu aja,” Protes Andri. “Ada-ada saja kamu Bumen,” ledek Andri. Dia sedikit kesal karena Damara mengganggu waktu senggangnya.
“Enggak sopan kamu, liat saja pas gajian aku ambil separo punyamu,” ketus Damara lalu berjalan meninggalkan Andri yang geram melihat kelakuan manajernya yang tidak jelas.
Damara kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal, ia masih penasaran dengan roti lapis yang enak. Dia membuka layar laptopnya lalu mencari resep membuat roti lapis yang enak. Matanya sudah sayu akibat dua jam ia terus menatap layar laptop membuka setiap situs atau video cara membuat roti lapis yang enak tapi isinya sama saja tidak beda jauh.
Damara melipat kedua tangannya di atas meja, dengan kepala yang menelungkup di atas lipatan tangannya. “Astaga roti lapis yang enak itu yang seperti apa? Kenapa Jerricco meminta yang lebih enak,” lirih Damara.
Menurutnya Damara sudah membuat roti lapis sesuai dengan yang di ajarkan Andri dan yang ia lihat di web dan video memasak. Kepalanya sedikit berdenyut ia menyita waktu jam kerjanya demi mencari resep membuat roti lapis, tapi nihil semua sama.
Damara menegakkan kembali tubuhnya lalu mengusap wajahnya kasar menggunakan tangannya. “Oh Tuhan aku harus apa?”
__ADS_1