Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Mengharapkan Kebahagiaan


__ADS_3

Pagi itu Damara terbangun karena suara ketukan di pintu kamarnya, Damara melihat pada jam dinding dikamarnya yang menunjukkan pukul lima pagi.


“Rara,” panggil sang Ibu dari depan pintu.


“Masih pagi, Ibu. Nanti jam enam saja bangunkan Rara lagi, ini masih mengantuk,” ucap Damara santai sambil menutupi wajahnya menggunakan selimut.


“Rara itu ada sekretaris Jerricco di depan,” ucap Ibu sedikit berteriak.


Damara membuka selimut yang menutupi wajahnya, matanya membulat sempurna. “Siapa bu?” tanya Damara memastikan.


“Sekretaris Jerricco, kalau tidak salah namanya Kevvvv …. Kevin.” Ibu Damara menjeda ucapannya karena ia sedikit lupa nama pria yang datang di pagi buta.


Damara turun dari tempat tidur lalu membuka pintunya, tidak memedulikan rambutnya yang acak-acakan Damara menghampiri ibunya. 


“Kevin sekretaris Jerricco?” tanya Damara memastikan.


“Iya sekretaris Jerricco, tadi pria itu bilangnya seperti itu.”


“Ada perlu apa bu, Ini masih pagi?” tanya Damara dengan wajah kesalnya.


“Bukannya hari ini Rara menikah dengan Jerricco?”

__ADS_1


Bola mata Damara membulat sempurna, “Ibu tahu Jerricco?”


Melihat anggukan ibunya Damara mengernyitkan dahi, “Ibu kok tahu, Rara kan belum cerita?” tanya Damara penuh selidik.


Ibu tersenyum menanggapi pertanyaan Damara, “Jerricco ganteng, baik cocok sama kamu. Jadi waktu dia minta buat menikahi kamu ya ibu setuju.”


Damara menggaruk rambut singanya mendengar penuturan sang ibu, “Kapan Jerricco ke sini? Kok ibu enggak kasih tahu Rara?”


“Dua hari yang lalu kalau tidak salah,” ucap Ibu yakin.


“Jerricco ngomong apa saja sama ibu?” Damara harus tahu apa yang di bicarakan Jerricco pada Ibunya, hingga tidak ada rasa keberatan dari sang ibu untuk melepaskan dirinya menikah dengan Arvan dalam waktu hitungan hari.


‘Jangan-jangan’ batin Damara. “Pertemuan apa bu?” Damara masih penasaran dengan cerita sang ibu.


“Sudah kamu sana mandi, nanti saja ceritanya.” Ibu mendorong tubuh anaknya untuk masuk kembali ke kamarnya, untuk segera bersiap-siap.


Damara bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tidak membutuhkan waktu lama Damara sudah siap lalu membawa sling bag. Dia berjalan keluar kamar di sana ada ibu yang sedang membuat sarapan pagi.


“Ibu, Rara berangkat dulu ya.” Damara berpamitan pada sang ibu dengan memeluk tubuh ibunya sebentar.


“Semoga kamu bahagia ya, sayang.” 

__ADS_1


Damara menganggukkan kepalanya, “Iya bu, terima kasih … ibu nanti datang kan ke pemberkatan pernikahan Rara?”


“Ibu pasti datang, sayang.”


Damara tersenyum mendengar sang ibu akan datang, dia berjalan menuju ruang tamu. Di sana ada Kevin pria yang selalu di samping Jerricco.


“Mari nona, waktu kita tidak banyak.”


Mendengar suara tegas Kevin Damara mengangguk, ia berjalan mengikuti langkah Kevin menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya.


Kevin membukakan pintu untuk Damara yang akan menjadi istri dari Jerricco.


“Terima kasih.”


Damara masuk ke dalam mobil, saat mobil melaju ada perasaan gugup menyelimutinya. Hari ini untuk pertama kalinya Damara akan berada di atas altar dengan seorang pria dan mengucapkan janji suci pernikahan.


Damara menghela nafasnya, ia memandangi jalanan dari jendela mobil. Langit masih temaram, bahkan matahari belum muncul untuk menyambut pagi. 


Tapi kini kegelisahan menyelimuti hatinya, sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri dari Jerricco. Pria yang tidak pernah ada dalam bayangannya, apalagi pertemuan mereka bisa di hitung oleh jari.


“Tuhan, jika ini jalan takdirku. Aku mohon berikan kebahagiaan untuk pernikahan ini,” doa Damara di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2